
°°°~Happy Reading~°°°
Setelah kabar jika Marcus mual muntah di tengah rapat pemegang saham itu menyebar keseluruhan perubahan, kini karyawan dari Willson Corp itu kembali dikejutkan dengan satu peraturan baru yang dirasa begitu aneh dan tak berdasar.
Dimana semua karyawan Willson Corp itu tidak diperbolehkan memakai parfum atau produk-produk yang mengandung wewangian. Jika sampai ketahuan jika di tubuhnya tercium aroma wangi, selesai sudah karirnya disini.
Tentu peraturan ini menjadi satu peraturan terberat di banding peraturan-peraturan ketat lainnya di perusahaan itu. Bagaimana bisa mereka menjalani hari tanpa parfum sedikitpun sedangkan bau wangi sudah menjadi ciri khas diantara mereka, apalagi bagi mereka yang memiliki kedudukan tinggi. Sudah pasti mereka rela merogoh kocek yang tidak sedikit demi bau parfum yang khas dari merk ternama.
"Kamu sudah mengumumkan peraturan terbaru yang kemarin ku sampaikan padamu?" Seru Marcus kala menurunkan kaki jenjangnya dari badan mobil.
"Sudah tuan. Saya menyampaikannya sesuai yang anda perintahkan."
"Baguslah."
Melangkah lebih dalam memasuki area perusahaan.
"Hahhhh... Ini segar sekali." Seru Marcus kala memasuki lobi perusahaan. Bahkan untuk pengharum ruangan, pewangi lantai, dan semua yang berhubungan dengan bau-bau menyengat, Marcus tarik dan dilarang penggunaannya sampai waktu yang tidak ditentukan.
Alasannya, Marcus tak ingin jika ia sampai mual muntah di perusahaan lagi karena mencium bau-bau menyengat itu. Sudah cukup setiap pagi ia harus berjibaku dengan mual muntahnya, tidak disini lagi. Bisa-bisa tenaganya habis terkuras seperti kemarin-kemarin.
Di tengah-tengah rutinitas pekerjaan yang kini membludak karena dua hari tak dapat berangkat akibat masih berjibaku dengan mual muntahnya, pintu tiba-tiba saja terbuka, menampilkan sosok perempuan muda berparas cantik dengan rambut yang dibiarkan tergerai indah. Tanpa permisi perempuan itupun melenggang masuk dan merengkuh tubuh itu dengan mesranya.
"Sayang, aku kangen..." Seru perempuan itu sembari menciumi pipi itu. Membuat Marcus sontak mendorong tubuh itu lembut. Risih rasanya.
"Kau--"
Baru ingin mengeluarkan protesnya, tiba-tiba indra penciuman itu mengendus bau menyengat, bau yang berhasil membuatnya mual beberapa hari lalu. Bau itu sangat menjijikkan.
Hoekkk... .
Pekikan tertahan itu membuat perempuan itu seketika kalang kabut. "Kenapa?"
Tak ingin sampai mengotori meja kerjanya, Marcus buru-buru bangkit daru kursinya.
"Kak..." Langkahnya di tahan, membuat Marcus sontak saja memekik kesal.
"Kakak kenapa?"
Tak sedikitpun menghiraukan pekikan sang adik, Marcus tetap melenggang memasuki kamar mandi dengan langkah terburu.
Hoekkk... .
Pekikan itu nyaring terdengar. Steevy yang tak tega melihat sang kakak mual-mual seperti itu, seketika mendekat dan membantu laki-laki itu menyelesaikan muntahannya.
"Jangan mendekat. Kau membuatku ingin muntah, Steevy."
Hoeeekkk...
Mendapati intruksi itu, Steevy terpaksa keluar dan memanggil Felix untuk membantu sang kakak di dalam sana.
Hingga tanpa diduga, satu panggilan masuk. Dari sang mama. Pasti perempuan itu sudah mendengar kabar kepulangannya dari mata-matanya. "Hallo mam."
"Steevy!!! Kamu sudah kembali? Kenapa tidak mengabari mama, huh." Dengus perempuan di sebrang sana.
"Maaf mam. Ini aku di kantornya kak Marcus. Tapi begitu aku masuk, dia malah langsung muntah-muntah."
"Kamu memakai parfum?"
"Ya, tentu saja. Aku tidak ingin mempermalukan diri sendiri dengan mau tubuh di depan umum."
"Astaga Steevy. Jangan mendekati kakakmu dulu. Dia sedang sangat sensitif terhadap bau-bau menyengat sekarang. Kamu jangan mendekatinya dulu, mengerti?"
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕