
***
Dua tahun, sudah dua tahun dia menahan hatinya juga, dia belajar keras mati matian, dia berjaga sampai larut malam, dia hanya ingin memiliki sesuatu, sesuatu yang bisa membebaskan suaminya dari kekejaman Eden juga membebaskan suaminya dari luka lamanya.
“Deg … Deg … Deg!”
“A … anak? Ka … kau bilang anak? Kau mau kita memiliki anak?” tiba-tiba saja Barata menjadi gugup, wajahnya memerah dan bahkan ekspresinya tidak bisa ia sembunyikan lagi.
“Iya, anak, kita kan sudah menikah lama, memangnya kau tidak mau punya anak?” jelas Alina pada suaminya.
Barata mengedipkan matanya, lalu dia menelan salivanya dengan kuat. “Mau, aku mau punya anak, ayo kita buat anak,” seru Barata dengan mata yang berbinar binar dan sudah menyalakan semangat membaranya.
Sungguh kedua orang ini benar benar sedang dilanda asmara, sampai sampai kerepotan dan keributan diluar mengenai kasus Eden dan Falcon, juga semua orang orang yang terlibat di dalamnya tidak lagi mereka pedulikan untuk saat ini, dunia serasa menjadi milik berdua.
“Tunggu sayang, nantilah kita buat anaknya, tadi malam kan sudah beberapa kali, aku harus menyiapkan berkas berkas yang aku butuhkan, aku juga harus menghubungi Lucas mengenai beberapa bukti yang masih ada di tangannya,” jelas Alina menunda proses pembuatan anak yang diinginkan oleh suaminya.
“Lucas, mendengar namanya saja sudah membuatku geram, dia menghabiskan waktu berharga mus elama dua tahun bersama, wah, aku jadi marah, tapi akan ku maafkan kali ini, tetapi hanya kali ini,” ketus Barata dengan nafasnya yang berat dan matanya yang terlihat serius.
Akhirnya keduanya menunda proses pembuatan anak tahap kedua, mereka akan menyelesaikan mengenai kasus Eden dahulu.
***
Di pulau pribadi Eden,
Eden mencoba menghubungi para rekan yang juga adalah para pemangku kepentingan di pemerintahan, dia ingin membayar rekannya ini berapa pun biayanya untuk menyebar informasi hoax dan mengandung sara, dia ingin menenggelamkan berita utama mengenai Falcon yang terbukti tidak bersalah.
“Halo, aku ingin kau membuat berita palsu seperti biasanya, aku akan membayar mu berkali kali lipat, tetapi kau harus menenggelamkan berita mengenai aku dan falcon,” Eden segera mengatakan tujuan utamanya.
“Baik akan aku lakukan,” seru rekannya itu yang juga merupakan DPR di pemerintahan saat ini.
“Haha, bagus, mereka kira aku sudah kalah, masih banyak cara untuk menang para anak muda, aku tidak akan mau kalah dan tidak akan pernah kalah!” seru Eden mematikan panggilannya dan kembali bersantai di pulau pribadinya.
Mungkin kebencian Eden yang katanya berlandaskan cinta itu salah, mungkin cinta hanyalah kambing hitamnya untuk menuntaskan ketamakan dan keinginan untuk di hormati, seperti sekarang dia melakukan semua ini hanya demi kepuasan sendiri dengan membuat orang lain menderita.
Di dunia ini begitu banyak orang seperti Eden, dan mereka ada di sekitar kita dengan profesi yang bermacam-macam.
Tetapi lagi lagi Eden mungkin sudah salah, kali ini dia tidak lagi melawan Falcon atau adiknya tetapi Barata, kelebihan Barata dari semua orang adalah bahwa barata bisa berpikir lebih cepat dan lebih luas dari kebanyakan orang.
Semua sindikat dan jaringan yang pernah berhubungan dengan Eden sudah di dapatkan oleh barata, termasuk para dpr yang selama ini memperkuat posisi Eden dengan berbagai suap yang dihasilkan dari perusahaan Lewis maupun perusahaan ilegalnya.
Dan pada saat Eden Lewis menghubungi rekannya sesama dpr itu, dpr itu sudah di tahan oleh anggota barata, dia dipaksa untuk tetap tenang dan biasa saja saat mendapatkan panggilan dari Eden, dan dari itulah orangnya Barata bisa mendapatkan lokasi tepat dimana Eden berada sekarang.
Dengan kecepatan penuh dan tanpa menunda-nunda lagi, apalagi Barata tidak ingin proses pembuatan anaknya tertunda lebih lama, dia segera pergi ke sana, dia memang ingin menyerahkan kasus ini kepada istrinya tetapi dia ingin membicarakan sesuatu dulu kepada Eden, mengenai kakaknya yang meninggal secara tidak adil.
***
Disaat istrinya ingin balas dendam secara adil dan fair, sekarang ini Barata ingin mempermulus jalan istrinya, dia ingin melepaskan kebencian nya dan penderitaannya saat ini juga, dia ingin istrinya menuntaskannya akhirnya.
Makanya dia pergi ke pulai pribadi Eden untuk menangkapnya sendiri.
Sebelum Barata pergi ke sana menggunakan jet pribadi, para anak buah Barata pergi dengan menggunakan kapal yang mengeluarkan sedikit kebisingan, tentunya Barata tidak ingin Eden tahu jika dia sudah dikepung, barulah setelah para anak buahnya sudah ada di posisi masing-masing mereka memberikan sinyal pada Barata untuk segera datang.
Perjalanan dibutuhkan beberapa jam menuju pulau itu, menggunakan jet pribadi, saat itu Eden sedang makan malam dilayani para pelayannya, dia seperti tidak memiliki beban dan rasa khawatir akan kalah, dia telah meremehkan lawannya.
Para penjaga Eden yang berjaga di seluruh mansion di pulau kecil itu sudah dilumpuhkan, Eden sudah selesai memakan makan malamnya, dia hendak masuk kedalam mansion dan hendak tidur.
Tetapi dia merasa aneh, kenapa begitu sepi, para penjaganya seolah tidak ada, semuanya menjadi hening, sampai pada saat ia melihat bayang-bayang seseorang melangkah kearahnya, dan saat itu juga matanya terbelalak dan tubuhnya bergetar hebat.
***
Aduh maaf ya, padahal novel ini tuh harusnya full romance and no mafia mafiaan, tapi tetap aja kek ada adegan mafia nya. wkwkwk