Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Tidak boleh meninggalkan aku!


***


Mendengar ucapan Alina, dekapan Barata semakin kencang, lalu ia menghadapkan Alina agar berhadapan dengannya.


Entah kenapa hanya membayangkan Alina meninggalkan nya membuatnya hampir gila dan emosinya meledak-ledak.


Dia merasa sesuatu yang sudah menjadi miliknya tidak boleh pergi darinya lagi.


"Sayang," bisik Barata dengan salah satu tangannya yang sudah menyentuh leher Alina, salah satunya lagi menyelinap ke dalam baju Alina dan mengusap tubuh Alina.


Mendorong tubuh Alina agar mendekap kedalam dekapannya, tatapannya dalam dan mengerikan, sama dengan tatapan saat Barata marah dan kehilangan akalnya.


"Akan ku beritahu kau sesuatu," membisik pelan, sembari mencium tengkuk Alina Barata memberikan tekanan mengerikannya.


"Aku adalah anak yang dibuang, tidak diterima bahkan oleh kedua orang tuaku, aku dididik agar percaya hanya pada diriku sendiri, apapun kebenaran yang sudah tertanam di pikiran ku, itu akan selamanya benar,"


"Ya, kau benar, lingkungan dan keluarga ku telah mendidik seorang monster, aku adalah seseorang yang mengidap paranoid, yang artinya saat aku percaya kau akan menjadi milikku selamanya, maka itu tidak akan bisa dibantah,"


"Yang artinya, apapun kebenaran nantinya, kau tidak akan bisa lepas dariku, sayang," bisikan itu terdengar seperti rasa takut, rasa sakit dan rasa marah, semuanya bercampur.


Mata Barata yang dalam dan senyuman mengerikan itu, tidak membuat Alina takut tetapi kasihan.


Ya, aneh memang, tetapi sekarang Alina kasihan, dia melihat Barata seperti melihat seorang anak kecil yang tidak bisa melepaskan mainan kesukaan nya.


"Apa yang kau inginkan dariku sebenarnya? saat lalu kau menyiksaku, dan sekarang kau ingin memiliki ku dan tidak ingin aku pergi! aku akhirnya punya harapan untuk mencari tahu kebenaran agar bisa pergi darimu ...."


Belum sempat Alina melanjutkan ucapannya.


Barata langsung menarik wajah Alina, menciumnya dengan sangat menuntut, menutup mulut Alina yang mengatakan kata pergi.


Barata sedikit melonggarkan ciumannya, lalu berbicara dari jarak yang sangat dekat.


"Jangan pernah aku mendengar kata pergi darimu, atau aku akan melakukan hal gila lagi,"


"Aku pernah menyerah padamu sekali, tetapi tidak kali ini, kau tidak bisa menolakku dua kali, sayang!" bisik Barata masih menyentuh wajah Alina, tangannya terasa bergetar.


Sebenarnya Barata juga tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika benar Alina tidak salah, tetapi semua itu tidak penting lagi, yang penting adalah Alina sudah menjadi istrinya dan dia tidak akan melepaskannya lagi.


Dan yang lebih menyakitkan jika kebenaran terungkap dan Alina tidak salah, maka Barata akan lebih terpuruk dan terpukul, bukan saja karena rasa bersalah pada Alina tetapi juga hal itu akan mengkonfirmasi jika hidupnya benar-benar diperlakukan seperti boneka mainan oleh keluarga nya sendiri bahkan sampai ia dewasa.


Hal yang membuat Barata takut adalah dia sudah yakin jika semuanya ini pasti dibantu oleh keluarganya sendiri, makanya kasusnya bisa sangat tertutup dan di manipulasi sedemikian rupa.


"Sekarang, aku lebih takut dari rasa takut yang pernah ku rasakan saat dulu, kau tidak boleh pergi lagi," ucap Barata pelan dan mendekap istrinya erat sekali.


Ada beberapa hal yang membuat Alina heran, dia bingung dengan pernyataan Barata yang mengatakan dia pernah menolak Barata, padahal tidak pernah.


Alina juga pertama kali melihat sisi berbeda dari Barata, bukan saja sisi menyeramkan yang membuat dada sesak, tetapi matanya yang dalam yang sering disembunyikan terlihat oleh Alina, mata seseorang yang takut dan terluka.


Sepertinya Alina yang cuek dan memang bersikap seperti putri dingin selama hidupnya benar-benar telah melewatkan sesuatu, seseorang sepertinya telah bermain-main dan mengambil keuntungan dari sifat cuek Alina.


***


Jangan lupa di like dan berikan saran membangun nya ya, dan follow IG author : @nitanaiibaho


Kalian bisa DM dan tanya2 disana. 🥰


Terimakasih