Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Kemenangan untuk Eden


***


Alina menangis, dia melihat suaminya terluka begitu parah tetapi yang ia pedulikan adalah keadaannya, “Bodoh, kenapa kau selalu menjadi bodoh jika dalam hal seperti ini, seharusnya kau memikirkan dirimu sendiri dulu, kenapa dahinya berdarah! Aaa! Hatiku sakit sekali Tuhan, kenapa harus seperti ini,” Alina terus berlari mencengkeram dadanya yang terasa sangat perih.


Dia meninggalkan dan melukai seseorang yang ada di belakangnya, Barata yang terdiam dan memiliki pandangan kosong itu telah menyalahkan dirinya sedari tadi.


Barata yang terdiam mematung seolah tidak bisa bergerak, dia tidak bisa berlari mengejar Alina seperti yang biasa ia lakukan, dia hanya melihat Alina yang berlari menjauh sampai bayangannya hilang dari pandangan matanya.


“Benar, jika di sisiku dia hanya terluka, selama ini aku munafik dan menampik semuanya itu, apa yang ia katakan itu benar, sangat benar, kenapa hatiku sangat sakit?”


“Ah, harapanku hilang lagi, cahayaku hilang lagi, meninggalkan aku sendiri, apakah aku memang ditakdirkan untuk sendirian sedari awal? Mulutku bahkan tidak bisa mengatakan padanya untuk tidak meninggalkan aku karena ucapannya adalah kenyataan!”


Barata terdiam, berdiri mematung, hanya bisa melihat kepergian wanita yang ia cintai.


“Padahal aku akan menyatakan perasaanku hari ini, padahal aku mau melamarnya lagi, ah, kepalaku pusing!” Barata yang sebenarnya baru kecelakaan merasa pandangannya menjadi buram lalu ia tergelatak di tanah.


Untung saja para anggota dan Ben yang segera menyusul ke tepi danau pinggiran kota itu segera menemukan Tuan mereka.


***


Barata segera dilarikan ke rumah sakit, sebenarnya luka nya cukup parah entah karena apa mengapa Barata bisa bertahan beberapa saat setelah kecelakaan, Barata dirawat selama dua hari penuh sampai ia sadar.


“Alina ….”


Nama itulah yang pertama kali ia ucapkan saat ia terbangun.


Kepala pelayannya yang setia yang selalu menjaga Barata hanya diam dan menunduk, dia juga merasa sakit melihat Tuan yang ia sayangi sudah seperti anak sendiri ini merasa terluka begitu dalam seperti itu.


“Tuan, yang sabar ya,” hanya itu ucapan pak Roy yang bisa ia katakan.


Mendengar itu Barata jadi terdiam, wajahnya yang pucat itu terlihat menyedihkan, jawaban Pak Roy seolah mengkonfirmasi jika mimpi buruknya itu adalah kenyataan.


Chaterine dan falcon yang sbenarnya ada di luar pintu hanya mendengarkan, Chaterine telah gagal menjalankan rencananya, musuhnya lebih pandai bermain taktik, sekarang harapan satu-satunya untuk membalikkan keadaan telah jatuh lemah seperti itu.


Dan melihat itu hatinya menjadi semakin hancur, semua putranya harus menanggung sesuatu yang menyedihkan hanya karena dirinya.


Disisi lain,


“Hahaha, sekarang semuanya sudah berada di tanganku, aku bisa mengatur segalanya sesuai yang aku mau, wanita itu telah pergi, dia pasti akan hancur dan tidak akan memiliki gairah untuk melakukan apapun, itulah mengapa mencintai itu artinya menunjukkan kelemahan!” seru Eden Lewis tertawa di kantornya.


Disana ada seorang wanita juga, yang selalu memberikan laporan rutin kepadanya.


“Pak, sebentar lagi anda akan bertemu dengan Yacob lewis, saudara anda,” seru wanita itu menunduk hormat.


“Oh, iya jangan lupa oleh-olehnya, kau bawakan?” tanya Eden pada wanita itu.


“Bawa Pak,”


“Bagus, mari kita bertemu dengannya, akan kita akhiri disini, kearoganan dan ketamakannya juga obsesinya akan membuat dia hancur, dan yang menghancurkannya adalah aku!” ucap Eden lagi sembari bangkit dari kursi nya menuju pertemuan antara dirinya dan kakak laki-lakinya Yacob Lewis.