Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Tidak Akan Cukup


°°°~Happy Reading~°°°


"Menikahlah denganku. Mari membahagiakan anak-anak bersama."


Ana menghela nafas dalam. Dua minggu berlalu, namun sampai saat itu, Ana belum menemukan pilihan terbaiknya.


Ana tak ingin gegabah. Ia tak ingin asal mengambil keputusan begitu saja. Ini bukan hanya tentang dirinya dan laki-laki itu saja, namun juga anak-anaknya. Ia tak ingin mengorbankan salah satunya. Keduanya sama berharganya, lebih dari segalanya.


Mungkin Maurin akan bahagia atas pernikahan itu. Tapi tidak dengan Mallfin. Ada setitik kebencian yang masih mengganjal di hati itu.


"Saya tau anda berniat baik. Tapi tolong, beri saya waktu."


"Sampai kapan?" cecar Marcus.


"Sampai saya yakin dengan hati saya."


"Mungkin anda menganggap pernikahan ini hanya sebatas pertanggungjawaban anda. Tapi bagi saya, tidak. Pernikahan ini akan menentukan kehidupan anak-anak kedepannya."


"Maka dari itu menikahlah denganku, maka aku akan mencukupi segalanya."


"Anda salah. Bukan itu yang saya takutkan. Tapi Mallfin. Saya tidak ingin membuat anak saya lebih terluka dengan perasaannya. Maka beri saya waktu sejenak. Saya tidak ingin gegabah hanya dengan iming-iming anda semata."


Jujur Marcus tak mengira perempuan itu akan berpikir sejauh itu. Dikiranya perempuan itu akan langsung mengiyakan dengan jaminan hidup mewah darinya.


Lagi-lagi Marcus menilai rendah perempuan itu.


"Baiklah. Aku akan menunggu."


Sejenak hening. Marcus terdiam cukup lama hingga akhirnya kata maaf itu terucap.


"Maaf."


Membuat Ana sontak menoleh, menatap ketulusan pada manik mata itu.


"Maaf karena aku dulu pernah menyakitimu, Ana. Maaf karena membuatmu harus merasakan penderitaan selama ini. Sungguh, aku menyesal."


Ana merasakan ketulusan dalam setiap untaian kata yang terlontar dari bibir itu. Manik mata itu juga tidak bisa berbohong. Ada ketulusan di dalamnya.


"Saat itu, aku di jebak. Ku kira kau perempuan yang memang disediakan untuk melayani tam--"


"Cukup!"


Ana menyela. Mengingat semua itu, membuat Ana merasakan sesak. Tubuhnya gemetar. Perlakuan Marcus dulu benar-benar sulit untuk ia hilangkan dari memorinya.


"Semua sudah berlalu. Tolong berhenti. Tidak perlu membahasnya lagi."


Ada ketakutan yang tercetak jelas di wajah itu. Tubuhnya yang kini terlihat gemetar, Marcus dapat merasakannya.


Apa perempuan itu baik-baik saja?


"Apa kau baik-baik saja?"


"Apa kita sudah selesai? Saya harus kembali."


Raut wajah itu jelas menunjukkan jika Ana tengah tak baik-baik saja. Membuat Marcus sontak dilanda khawatir.


"Ya, kembalilah." Seru Marcus, mengalah.


Ana bangkit dengan menahan segala rasa tak nyaman dalam dirinya. Meski ia berusaha keras untuk menahan semua rasa takut yang menyeruak, namun nyatanya Ana semakin gemetar. Membuat tubuh itu limbung.


"Ana."


Marcus dengan sigap menopang tubuh rapuh itu. Membuat Ana sontak berada dalam rengkuhan itu.


Kilatan memori itu seketika menyeruak, membuat Ana sontak mendorong keras tubuh itu. Ana benar-benar trauma. Trauma itu sungguh menyiksa dirinya yang kini tak baik-baik saja.


"M-maaf." Nafasnya tercekat. Bulir air mata itu seketika luruh membasahi wajahnya yang memucat. Ketakutan itu semakin menjadi, Ana meremas ujung pakaian miliknya. Ingin menjauh dari sosok yang dulu pernah menorehkan luka menganga dihatinya.


"Apa kau baik-baik saja? Perlu aku panggilkan dokter?"


Marcus melihat jelas bagaimana ketakutan itu menyiksa perempuan itu. Apa ia telah menorehkan luka menganga di hati itu?


Penyesalan itu semakin membuncah pasti. Ia sadar, kesalahannya tak sesederhana yang ia pikirkan. Apa menikahinya saja sudah cukup untuk menebus segala kesalahannya?


Ana menggeleng cepat. Ia hanya ingin menjauh dari sosok itu dan mengunci diri di kamar mandi. "Saya harus masuk."


"Baiklah."


Ana berlalu cepat memasuki ruangan Mallfin. Sedang Marcus, laki-laki itu kembali mendudukkan diri. Hela nafas terdengar berat. Wajahnya menunduk dalam dengan ribuan penyesalan yang hinggap.


Apa ia telah menorehkan luka begitu dalam di hati itu? Apa luka itu sangat dalam hingga membuat perempuan itu trauma akan kejadian masa lalu?


Marcus menghela nafas dalam.


Dalam hati merutuk. Hanya karena dibutakan oleh penghianat sang mantan, mengapa membuatnya sampai kalap dan menyakiti gadis tak berdosa itu.


Shhhht... .


Marcus mengumpat frustasi.


Apa yang harus ia lakukan. Bahkan menikahinya pun tak akan cukup membuat perempuan itu melupakan trauma masa lalunya.


🍁🍁🍁


Annyeong


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕