Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Bentuk hukuman!


***


Di ruangan pribadi Barata Lewis,


Kegiatan panas yang sebenarnya tidak direncanakan terjadi begitu saja, karena rasa amarah dan juga rasa tidak ingin melepaskan, Barata masih bisa melihat dengan jelas wajah Alina saat ia melancarkan olahraga panasnya, wajahnya yang merah padam karena merasa panas, juga matanya yang terpejam entah memikirkan apa.


Tetapi Barata tahu jika tubuh istrinya memang menginginkan dirinya juga, dia bisa merasakannya.


Berbagai perasaan aneh memenuhi Alina, dia masih sangat malu, tangannya terus saja berusaha menutupi tubuhnya, tubuhnya bergetar hebat hanya dengan sedikit sentuhan dari suaminya, hanya beberapa saat ia akhirnya sadar jika dirinya memang menginginkan sentuhan lelaki yang telah menjadi suaminya ini.


“Gadis bodoh! aku adalah gadis bodoh yang bahkan tidak tahu diri dan tidak pantas menangis, bagaimana mungkin aku sangat suka dan nyaman saat ia mendekap ku, lelaki yang seharusnya aku benci!”


Alina tidak berhenti membenci dirinya sendiri, bagaimanapun dia telah bertekad untuk membenci lelaki ini, tetapi tubuh dan hatinya seolah bukan miliknya lagi.


Ditengah olahraga panas itu, Alina melihat mata Barata sejenak, bukan mata yang puas atau marah, tetapi lebih kepada mata yang sedih, terluka tetapi tidak terucap.


“Aku pasti sudah gila, hanya dengan melihat raut wajahnya dan matanya, aku hampir mengusap pipinya dan menenagkannya, sebaiknya aku menutupi mataku saja!’ geram Alina menahan dirinya.


Walau hati dan tubuhnya menginginkan Barata tetapi dia tidak akan pernah menunjukkan hal itu.


Setelah beberapa saat, Barata sadar jika tubuh istrinya sudah sedikit lemah, dia tidak ingin istrinya melakukan hal itu secara berlebihan dan malah menganggu kesehatan.


Sesaat setelah itu keduanya menjadi diam didalam ruangan, yang terdengar hanyalah helaan nafas, salah satu memandang ke langit-langit ruangan, salah satu menutup mata seolah ingin melupakan segala yang terjadi.


Setelah itu pekerjaan yang tersisa ditinggalkan Barata kepada Ben, Barata bisa mengerjakan pekerjaannya di mansion, saat ini dia hanya ingin membawa istrinya pulang dulu.


"Ini adalah bentuk hukuman ku, aku tidak akan bisa menahan diriku jika sekali lagi kau mengatakan untuk pergi atau berpisah! kau harusnya sudah tahu jika aku tidak suka ditantang apalagi di bantah!" ucap Barata serius. Dia kali ini memperingati Alina dengan keras, dia tidak mau mendengar kata berpisah bahkan sekalipun untuk kedepannya.


Alina yang masih risau dengan dirinya sendiri hanya diam, tetapi ada satu hal yang ia baru tahu, Barata bukanlah seseorang yang bisa diajak bicara dengan baik-baik.


Barata memiliki tempramental buruk apalagi penyakit paranoid akibat kehidupan buruknya sedari kecil.


***


Time skip,


Dua hari telah berlalu sejak hari itu, sikap Barata masih sama, suka menuntut dan arogan, tidak mau mengalah, seolah Barata tidak mau mengungkit dan mendengar permintaan Alina yang mau berpisah dan melupakan segalanya.


Alina juga beberapa hari ini sudah sedikit lebih dekat dengan para pelayan yang ada di mansion, dia juga sudah mulai bisa berbincang-bincang dengan mereka.


Kebosanan Alina membuatnya tidak betah jadi mengajak para pelayan itu berbincang-bincang dengannya.


Awalnya memang kaku, tetapi saat para pelayan itu mengetahui Alina adalah wanita yang polos dan tulus mereka langsung suka dan menjadi dekat satu sama lain.


Seperti kebanyakan para gadis bertemu tentu saja mereka akan menggosip dan membicarakan sesuatu.


Mereka berbicara mengenai kedua pelayan yang saat lalu ketahuan menyusup di mansion tuan mereka yaitu Barata.


Alina akhirnya mengetahui dengan sendirinya ternyata kedua pelayan itu bukan suruhan Barata, juga mengetahui jika selama ini Barata hidup dikelilingi oleh para mata-mata yang berasal dari keluarga utama Barata, yaitu keluarga Lorren dan Lewis.


Para pelayan itu hanya ingin agar Alina berhati-hati, agar ucapan dan perilakunya di jaga, karena disekitar mereka bukan tidak mungkin ada mata-mata yang lain.


Mengetahui sebagian besar dari kehidupan Barata dari para pelayan yang sudah lama bekerja dengan Barata, rasanya Alina langsung mengerti mengapa Barata memiliki sikap arogan dan posesif, dia juga akhirnya sadar jika rasa sakitnya tidak semuanya berasal dari Barata, jika memang penyiksaan fisik yang ia alami bukanlah Barata yang memerintahkan.


Ada rasa lega didalam hati Alina, tanpa sadar ia senang mendengar hal itu.


Tetapi tetap saja dia belum memaafkan tuduhan Barata yang menuduhnya membunuh adik tirinya.


***


Jangan lupa komentar membangun nya juga di like maaciw semuanya. Lope youu