Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Keraguan yang memudar


***


"Srek!"


Barata yang sudah tidak bisa menahan gairahnya langsung sedikit melepaskan pelukannya lalu dengan wajahnya yang merah merona karena merasa panas dia melihat perlahan wajah cantik Alina pagi itu.


"Alina, hanya ciuman saja, tidak akan lebih, aku berjanji," seru Barata dan tanpa aba-aba langsung mencium Alina.


Alina belum sempat merespon, matanya terbelalak dan darahnya seperti mendidih.


Berbeda dengan ciuman yang pernah di lancarkan oleh Barata saat lalu, ciuman kali ini sangat lembut sampai Alina bingung.


"Apakah ciuman memang selembut ini? aku baru tahu!" gumam Alina merasa aneh dan tidak tahu harus merespon seperti apa lagi.


*Setelah beberapa menit kemudian*


"Umm ... hah, tu ... tunggu, aku kehabisan nafas," keluh Alina sudah tidak bisa menahan ini lebih lama lagi.


"Huh? kau tidak pandai berciuman ya? jangan bilang ...." masih dari jarak yang dekat, Barata melepaskan ciuman itu sejenak dan bertanya dengan wajah yang bingung.


"Iya! kau puas kan? sebelum bersamamu aku bahkan belum pernah berciuman!" seru Alina malu tetapi dengan nada yang sedikit meninggi, karena ia harus terpaksa mengakui hal itu.


"Imut! terlalu imut! oh tidak, aku pasti tidak bisa menahan ini lebih lama lagi!" geram Barata memalingkan wajahnya agar tidak melihat Alina dengan ekspresi wajah yang menurutnya sangat imut.


Secara perlahan Barata melepaskan Alina, masih dengan wajah yang di palingkan, "Ka ... kau sudah tidak takut lagi kan?" tanya Barata dengan sedikit kaku sedikit demi sedikit menjauh dari Alina bahkan dia hampir terjatuh dari tepian ranjang.


"Tidak, aku tidak takut, siapa bilang aku takut!" ketus Alina mengernyitkan dahi karena bingung dengan sikap Barata.


"Ba ... bagus, kau mandilah, dan datang makan pagi ke bawah, aku akan mandi di ruang kerja ku," seru Barata sedikit gugup dan terburu-buru.


"Aneh, dia aneh sekali, dia baru saja mencium aku, tapi malah menjadi gugup begitu, cih! aku tidak akan tergoda! aku hanya ingin pergi darimu biar kau tahu!" geram Alina sembari mengepalkan tangannya sebagai bentuk semangat setelah Barata pergi dari kamar pribadinya itu.


***


Entah sedari kapan, tetapi sepertinya hatinya melembut saat melihat wajah asli Alina yang lemah dan sebenarnya butuh perlindungan.


Dia sudah mandi dan sedang melihat cermin di kamar mandi ruang kerjanya, matanya kemudian menjadi tajam! dia mengingat ucapan Alina yang mengatakan jika ciuman pertama adalah bersama dirinya.


Hal itu seolah menjawab keraguan Barata, apalagi saat pertama mereka juga terbukti jika Alina masih perawan.


"Brak!"


Dia langsung meninju cermin itu sampai tangannya berdarah, serpihan cermin pecah itu memperlihatkan matanya yang tajam.


"Tadinya aku pikir aku bisa melupakan masalah ini saja dan membuat Alina menjadi pengganti Freya, tetapi semakin lama aku semakin sadar jika bukti yang aku temukan bisa saja disengaja!"


"Tadinya aku tidak ingin berurusan dengan keluargaku lagi karena itulah aku ingin melupakan semuanya, tetapi sepertinya aku harus menyelidiki hubungan keluarga ku dengan semua ini, jika benar mereka mengkambing hitamkan Alina, maka siapapun itu tidak akan lepas dari dendam ku!" geram Barata.


Dia ingat teriakan Alina saat malam pertama mereka, saat Alina memohon kepadanya jika dia tidak bersalah, rasanya semakin dia mengingat semakin rasa bersalah menggerogoti dirinya.


Saat ini yang akan di selidiki Barata adalah kenapa hari itu Alina bisa pingsan dan bangun di bangunan dekat kecelakaan terjadi, pasti dia akan menemukan sesuatu.


Dia juga akan menghubungi Lucas, maksud Barata meninggalkan lelaki itu di luar negeri bersama Lucas, ya tentu saja agar Lucas mengambil sebanyak-banyaknya informasi dari lelaki itu tanpa ada mata-mata yang mengetahui nya.


Barata tahu di mansion dan sekitarnya banyak mata yang melihat, jadi dia sengaja memberikan lelaki itu kepada Lucas, sahabat kecilnya.


***


Jangan lupa di like dan berikan saran membangun nya ya, dan follow IG author : @nitanaiibaho


Kalian bisa DM dan tanya2 disana. 🥰


Terimakasih