Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Ayo bercerai (2)


***


“Ayo kita bercerai,”


Suara yang dingin dan seolah tidak berperasaan, Alina mengatakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang seharusnya Alina tidak katakan.


“Apa? sayang jangan bercanda, bukan waktunya untuk bercanda, sebaiknya kita ke rumah sakit dulu, kita obati lukamu ya,” Barata tidak mau melanjutkan pembicraan itu, dia segera menggenggam tangan istrinya ini dan hendak membawanya pergi.


Tetapi Alina menolak.


“Barata, lihat aku, berapa kali aku mengalami ini, aku selalu di culik dan kau tidak bisa menjaga aku, aku sudah terluka bahkan saat pertama kali kau menikahi aku, tolong lepaskan saja aku, aku sudah lelah berpura-pura kuat dan menjadi istrimu!” Alina berteriak dia menangis dan menunduk.


Barata yang mendengar itu menjadi bingung, dia terdiam sejenak tetapi dia datang lagi mengusap kedua pipi Alina mencoba menenangkannya.


“Sayang, maafkan aku ya, aku tahu aku salah, aku kan sudah mau memperbaiki sikap ku untukmu, jadi ayo kita obati dulu lukamu ya …” dengan suara yang bergetar dan reaksi yang begitu takut, dia takut dengan ucapan Alina yang mengatakan jika dia tidak bisa menjaga istrinya sendiri.


“Tidak, kita harus berpisah, aku sudah lelah, aku tidak ingin seperti ini selamanya, kau lihat luka ku, kau lihat penampilan ku, aku di siksa semua karena mu, sedari awal, walau kau tidak turut memukul aku dulu, tetapi kau mengijinkan nya kan?"


"Apa bedanya dengan sekarang, karena kau aku harus menderita, terkena syok psikologis, kau mau aku terluka separah apa lagi, jangan egosi dengan perasaan mu yang bodoh itu dan lepaskan saja aku!”


Ketus Alina memalingkan wajahnya.


Entah apa yang terjadi hanya dalam skitar 2 jam an penculikan itu, entah apa yang sudah dialami oleh Alina.


“Perasaan bodoh? Kau bilang perasaan bodoh?” suaranya gemetaran, dia melihat Alina dengan matanya yang kebingungan.


Tetapi saat Alina membalikkan tubuhnya, dia menangis dengan hebat, dia tidak bisa, hatinya terlalu sakit mengatakan kebohongan itu.


Dia tidak bisa lama lama melihat wajah kebingungan dan terluka dari suaminya itu.


“Hanya ini caranya agar aku bisa melindungi kamu, maafkan aku, aku tidak bisa melihatmu hancur, maafkan aku,” Alina menangis dengan hebat, berlari menjauh meninggalkan Barata yang terdiam seperti kehilangan arah, Barata terdiam ditengah kegelapan di pinggir danau, dia tidak bisa menghentikan Alina.


Semua ucapan Alina benar, semuanya hanya keegoisan Barata, Barata memaksakan kehendaknya yang mengakibatkan Alina terus menerus terluka.


Alina sebenarnya tidak ingin berpisah dari suaminya tetapi penculikan yang telah terjadi itu membuatnya harus melakukan ini.


***


Kejadian Saat penculikan,


Alina dibawa oleh para anggota seseorang ke sebuah tempat tersembunyi, mereka kemudian mengikat Alina terlebih dahulu dan kemudian mengusap sebuah larutan agar Alina segera siuman dari pingsannya.


Saat Alina bangun, dia terkejut melihat seseorang yang sering ia lihat di televisi sedang duduk bersilang kaki dan wajah yang mengerikan di hadapannya, di sisi kirinya ada juga seorang wanita yang sudah cukup berumur sedang mengawasi Alina.


“Anda kepala DPR kan? Untuk apa anda menculik aku?” dengan gemetaran dan mencoba memberanikan diri Alina menanyakannya.


***


Jangan lupa berikan komentar membangun nya ya. Terimakasih banyak