
***
Kepergian kakak laki laki Barata meninggalkan lubang di hati Alina, dia tidak tahu akan seperih ini, dia juga tidak tahu hubungan antara dirinya dan Barata akan bisa membahayakan Barata,
“Bodohnya aku hanya fokus pada diriku sendiri, aku memang tidak pantas,” gumamnya meneruskan tangisnya sendirian.
Dia yang egois entah mengapa tidak ingin Barata melupakan dirinya, tetapi harus, itu menjadi dilema dan menjadi rasa sakit di hatinya.
“Tring … Tring … Tring!”
Deringan ponsel sedari tadi berbunyi, itu adalah panggilan dari suaminya, Barata.
Ponselnya ia tinggalkan di kamar, jadi baru ini dia bisa membuka ponsel.
Dia menghentikan tangisnya segera setelah melihat Barata menghubungi dirinya, dia mengusap air matanya dan mencoba bersikap senormal mungkin.
“Ha … halo?” dengan lembut dan sedikit pelan Alina menjawab panggilannya.
“Sayang, kenapa lama sekali kau menjawab panggilanku? Ha? Aku sudah jalan pulang, katanya Falcon datang ke mansion ku, apakah dia melakukan sesuatu kepadamu? Apakah dia mengatakan sesuatu? apakah dia menindas mu? katakan padaku, agar ku balas ribuan lalu lipat!”
Dengan begitu cepat Barata menghujani Alina dengan segala kekhawatirannya, pekerjaan di kantor dia tinggalkan segera setelah mendapat kabar dari kepala pelayannya jika kakak laki lakinya datang ke mansion nya,
Dia tidak ingin Alina mengetahui hal hal aneh tentang dirinya, dia juga tidak ingin Alina menjadi dalam bahaya karena informasinya diketahui oleh ayah dan kakak laki-laki nya.
"Istri bodohku tidak boleh ditindas, awas saja kau Falcon akan ku hajar kau jika benar kau menindas istriku!" gumam Barata geram saat belum menerima jawaban dari istrinya.
Alina terdiam sejenak namun langsung menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari suaminya ini, “Umm, ti … tidak, dia tidak mengatakan apapun kepadaku, dia hanya menanyakan kabarmu, hanya itu saja, dia juga sudah pulang,” jawab Alina menutupi kebenaran yang dikatakan oleh Falcon.
Dengan segera Barata menutup panggilannya dan berlari menuju kamar pribadinya.
Kali ini dia tidak akan membiarkan siapapun pergi dari sisinya, apalagi Alina, istrinya.
“Brak!”
Barata segera membuka pintu dan mengejutkan istrinya yang sedang duduk di tepian kasur.
Barata langsung berlari memeriksa tubuh Alina, tangannya, wajahnya, semuanya ia periksa, dia khawatir siapa tahu karena kebodohan dan lemahnya istrinya, ada yang bertindak kasar atau semena-mena seperti pelayan ibunya dahulu, apalagi ini kakak nya datang pasti ada sesuatu yang tidak beres.
“Lihat aku, kau tidak apa-apa kan? Dia tidak mengatakan apapun kan?” Barata mengusap pipi Alina dan mengarahkan wajah istrinya kehadapan wajahnya, matanya melekat seolah meneropong kejujuran di mata Alina.
Alina tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak terluka dan dia tidak mengatakan apapun yang penting, percayalah padaku,” seru Alina dengan wajahnya yang polos itu.
“Tunggu … tunggu, matamu memerah, kau menangis ya?” suara Barata mulai meninggi, dia melihat mata Alina masih memerah yang artinya Alina baru saja menangis.
“Sialan si bajingan itu! akan ku hajar dia, beraninya dia membuat istriku menangis!” geramnya melepas tangannya dari Alina dan hendak beranjak memberikan pelajaran pada Falcon.
“Gruk … Gruk ... Gruk!
Tetapi langkah kaki Barata terhenti karena suara perut Alina yang terdengar lantang di ruangan.
Barata melihat kebelakang kearah istrinya yang sudah menunduk, “Itu, umm, sebenarnya aku lapar sekali, makanya aku sedikit menangis tadi,” seru Alina pelan sekali dan dengan wajahnya yang sudah merah padam karena malu.
“Ck, aku malu sekali, tetapi suara perut ini entah kenapa menyelamatkan aku, hiks hiks, terimakasih suara perut baru kali ini tubuhku mendukung aku,” gumam Alina mengusap perutnya yang memang sudah lapar sedari tadi.