
°°°~Happy Reading~°°°
"Daddy shudah shembuh? Eundak uwek-uwek egin?"
"Yes girl, daddy akan menemani putri daddy yang cantik ini berlibur."
"Daddy shius mau teumani Molla dallan-dallan? Eundak pappa? Nanti daddy eundak uwek-uwek egin di dalan?" Lihat saja, di saat teman-temannya ngotot ingin berlibur dengan keluarganya, gadis kecil itu lebih mementingkan kesehatan daddy nya yang tengah di landa sindrom couvade atas kehamilan istrinya.
"Tidak girl. Daddy sudah sehat sekarang. Daddy akan menemanimu bersama mommy dan baby Lucien."
"Teullima kashih, daddy."
"Kembalilah bermain dengan teman-temanmu sayang." Seru Hanna, tau jika kedua teman putrinya itu menanti Maura untuk kembali bergabung dengan komplotannya.
"Tuan David. Perkenalkan, dia musuhku. Marcus."
Membuat Marcus seketika itu berdecak. "Kau tidak cukup baik untuk memperkenalkan seseorang pada temanmu, Vell. Oh, im so sorry. Maksudku, calon besanmu. Iya kan?"
Membuat David sontak saja tertawa sumbang. "Oh tidak. Tolong anda jangan mempercayai tuan Marvell. Itu hanya gurauannya saja yang sangat tidak lucu."
"Wait wait. Tentu saja aku serius dengan ucapanku, tuan David. Aku sudah sangat menyukai putrimu. Jika bisa, aku akan melamarnya sekarang juga untuk putraku. Aku takut aku akan di serobot orang lain. Jadi lebih baik aku melamarnya sekarang. Bukankah begitu?"
Mendengar ide konyol sang daddy, membuat bocah laki-laki itu sontak menghela nafas dalam. "Daddy a recommencé ? Tu vois, je vais faire en sorte que maman vire daddy de la chambre." Ancam Arsha dengan bahasa andalannya yang tentu tak akan diketahui oleh sang mommy.
(Daddy mulai lagi. Lihat saja, aku akan membuat mommy menendang daddy dari kamar.)
"Sepertinya anda dalam masalah sekarang, tuan Marvell?" Seru David merasa di atas angin. Untung saja bocah ingusan itu menolak tawaran absurd dari daddy nya. Kalau sampai bocah itu menerimanya, sudah pasti rasa tak sukanya itu akan semakin memuncak.
"Lebih baik kita berangkat sekarang, anak-anak sudah tidak sabar sepertinya." Seru Anelis, meski tak mengerti akan ucapan sang putra, namun dapat dipastikan jika ayah dan anak itu tengah berdebat saat ini.
Ketiga keluarga kecil itu kemudian bergerak memasuki mobilnya masing-masing. Sedang anak-anak memilih menempati mobil terpisah dari orang tuanya atas rekomendasi dari sang ketua geng, Arshi.
"Bagus juga ide gadis kecil itu, sekarang kita jadi bisa berduaan kan sayang?" Seru Marcus meringsek ke rengkuhan sang istri, membuat Ana seketika itu mendelik. "Mas, ngga enak sama supirnya." Seru Ana melirik supir di depannya dengan sungkan.
"I need privacy." Seru Marcus menginterupsi.
"Yes sir."
Seketika itu pembatas diantara kursi depan dan kursi belakang perlahan naik. Membuat sang supir tak lagi dapat melihat apa saja yang akan terjadi di kursi belakang penumpang.
"Sekarang kita sudah punya privasi sendiri, sayang. Tidak masalah jika kita ingin bermesraan disini. Bagaimana?"
"Ini di mobil, mas."
"Ya, siapa bilang kalau sekarang kita sedang ada di kamar?"
"Mas... Ana serius."
"Mas juga serius."
Perempuan itu mencebik. Suaminya benar-benar tidak mengerti situasi.
"Mas janji tidak akan melewati batas kali ini."
Laki-laki itu kemudian meraup bibir istrinya, menciumnya, meluma*tnya hingga menciptakan deru nafas yang tak beraturan diantara keduanya.
"Cukup, mas."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕