
***
Di rumah sakit,
“Ba … Barata,” dengan gagap dan bibir yang bergetar hebat, juga wajah yang pucat pasi dia menyebut nama Barata.
“Tidak, aku yakin Barata bisa mengerti jika aku jelaskan,” gumam Freya bertekad tidak akan hancur sekarang.
Dia berlari dan mulai menangis, dia memeluk Barata dengan kuat, “Sayang, dengar aku, aku melakukan ini secara terpaksa, aku disuruh oleh ibumu untuk meninggalkanmu, dan masalah Alina, lihatlah ibuku, dia dan ayahnya bekerjasama untuk mencelakai ibuku, tolong mengertilah aku,” dengan cepat dan menangis tersedu-sedu Freya mencoba meluluhkan hati Barata.
“Aku berjanji akan lebih baik kedepannya, tolonglah mengerti, aku hanya diperalat oleh ibumu,” seru Freya mengangkat wajahnya, dia yakin Barata yang dulu lembut padanya itu pasti luluh padanya.
Saat ini yang ada di kepala Freya hanyalah bagaimana ia bisa membalikkan keadaan.
Dia tidak peduli dengan cara apapun dia harus bisa meyakinkan Barata jika yang dia lakukan adalah hal yang benar.
"Menjijikkan! kau ku berikan kesempatan menjadi gadis baik dan penurut tetapi kau malah menentang aku! hei, apakah kau kira kau hebat bisa melangkah sejauh ini dan membodohi aku? apakah kau tahu apa konsekuensi nya?" Barata membisik, matanya tajam sekali sampai Freya hampir jatuh melihat Barata.
"Srek!"
Barata menghempaskan Freya, sampai tersungkur ke lantai, lalu dia melihat kearah Freya dengan matanya yang merendahkan itu.
Freya yang sudah takut tetap tidak menyerah, dia mengejar Barata dan memohon, menggenggam kakinya dan menangis tersedu-sedu.
"Tolong Barata, lihat ibuku," Freya menunjuk kearah ibunya yang belum bisa apa-apa.
"Ayah Alina menabrak ibuku, dia merenggut kebahagiaanku, setelah menjadikan aku sebagai alat, dia dan ayahnya mencelakai ibuku, aku punya alasan, tolong percaya padaku!" Freya memohon menangis sejadi-jadinya, dia tidak akan jatuh hanya itulah yang ada di pikirannya sekarang.
Tetapi Barata yang melihat reaksi Freya semakin marah dan murka, dia jadi ingat saat lalu bagaimana Alina juga memohon dan dia tidak mempercayai nya karena Freya.
"Menjijikkan! semakin kau berbicara semakin aku merasa muak dan jijik! kau masih berani memohon kepadaku?!" geram Barata bahkan tidak sudi melihat Freya.
"Aku beritahu ya sialan! kau sudah dipermainkan oleh ibuku, kau harusnya tahu siapakah yang mencelakai Ibumu, kematian mu saja bisa di siasati oleh ibuku, apalagi kecelakaan kecil? heh! kau terlalu sombong dan tamak, jika bisa aku ingin membunuhmu sekarang juga, tetapi tanganku terlalu berharga hanya untuk menyentuh seujung rambut mu saja!"
"Kebersamaan singkat yang kau rasa adalah kemenangan mu, kau harusnya juga tahu, jika posisimu sedari awal juga hanyalah pengganti!"
"Oh, atau haruskah aku berterima kasih padamu? karena kau aku akhirnya bisa menikahi orang yang benar-benar ada di hatiku, jadi Freya! tetaplah menjadi orang mati dan lakukan sandiwara mu sampai mati, aku sangat bahagia sekarang, itu semua berkat kebodohan mu!"
Mata Freya masih membelalak, tubuhnya bergetar hebat, kemarahan sesaat dan dendam juga ketamakan nya telah menghancurkan dirinya.
Kekayaan yang diberikan oleh ibu Barata, yang tadinya ia akan gunakan sebagai modal memulai hidup baru sirna sudah.
Seperti yang dikatakan Barata, ternyata sedari awal dia hanyalah sebagai alat dan pengganti semata.
***
"BEN!" teriak Barata sampai menggema di seluruh ruangan.
"Iya Tuan?" Ben langsung menunduk dan menunggu perintah dari tuannya.
"Seret perempuan ini bersama para bandit yang ia bayar itu, berikan penyiksaan seratus kali, tidak seribu kali lebih berat dari yang telah Alina terima, jangan biarkan dia mati, tetapi buat ibunya yang tidak bisa apa-apa menonton penderitaan putri nya, itu pasti menyenangkan!"
Perkataan yang mengerikan, sungguh, Barata sangat menakutkan, seolah dia tidak pernah memiliki hubungan dengan Freya, seolah Freya tidak pernah menjadi seorang yang penting dalam hidupnya.
"Baik Tuan!" seru Ben langsung mengangguk sebagai kode kepada para bawahannya untuk menyeret Freya beserta ibunya.
"Tidak, Barata dengar aku, kau tidak bisa begini, walau begini aku tunangan mu, Alina lah yang merebut segalanya dari ku, aku lebih mencintai mu daripada Alina, jangan begini, kumohon!" Freya masih meronta-ronta, mencoba meminta belas kasih dari Barata.
"Tutup mulutnya, buat dia tidak bisa bicara agar dia tidak bisa memanggil namaku dari mulut nya, itu membuat aku jijik!" geram Barata lagi mengepal tangannya.
Dari situlah Freya baru sadar, seberapa mengerikan nya Barata, seseorang yang ia kira kenal ternyata hanyalah sebuah topeng, Barata adalah orang paling mengerikan dan itu membuat Freya terdiam merinding ketakutan.
"Ben! jangan sampai Alina tahu, biarkan Freya menjadi seorang yang mati selamanya!" ketis Barata mengambil sapu tangan dari sakunya dan melap tangannya.
Seolah dia menunjukkan rasa jijik teramat sangat setelah pertemuan nya dengan Freya.
Barata tahu satu-satunya cara agar bisa mempertahankan Alina adalah membiarkan semuanya tetap seperti ini, walau dengan begitu dia akan melanggar janjinya dengan Lucas.
Tetapi keputusan Barata sudah bulat, seberapa keraspun ia berpikir dan mencoba seperti nya dia tidak akan bisa melepaskan Alina lagi.
***
Hai jangan lupa mampir yaa ke karya baru aku, judulnya Boss Playboy.