
Falcon langsung mematikan panggilannya, dia melempar ponselnya dan mengusap rambutnya kasar.
“Aku benci hidup di dalam keluarga ini! kapan aku bisa memiliki keberanian untuk bisa kabur dan memiliki hati dingin seperti Barata? Pulanglah Barata, dan selesaikan masalahmu, aku sudah lelah menanggung ini sendirian,” keluh falcon yang selama ini tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia bukan anak kecil lagi, dia sudah dewasa dan matang dalam berpikir, dia sudah tahu ada yang salah dengan pertengkaran hebat ayah dan ibunya, juga kematian kakak tertuanya yang membuat Barata bahkan bisa melupakan hari itu.
Tetapi, dia takut menemukan sesuatu yang lebih menyakitkan, dia juga hanyalah anak yang menjadi korban ketamakan ayah dan ibunya.
Sedangkan di mansion Barata,
Setelah Barata mendengar itu dari saudara nya, dia menghela nafasnya dalam, “Baiklah aku akan pulang seperti yang kau katakan, kebenaran yang membuatmu takut itu, akan aku ingat dan akan aku selesaikan secepatnya! Mungkin sudah saatnya aku berhenti melarikan diri dari mimpi buruk ku, sekarang aku memiliki seseorang yang sangat penting yang harus aku lindungi dari para monster seperti mereka!”
Barata telah membulatkan hatinya, seberapa keras pun ia berusaha menjaga Alina jika masih ada ayah dan ibunya yang bagaikan monster itu maka selamanya Alina tidak akan pernah aman, jadi dia memang harus segera pulang dan menyelesaikan masalahnya.
***
Disaat yang bersamaan,
Seseorang sepertinya memiliki akses tersembunyi menyadap ponsel Falcon Lewis, pembicaraan Falcon ia dengar dengan Barata barusan.
“Brak!”
Dia memukul meja kuat sekali.
Mengetahui dari pembicaraan itu sudah pasti Barata akan pulang dan hanya menunggu waktu perusahaan akan seutuhnya menjadi milik Barata.
“Tidak akan aku biarkan, aku sudah berjalan sejauh ini, tidak akan kubiarkan siapapun menghalangiku,”
Dia sedang merencanakan sesuatu, dan seperti yang Falcon katakan, selamanya Alina akan menjadi target, karena Alina memang sedang berada di sisi seseorang yang sangat penting namun berbahaya seperti Barata Lewis.
***
Waktu akhirnya berlalu dan pagi sudah menyingsing, Alina tetap mendiami Barata, tetapi Barata tidak menyerah membujuk istrinya ini, tetapi Barata lupa jika ayah mertuanya juga sudah tinggal di mansion nya jadi itu membuat Barata sedikit terganggu.
"Ayah, makanlah yang banyak, sudah berapa lama kita tidak makan bersama, ini aku berikan lauk," Alina menaruh lauk ke piring ayahnya dan tersenyum sangat cerah, berbeda dengan Barata yang seperti menghidupkan kompetisi di dalam dirinya, sepertinya Alina senang sekali ayahnya ada di mansion suaminya.
Barata langsung menatap sangat tajam kearah piring ayah Alina, seolah matanya sekarang memancarkan laser merah.
Apalagi saat Arkana menyadari hal itu segera tersenyum menyeringai seperti menunjukkan jika pemenangnya adalah dirinya.
"Apa? dia tersenyum seolah menjadi pemenang! dia istriku ya!" geram Barata semakin menajamkan pandangannya kearah Arkana.
Sungguh Barata tidak bisa berdamai dan bersikap normal jika seseorang merebut perhatian istrinya bahkan jika itu ayahnya sendiri sekali pun.
"Aku ayahnya!" gumam Arkana tidak mau kalah dari Barata, seolah ia tahu jika Barata sedang menantang dirinya.
Perdebatan batin kedua nya terjadi sangat sengit tetapi Alina tidak menyadari nya.
"Kapan si tua ini pulang! walau dia ayah mertuaku tetapi dia menyebalkan berani nya dia mengambil perhatian istriku!" geram Barata masih menatap tajam ke arah Arkana.
"Kapan sifat busuk si lelaki bajingan ini keluar? aku ingin menangkap basah nya dan bisa menjadi alasanku membawa Alina!" geram Arkana juga dalam hatinya.
Disaat Alina makan dengan tenang dan damai, dia tidak tahu jika sedang ada peperangan sengit di sisi kiri dan kanannya.