Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Seperti perselingkuhan


***


Para karyawan Barata yang kebetulan ada di lobby semuanya berbisik-bisik, wanita yang juga pernah datang sekarang datang lagi dan Bos mereka yang terkenal mengerikan itu menggenggam tangan wanita itu erat sekali, senyuman Bos mereka juga terlihat sangat lembut.


“Wah Wah, jadi ini wanita sesungguhnya Bos kita? Cantik sekali dia! Jika diperhatikan wajahnya lembut sekali dan ramah, ternyata Nona tasya hanya mainan saja,”


“Iya, aku kira dia salah satu mainan Bos, tapi ternyata tidak, dialah mungkin yang sesungguhnya, aku kira Tasya yang terus lengket di sisi Bos bebera akhir ini akan


menangis darah melihat hal ini, haha!”


“Hebat sekali ya, wanita yang dibawa bos ini, bisa membuat orang seperti bos kita jatuh cinta padanya,”


Berbagai pendapat terdengar samar-samar, dan banyak dari mereka memuji bagaimana cantiknya wanita yang sedang di bawa oleh Bos mereka, banyak yang iri tetapi banyak juga yang memuji, pagi itu sungguh menggelegarkan, tetapi tidak ada satupun yang berani memotret.


Karena perusahaan Barata memiliki peratutan yang ketat, tidak boleh ada satupun yang memotret sembarangan apalagi mengenai Bos mereka, tentu saja tidak ada satu orangpun yang berani melanggar.


***


“Sayang, kau disini sebentar ya, aku ada meeting, hanya beberapa menit saja, aku hanya ingin melihat apakah mereka melakukannya dengan baik, aku tidak ingin membawamu masuk ruang meeting lagi karena kau pasti tegang seperti sebelumnya, ingat ya! jika ada yang berani mengganggumu beritahu aku, aku akan langsung memecat mereka!” ketus Barata mencubit pelan pipi istrinya.


Alina hanya tersenyum kaku dan mengangguk pada Barata, sebenarnya dia ikut ke kantor ini juga karena paksaan, jadi dia harus meminimalisir masalah yang bisa membangkitkan kemarahan meledak-ledak suaminya ini.


Alina duduk di kursi kebesaran barata di ruang pribadinya yang luas itu, sedangkan Barata harus menghadiri meeting penting segera.


Alina merasakan berbagai perasaan hanya dalam waktu singkat, kali ini dia bisa melihat tempat dimana suaminya berkerja dengan serius.


Dia melihat sekeliling dan memperhatikan detail ruangan, komputer atau bahkan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja.


Bisa diketahui jika Barata memang orang pekerja keras dan melakukan segalanya dengan teliti.


"Apakah dia pernah beristirahat walau hanya satu hari?" gumam Alina teringat jika selama hidup Barata dia belum pernah menikmati hidupnya, seolah Barata ingin menjadi yang paling sukses dan namanya paling diatas untuk menutup mulut orang-orang yang dulu membuangnya.


***


Sedangkan didalam ruangan meeting sudah ada tasya yang belum tahu jika lelaki yang sedang ia goda ini telah membawa istrinya, Tasya terus saja mencari perhatian bahkan di ruangan meeting.


Meeting akhirnya berlangsung, namun tidak seperti sebelumnya mereka harus mengadakan meeting mencekik dan lama, kali ini Barata ingin buru-buru menyelesaikan dan ingin mengumpulkkan semua karyawannya untuk memperkenalkan istrinya pada mereka.


“Pasti Bos tidak sabar bertemu wanita nya yang cantik itu, huhu, beruntung sekali wanita itu dicintai oleh Bos,”


Itulah gumaman mereka, tasya yang sadar ada hal yang aneh mulai merasa curiga.


“Meeting hari ini kita akhiri sampai disini, kalian berkumpullah di aula, ada yang ingin aku umumkan, untuk kerja sama dan laporan sudah kita selesaikan sebagian kemarin, tidak akan banyak untuk untuk menyelesaikannya,”


Barata segera pergi dari ruangan meeting dan semuanya menjadi sedikit ricuh, mereka mendiskusikan apa sebenarnya yang ingin diumumkan oleh Bos mereka.


Sedangkan Tasya segera mengejar Barata, “Aku tidak boleh mengecewakan Nyonya Lorren, aku harus bisa membuat Barata terkesan, aku tidak boleh menyerah,” gumam Tasya Henskin masih dalam semangat membara untuk mengejar Barata, walau ia tahu Barata telah menikah, hal itu bahkan tidak menjadi pertimbangan baginya.


“Tu … Tuan Barata, tu … tunggu aku,” Tasya mengejar Barata, mengekor dibelakangnya seperti yang ia lakukan biasanya.


Barata bahkan tidak menghiraukan dan tetap berjalan seperti biasanya menuju ruangan pribadinya.


“Srek!”


Tasya yang tidak mau menyerah segera menarik tangan Barata dan mencoba mengajaknya makan siang.


“Tuan, tunggu aku, aku tadi memasak makanan dan ingin membaginya untukmu ….” Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya dia segera melepaskan tangan Barata karena ketakutan melihat tatapan mengerikan dari Barata.


“Dengar ya! sekali lagi kau menyentuhku secara sembarangan aku akan membunuhmu, tidak peduli kau rekan bisnis atau apapun! Kau paham!” ketus Barata yang sudah berada di luar ruangan pribadinya.


Suaranya terdengar cukup kuat sampai Alina menyadari jika Barata sedang marah-marah di luar.


“Haduh, marah karena apa lagi dia itu!” gumam Alina melangkah menuju luar ruangan.


Barata hendak membuka pintu tetapi tetap saja tasya keras kepala, dia menjatuhkan dirinya ke tubuh Barata dan memeluknya erat sekali.


“Aku tahu aku menyebalkan tapi aku sungguh menyukaimu, aku sudah menyukaimu sejak lama, aku tidak akan menyerah, aku akan mengambil hatimu, aku ….” Belum selesai Tasya menyelesaikan ucapannya, suara pintu segera terbuka dan Alina sudah ada di hadapan mereka.


Mata Alina terbelalak melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain di hadapannya.


Seperti adegan perselingkuhan yang tertangkap basah.