
“Apa?"
Barata sedikit bingung, tetapi dia tidak berpikir panjang, yang ia tahu adalah bahwa dia harus segera menemui istrinya dan memastikan dia baik-baik saja.
Barata langsung pergi bahkan tanpa mengatakan sepatah katapun kepada kakak dan ibunya.
Ibunya yang merasa terluka oleh ucapan putranya hanya bisa menangis, Falcon tidak tega dia sangat menyayangi ibunya.
"Ibu ... jangan sedih, aku ada disini, Barata memang pemarah tetapi dia tidak pernah membenci ibu, aku yakin itu," Falcon mencoba menghibur ibunya.
"Pergilah, jangan mendekati Ibu, nanti kau akan bernasib sama dengan kakakmu, cepat pergi!"
Dengan mata yang membesar dan sedikit keceplosan, Chaterine mengusir putranya.
"Apa maksudnya? apa maksud Ibu?" Falcon terkejut dengan ucapan ibunya ini.
Chaterine mencengkeram tangannya dan menahan sakit hatinya selama bertahun-tahun,
"Kau tidak perlu tahu, pergilah, apa kau mau Ibumu ini menderita, jika tidak mau pergi dan jalani hidup mu, jangan mencoba dekat dengan Ibu lagi, pergilah!"
Falcon terkejut, fakta apa lagi yang ia ketahui ini, kenapa keluarga nya bisa sehancur ini.
***
Sekarang Barata sedang mengemudikan kendaraannya, tangannya yang bergetar dan matanya yang tidak ia sadari telah meneteskan air mata.
“Kau harus baik-baik saja, kau harus baik baik saja, jika tidak aku mungkin tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri!” geram Barata dengan suaranya yang sudah berat dan gemetaran.
Dia merasa lalai, dia merasa menjadi tenang hanya karena Alina ke rumah ayah mertuanya.
“Seharusnya aku bisa menjaganya lebih baik, aku tidak berguna!” geramnya semakin cepat mengemudikan mobilnya.
Karena malam sudah semakin pekat, danau di pinggiran kota itu minim cahaya, Barata sampai menabrak batang pohon yang ada di dekat danau, kepalanya berdarah dan juga tangan nya terluka, tetapi ia seolah tidak bisa merasakannya lagi yang ia inginkan sekarang hanyalah menjemput istrinya dan membawanya pulang.
“Alina ….”
“Alina …”
“Alina …”
Sampai ia akhirnya melihat Alina dengan rambut yang sudah acak acakan, dan di sisi bibir yang membiru, Barata tidak sanggup, dia berlari dan memeluk istrinya, dia memeluknya kuat sekali.
“Maafkan aku, aku yang salah, aku yang salah karena melalaikan tugasku, harusnya aku bisa melindungi mu, ini salahku,” Barata ketakutan sekali, tadi dia seperti kehilangan dunia nya, dia langsung tersesat hanya karena Alina hilang sebentar.
Lalu setelah beberapa saat barata melepaskan Alina sejenak, dia mengusap rambutnya yang acak acakan, lalu ia melihat wajah Alina yang hanya terdiam dengan luka biru di sisi bibirnya.
“Siapa yang melakukan ini?”
“Jawab aku!”
“Aku akan membunuhnya, bahkan jika dia penguasa sekalipun, aku akan mengejarnya sampai ke ujung dunia manapun, katakanlah sayang, siapa tadi yang menculikmu, aku akan membalasnya ribuan kali lipat!”
Barata berbicara dengan nafas yang berat dan rasa marah yang begitu besar, dia bahkan tidak memperduloikan lukanya sendiri, padahal di dahinya sudah ada darah karena tadi dahinya terkena setir mobil karena menabrak pohon.
“Barata,” Alina akhirnya membuka suaranya.
“Hmm? apa sayang? katakanlah, aku sudah ada disini, jangan takut,” seru Barata penuh perhatian, dia tidak bisa melihat istrinya dalam keadaan seperti ini.
“Ayo kita bercerai,”
***
Jangan lupa komentar membangun nya ya. komentar kalian aku baca satu2 kok, cuma kadang ga sempat balas nya. hehe