
°°°~Happy Reading~°°°
Kehebohan turut terjadi di kediaman milik Marcus. Maurin yang tidak mengetahui perihal kepergian kedua orang tuanya itu pun dibuat menangis histeris, merasa di tinggalkan.
"Hwaaa... Mommy shama daddy dahat, tinggal-tinggal Mollin sheundilli. Ayo Apin teupat-teupat, kita calli mommy shama daddy sheukallang! Mollin mau engli-engli!!" Sungut Maurin berapi-api. Tangan kecil itu menarik-narik pergelangan tangan Mallfin, memaksa bocah laki-laki itu untuk mencari dimana keberadaan kedua orang tuanya yang pergi tanpa pamit.
"Calm down, Maurin." Seru Mallfin. Hafal sekali akan perangai sang kembaran yang tak sabaran.
"No no komdom! Mollin mau sheukallang!!!" Sungut Maurin.
"Stop Maurin. Jika kamu masih seperti ini, Mallfin tidak akan menemani kamu mencari mommy sama daddy!!" Tegas Mallfin. Membuat gadis kecil itu pun semakin melengkingkan tangisnya.
"Hwaaa.... Apin dahat, Apin engli-engli shama Mollin. Mommy shama daddy dahat shemua na. Hwaaa... ."
Hingga suara melengking mama Elena itu berhasil menghentikan tangis yang menggema. "Sayang. Apa yang terjadi. Kenapa cucu granny yang cantik ini menangis, heummm..."
Membuat gadis kecil itu sontak menghambur dalam rengkuhan mama Elena. "Glanny. Hiks. Mommy shama daddy tinggal-tinggal Mollin sheundilli shini. Mommy shama daddy dahat. Apin dahat. Shemua na dahat shama Mollin. Hiks." Adu Maurin penuh sesenggukan.
"Ohhh, tidak sayang. Mereka tidak meninggalkan Maurin. Mommy dan daddy harus ke rumah sakit."
"Lumah tatit? Mommy Mollin tatit, glanny? Hwaaa... Mommy... Mollin mau mommy, hwa...." Tangis itu makin menjadi. Membuat mama Elena menepuk jidat frustasi. Salahnya tak langsung menjelaskan secara terperinci pada gadis kecil yang cerewetnya melebihi si Arshi.
"Oh tidak sayang, tenang dulu tenang. Mommy tidak sakit. Hanya saja, Mommy ke rumah sakit karena adek bayinya Maurin akan segera lahir."
"Mollin eundak dushten, Glanny shuppik-shuppik na banak sheukalli. hweee..." Keluh Maurin semakin terisak. Membuat mama Elena menarik nafas jengah. Ia memang tidak ada bakat untuk mengurus bayi kecil ini. Sepertinya hanya Ana yang sanggup menghadapi tingkah absurd si kecil Maurin.
"Adek bayinya Maurin akan lahir, sayang."
Mama Elena masih berusaha bersabar dan terus bersabar.
Allahu.
Kalau saja gadis kecil itu bukan cucunya, sudah mama Elena lempar gadis kecil itu sampai ke ujung dunia. Bicara dengan Maurin benar-benar membutuhkan stok kesabaran tingkat dewa. Apalagi dengan bahasa-bahasa planet yang dicetuskan oleh si kecil Arshi. Benar-benar harus menguatkan mental setebal baja.
"Adek bayinya Maurin akan meletus, sayang."
Membuat gadis kecil itu sontak saja memekik. "Glanny shius. Adek bayi mau mullutush?"
Kan kan. Maurin langsung paham. Untung saja ia sering mendengar cerita Clara yang sering menceritakan ke-absurd-an cucunya. Jadi sedikit banyak ia tau bahasa-bahasa gaul yang sering digunakan gadis-gadis kecil itu.
"Yes, of course."
"Glanny no kibull-kibull?"
"No. Granny no kibull-kibull." Timpal mama Elena meniru ucapan si kecil Maurin. Membuat gadis kecil itu sontak terkikik.
"Kummon glanny. Ayo kita lumah shakit teupat-teupat. Mollin eundak pashien look-look adek bayi oek-oek na Mollin mullutush. Hihihi... ."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Nama debay nya siapa ya enaknya, hihihi
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕