Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Dia Daddy yang Buruk


°°°~Happy Reading~°°°


Setelah menyiapkan sarapan pagi itu, Ana menghampiri sang putra yang kini tengah berbaring di atas ranjangnya tanpa sedikitpun berniat bangkit dan keluar dari kamarnya.


Ana tau betul. Mallfin merasa tak nyaman karena keberadaan sang daddy yang turut menginap disana.


Diusapnya kepala sang putra penuh hangat. "Sayang... ."


Bocah laki-laki itu menoleh dengan wajah malasnya. " Ya, mommy."


"Tidak ingin keluar?"


Mallfin menggeleng lemah. "Ingin disini saja, mommy."


"Kenapa sayang?"


Pancing Ana. Siapa tau dengan seperti ini, Mallfin akan lebih terbuka dengannya. Dan perempuan itu harus menelan kekecewaan saat mendapat gelengan kepala dari sang putra. "Tidak apa-apa mommy. Mallfin hanya malas saja."


"Mallfin tidak nyaman ada daddy?" tebak Ana pada akhirnya.


Mallfin hanya diam membisu, tanda jika ia membenarkan ucapan sang mommy. Bocah laki-laki itu benar-benar tak suka jika daddy nya berada disini dan akhirnya merepotkan sang mommy saja.


Ana menghela nafas dalam. Tak mudah membuat Mallfin mengungkapkan perasaannya. Mallfin cenderung mandiri bahkan terkesan menutupi rasa tak nyamannya.


Dan sebelum mengambil keputusan itu, Ana harus memastikan bagaimana perasaan sang putra sebenarnya. Takutnya, Mallfin selama ini membenci sang daddy hanya karena kesalahpahaman semata. Atau bahkan karena dirinya yang dulu juga membencinya.


Meski sejatinya rasa ingin menolak itu begitu besar, namun ia tak ingin egois, anak-anak lebih membutuhkan Marcus dari pada hanya tinggal bersamanya yang penuh akan kekurangan.


"Sayang..." Ana menaikkan dagu sang putra yang hanya diam menunduk, membuat Ana bisa menatap wajah penuh kesedihan itu dengan jelas


"Jangan menutupi apapun dari mommy. Mallfin harus terbuka dengan mommy agar mommy bisa mengerti bagaimana perasaan Mallfin sebenarnya."


Mallfin menghela nafas dalam. "Orang itu-- orang itu yang membuat mommy bersedih. Dia yang membuat mommy selalu menangis." Aku Mallfin.


Ana memejam. Perasaan Mallfin tidak sesederhana yang ia bayangkan. Rupanya kebencian itu telah tertanam kuat di hati itu. Dan Ana tak rela, jika kebencian itu akan membuat sang putra tersiksa dengan perasaannya sendiri.


"Sayang, bukan begitu--" Digenggamnya tangan mungil itu.


"Daddy tidak pernah meninggalkan Maurin dan Mallfin--"


"Saat itu, mommy dan daddy berpisah dan tidak pernah bertemu lagi. Daddy tidak tau kalau di dunia ini ada Maurin dan Mallfin. Daddy tidak pernah meninggalkan kalian, sayang." Aku Ana apa adanya. Marcus memang tidak pernah meninggalkan anak-anaknya. Laki-laki itu bahkan tidak tau perihal kehamilannya.


"Tapi tetap saja daddy selalu membuat mommy menangis, Mallfin tidak suka." ujar Mallfin tak terima.


"Mommy sudah memaafkan daddy, sayang. Hanya kesalahpahaman, dan sekarang semua sudah baik-baik saja. Heummm... Maukah Mallfin memaafkan daddy?"


Mallfin masih diam membisu.


"Daddy sangat menyayangi kalian, sayang. Buktinya saja tadi siang Daddy melindungi kalian. Daddy juga rela tidur di bawah untuk menjaga kalian."


Mallfin menatap manik itu ragu. "Apa mommy benar-benar memaafkan daddy?"


"Ya, tentu saja. Sesama manusia harus saling memaafkan. Jika kita menyimpan kebencian, nanti membuat hati kita menjadi sakit. Lepaskan sayang, lepaskan kebencian itu agar ia tidak bisa menyakiti Mallfin."


"Maukah Mallfin memaafkan daddy?"


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Hari ini othor sudah triple up loh ya, hihihi


Happy reading semua


Saranghaja 💕💕💕