
***
Deg … deg … Deg!”
Jantung Barata berdetak semakin cepat, pipinya memerah dan gairah memuncak lagi.
“Sayang, kau tahu, ini salahmu kau yang menggodaku,” seru Barata lagi menarik tubuh Alina dari persembunyiannya dan naik keatas tubuh istrinya.
Senyuman nakal Barata membuat Alina panik.
“ta … tapi kau bilang tidak akan melakukannya lagi, jika aku memanggilmu sayang maka kau bilang aku bisa tidur, kenapa, kenapa ….”
Belum sempat Alina melanjutkan ucapannya, Barata langsung mencium Alina dengan menuntut.
“Kau yang menggodaku, kenapa kau memanggilku sayang, ini salahmu,” seru Barata sembari wajahnya su8dah turun ke leher, tanda tanda biru yang tadi sudah banyak ia tambahkan lagi, gigitan kecil dan tipis tidak menyakitkan tapi membuat geli.
Sepertinya tanda biru itu sudah merata di tubuh Alina, setiap bagian tidak luput dari kecupan suaminya ini.
“Kapan aku menggodamu? Dasar tidak adil! Kau yang menyuruhku memanggilmu sayang! kenapa kau mengatakannya seolah aku yang berinisiatif mengatakannya,” seru Alina mencoba kabur tetapi di tarik lagi oleh Barata.
Barata seolah sudah berubah menjadi binatang buas dan Alina adalah mangsanya yang sudah di cengkeram dan tidak bisa kabur.
Alina yang merasa dibohongi dan terkhianati membelelakkan mata, lalu dia sadar jika sedari awal dia memang tidak akan bisa menang berdebat dengan lelaki paranoid seperti Barata.
“Tapi tidak boleh, aku harus melakukan sesuatu, cepatlah berpikir otak! Kau harus lepas dari cengkeraman ini!” geram Alina dalam hatinya, ditengah ketegangan Alina mencoba agar bisa melepaskan diri tanpa membuat Barata marah.
“Aku lelah,” seru Alina mengaktifkan mode imutnya lagi. Alina hanya terpikir membuat ekspresi ini saja, dia tidak mau melakukan itu lagi, dia pasti kelelahan sampai pagi jika melakukannya lagi.
“Sayang, sudah terlambat, sekali lagi dan aku akan berhenti, kau membuatku gila dan ini salahmu,” balas Barata memang sudah tidak bisa menahannya lagi.
Dan terjadi lah olahraga panas yang seharusnya sudah berhenti sedari tadi, Alina kembali melayang dan lupa diri, rasa lelahnya membuatnya mengantuk, Barata yang juga menyadari hal itu menghentikan olahraga panasnya setelah beberapa saat.
“Kau memang butuh olahraga dan makanan sehat, agar kau kuat sepertiku, saat itu mungkin kehidupan ranjang kita akan sangat hebat, wah, hanya membayangkannya saja sudah membuatku bersemangat,”
“Kalau begitu aku akan memerintahkan Ben meluangkan jadwalku agar bisa olahrga bersamamu, aku ahrus membuatmu kuat dan pintar dalam hal ini,”
Semangat juang Barata dalam kehidupan ranjang yang panas akhirnya dimulai, dia merasa Alina harus olahrga agar Alina tidak mudah lelah dan sakit, sekarang dia akan menahan dirinya dan nanti dia akan melatih Alina.
Alina yang mendengar itu sangat ingin mendepak Barata jatuh ke bawah kasur, ucapannya sangat nakal, juga terlalu arogan, yah bagaimanapun sikap asli Barata memang seperti ini dan tidak satupun bisa mengubahnya.
“Terserahmu lah, aku mau tidur, aku sudah tidak snaggup lagi, dasar monster tidak punya hati, entah dari mana tenaganya itu berasal!” ketus Alina dalam hatinya dan sudah tidak bergeming lagi, dia terlelap dan merebahkan dirinya, disaat bersamaan Barata tetap mengusap rambut istrinya ini agar terlelap, senyuman cerah di wajahnya benar-benar berbeda dari biasanya, seolah Alina memberikan warna tersendiri dalam hidupnya.