Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Cerai?


***


Di ruangan pribadi Barata Lewis,


Tasya yang sedang berusaha memikat hati Barata mengikuti pandangan Barata yang penuh arti kearah sampingnya.


Tasya terkejut saat menemukan ada seorang gadis mengenakan pakaian panjang dan terlalu tebal dan tertutup untuk cuaca panas saat ini.


Tasya tidak menyadari keberadaan Alina karena saat sampai ke dalam ruangan, pandangannya seolah terhipnotis oleh aura dan karisma Barata Lewis.


Tasya bisa melihat senyuman di wajah Barata, dan hanya melihat wajah gadis itu, Tasya langsung tahu jika wanita ini adalah wanita yang di nikahi oleh Barata.


Semuanya sudah di informasikan oleh Chaterine Lorren saat lalu jadi Tasya sudah tidak terlalu terkejut lagi.


"Oh jadi ini wanita yang dikatakan menggoda Barata? hmm? dia memang cantik tapi terlalu rata, aku lebih menggoda jadi aku yakin aku pasti menang!" gumam Tasya menyalakan kompetisi dalam hatinya.


"Ben!"


Panggil Barata pada Ben yang menjadi nyamuk sebenarnya di ruangan ini, Ben yang seperti hanya menonton tersadar dan segera menghadap Tuannya.


"Kau urus utusan dari Henskin ini, aku sibuk hari ini dan kau urus juga meeting di ruangan sebelah ya, bawa si Henskin ini ke ruangan meeting dan kalian bahasa di sana, aku sudah tahu garis besarnya, selamat bekerja!" seru Barata sama sekali tidak tertarik pada Tasya.


Tasya mungkin tidak tahu tetapi banyak wanita yang jauh lebih cantik selalu mendekati Barata, tetapi tidak akan ada satupun yang bisa menggoyahkan dirinya.


"APA? ta ... tapi," mendengar itu Ben menjadi sedikit panik, sebelum ia melanjutkan kepanikan di wajahnya Barata langsung menyahuti.


"Bonusmu akan aku tambahkan tahun ini,"


"Siap Bos! laksanakan!" dengan ekspresi yang langsung berubah bersemangat Ben langsung mendekat kearah Tasya dan memintanya untuk mengikuti dirinya.


"Mari Ibu Tasya, kita akan membicarakan masalah bisnis di ruangan meeting," ucap Ben membuat Tasya bingung dan kecewa.


"Ta ... tapi," dia sedikit menoleh kearah Barata dan menjadi gugup, dia tidak boleh terlalu terlihat seolah menggoda Barata tetapi dia juga sudah bersusah payah berdandan sangat cantik.


"Mari Ibu Tasya," sebelum Tasya berhasil merespon lebih, dia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti Ben dengan wajah yang tidak senang.


***


Saat Ben dan Tasya sudah pergi dari ruangan pribadinya, Barata kembali menarik tangan Alina dan membuat nya terjerembab ke pangkuan nya.


"Sayang, dia sudah pergi, tidak akan ada lagi yang mengganggu kita, dan satu lagi ...." Barata membisik dan tersenyum sangat nakal di dekat Alina.


"Aku lebih suka ukuran dada mu, mungkin tidak terlalu besar tetapi pas di tangan dan yang penting aku suka," bisiknya sekarang menyentuh kedua pipi Alina dan hendak menciumnya lagi.


"Tidak boleh, aku harus memperjelas semua ini, luka yang dia berikan bukanlah sesuatu yang bisa aku lupakan, mungkin tubuhku bereaksi berbeda tetapi aku harus memperjelas hatiku!" geram Alina yang beberapa hari ini seperti nya telah lupa diri.


Sungguh, pesona Barata sebagai lelaki dewasa memang memabukkan, tubuh Alina bahkan merespon, terkadang Alina merasa jika tubuhnya bukan lagi miliknya karena tidak bisa ia kendalikan.


"Barata,"


Dengan suara yang pelan dan keberanian yang tersisa Alina mencoba sekuat tenaga untuk melawan keinginan tubuhnya.


"Hmm?" jawab Barata dengan nafas yang hangat, bisa dirasakan oleh Alina di wajahnya karena begitu dekatlah jarak mereka.


"Kau sudah tahu kan jika bukan aku lah yang membunuh Freya, makanya kau tiba-tiba merubah sikapmu seperti ini!" tegas dan singkat, Alina seolah yakin Barata telah mengetahuinya.


"Ck! bahas itu lagi? sudahlah lupakan saja itu," dengan santainya Barata menjawab hal itu, membuat Alina semakin marah dan emosi.


"Lupakan? tidak bisa!" seru Alina mendorong Barata, dia kemudian berdiri dan berbicara dengan tegas.


"Kau menikahi aku karena ingin menjadikan aku pengganti tunangan mu, jika sudah terbukti aku bukanlah yang membunuh tunangan mu maka aku sudah memiliki alasan kuat untuk pergi dan cerai kan? cepat lah katakan jika kau sudah punya buktinya dan biarkan aku pergi!" teriak Alina melepaskan kemarahannya.


Kemarahan ini sebenarnya bukan hanya kemarahan untuk Barata, tetapi untuk dirinya sendiri yang tidak konsisten, dia marah pada dirinya sendiri yang terlena akan pesona monster seperti Barata.


Dia tidak suka dan menolak godaan itu, dia harus tetap pergi, dia harus tetap bebas.


"CERAI?! PERGI?! Heh! Kau bercanda!" geram Barata mencengkeram tangannya sendiri dengan kuat.


Matanya berubah drastis jadi menyeramkan, suaranya yang dalam juga nafasnya yang memburu menyadarkan Alina jika dia seperti nya telah memancing kemarahan seorang monster.