Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Selamat


°°°~Happy Reading~°°°


"Ganti dokternya. Cari dokter laki-laki saja. Aku tidak mau tau!!!"


"Kamu mau istrimu di sentuh laki-laki lain?"


Membuat laki-laki itu sontak membeliak. "Mama sudah gila?! Tidak mungkin. Hanya aku yang bisa menyentuhnya."


"Lah terus kenapa kamu malah suruh ganti dokter cowok, Marc?" Decak mama Elena.


"Loh... Bukannya dokter itu buat aku?" Seru Marcus kebingungan. Disini ia yang sakit, berarti ia yang akan diperiksa, bukan. Pikirnya.


"Astaghfirullah. Buat Ana, Marc..." Lihat, mama Elena mulai dibuat jengkel dengan otak lemot sang putra. Apa putranya itu tidak cukup melihat didepan ruangan tertera keterangan jika ruangan ini merupakan poli spesialis kandungan. Apa iya laki-laki itu bisa mengandung dan melahirkan?


"Aku yang sakit loh ma?" Marcus jelas kebingungan. Disini ia yang mengalami mual muntah berhari-hari, namun sesampainya di rumah sakit malah istrinya yang kini diperiksa. Bukankah ini aneh?


"Iya, kamu yang sakit, tapi Ana yang udah buat kamu sakit. Makannya Ana yang harus diperiksa, Marc."


Membuat laki-laki itu berdecak kesal. "Maksud mama apa sih. Kalau ngomong itu yang jelas, mam."


"Ck, apa kalian hanya akan bertengkar disini?!" Tuan Regar mulai muak dengan perselisihan ibu dan anak itu. Kalau tidak ditengahi, bisa-bisa mereka berdebat seharian di sini.


"Ini loh pa, anakmu. Ngeselin banget." Decak mama Elena menatap Marcus sinis.


"Ayo An, itu dokternya sudah menunggu." Suaranya tiba-tiba berubah sangat lembut. Juga perlakuannya tak sebar-bar pada sang putra. Apa ini yang dinamakan pilih kasih?


"Silahkan nyonya, kita periksa dulu kondisi anda." Dokter muda itu lantas menggiring Ana untuk memasuki ruang pemeriksaan yang terletak di pojok kiri ruangannya.


"Kamu mau ikut ngga? Kalau mau, ayo. Papa disini aja. Ngga boleh masuk." Suara mama Elena menggaung sebelum akhirnya perempuan itu tertelan oleh pintu yang tertutup. Membuat laki-laki itu bergerak cepat menyusul sang istri yang sudah berbaring di atas ranjang perawatan.


Setelah pemeriksaan umum dilakukan, dokter Laura kemudian meminta izin untuk menyibak sedikit baju yang dikenakan Ana sebagai pemeriksaan terakhir. "Bajunya boleh dibuka sedikit?"


"Dibuka? Eummm... Untuk apa ya, Dok?" Anelis mulai ketar-ketir. Kenapa harus buka baju segala. Apa ini tidak apa-apa? Rasanya pemeriksaan ini sangat-sangat mencurigakan.


"Buka saja An, tidak apa-apa kok. Percaya sama mama, ya?"


Memaksa Ana untuk mengagguk mengiyakan.


Dokter Laura kemudian mengeluarkan alat USG nya. Setelah mengoleskan gell di atas perut Ana, dokter itupun mulai menggerakkan alat itu di atasnya.


Membuat Ana seketika tersadar. Dulu, di kehamilan pertamanya, Ana pernah melakukan hal ini sekali. Kata dokter ini penting untuk melihat perkembangan bayi dal rehimnya. Jadi, pemeriksaan ini bukankah untuk pemeriksaan kehamilan juga?


"Bisa di lihat disini, ada satu kantung janin di rahim nyonya Ana. Selamat nyonya, anda tengah mengandung."


Ana hanya bisa mematung di tempatnya, benarkah? Dia hamil? Dia mengandung calon anaknya bersama suaminya? Apa ini nyata?


Rasanya masih tak percaya, hubungannya bersama suaminya baru juga terjalin baik belum lama ini dan Allah langsung mempercayakannya mengandung benih dari suaminya?


"Selamat Ana, mama ikut bahagia." Mama Elena menghambur dalam rengkuhan Ana. Jelas ia bahagia, mungkin dengan ini ia berharap hubungan keduanya bisa lebih berkembang.


Sedang Marcus, laki-laki itu tak kalah terkejut dari sang istri yang juga tak tau menahu dengan keadaannya sendiri.


Sebentar. Hamil? Istrinya itu benar-benar hamil?


"T-tunggu. Sebantar. Mengandung? Maksudnya, istriku-- hamil?"


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕