Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Aku akan menjadi wanita yang kuat


***


Hari masih sore saat Barata membawa Alina pulang, sepertinya Barata memberikan kejutan bagi Alina, bagaimana tidak dia diajak ke lantai atas mansionnya dan disana sudah tertata rapih dan indah meja makan dan makanan enak, juga sinar matahari sore yang keemasan menambah keindahan tempat itu.


Sepertinya para pelayan telah bekerja sangat keras untuk mendekorasi tempat ini agar terlihat indah dan romantis.


Barata yang melihat mata berbinar Alina saat melihat kejutannya sekarang bertumpu dengan lututnya dihadapan Alina, dia mengulurkan tangannya, “Hei putri cantik, mau kah kau makan dengan pangeran tampan sepertiku,” serunya dengan senyuman lepas dan terlihat indah sekali.


“Wah, tampan sekali,” gumam Alina keceplosan saat melihat wajah suaminya di sinari mentari keemasan sore itu.


Barata tidak mengenakan jas lagi, hanya mengenakan kemeja putih tetapi dia malah semakin terlihat maskulin dan sangat tampan.


Tanpa disadari Alina terlena dan tersenyum cengengesan sejenak, dia entah kenapa terhipnotis oleh adegan romantis bak di film-film yang ada di hadapannya ini.


“Sayang, aku tahu aku sangat tampan, tapi kau mau membuatku bertekuk lutut di hadapan mu berapa lama lagi,” cetus Barata dengan sangat bangga dan arogannya memuji ketampanannya sendiri.


Walaupun itu benar tetapi tetap saja aneh saat diri sendiri memuji ketampanannya.


Alina sedikit terkejut dan matanya sedikit membesar, “Alina, Alina, apa sih yang terjadi padamu, kau seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta! APA? JATUH CINTA?! Wah wah aku pasti sudah gila!” batin Alina bertengkar lagi, juga lamunannya berlanjut lagi.


Alina memang begitu jika sedang terpesona akan sesuatu, dia akan termenung dan senyum senyum sendiri, tetapi hal itu lah yang membuat orang gemas kepadanya, Alina tidak akan bisa menyembunyikan perasaannya dihadapan orang lain.


“Ah lama!” ketus Barata langsung berdiri, dia menarik dan menggenggam tangan Alina dan segera menggendongnya menuju meja yang sudah dipenuhi makanan itu.


“Kau pasti sengaja kan sayang, kau sudah ketagihan di gendong olehku seperti ini, dasar kau istri manja!” ketus barata lagi sembari berjalan, lalu ia segera meletakkan Alina di kursi dengan lembut.


“Ti … tidak, siapa yang ketagihan, aku hanya ….” Alina berbicara sedikit terbata-bata, dia tidak menemukan jawaban yang tepat untuk menyangkal ucapan Barata seberapa keraspun ia mencoba memaksa otaknya berpikir.


“Ayolah otak, berpikirlah, aku tidak ingin dibilang manja, kenapa tidak ada jawaban untuk menyangkal hal itu! aaaa!” Alina mencoba dengan keras memaksa otaknya bekerja namun tetap saja hasilnya nihil alias tidak ada jawaban untuk menyangkal ucapan Barata Lewis.


“Hais, tidak akan ada yang percaya jika aku pernah bersekolah bahkan kuliah, kenapa aku bisa sangat bodoh sih! Dihadapannya aku bagaikan istri bodoh yang tidak bisa apa-apa, bahkan otakku saja tidak menerima permintaanku untuk menemukan jawaban tepat lagi, ck!” gumam Alina lagi mengasihani nasibnya yang telah dianggap sangat bodoh.


Padahal sebenarnya jika dalam bidang akademis Alina sama sekali tidak bodoh, namun dalam bersosialisasi dan dalam kehidupan atau dunia keras ini, Alina mungkin bisa dibilang sangat mudah dimanfaatkan karena kebaikan hatinya.


Bagaimanapun akademis atau level pendidikan seseorang tidak bisa menjadi ukuran seseorang itu hebat dalam bertahan hidup atau tidak.


“Ck! Kau melamun lagi, sebenarnya apa sih yang ada di kepalamu seharian? Selain mengagumi ketampanan dan kebesaran hatiku, apa lagi yang kau pikirkan?” seru barata lembut sembari sedikit terkekeh melihat sisi menggemaskan dari istrinya ini lagi.


Dunia baginya sudah dalam mode lambat atau slow motion, setiap kali Barata tertawa pelan dan mengusap rambutnya penuh kelembutan maka saat itulah Alina meleleh melihatnya, sekejap dia mengingat jika dulu Barata pernah melakukan hal yang sama, saat mereka kuliah dan Alina dikerjai oleh Barata, Barata mengusap rambut nya dengan cara seperti ini juga.


“Kenapa aku bisa lupa sih?” seru Alina pelan dan tersenyum menunduk.


Dia memang memgaku menyukai Barata dulu dan Barata adalah cinta pertamanya tetapi Alina bahkan tidak mengingat hal manis seperti ini, mungkin Freya ada benarnya saat mengatakan Alina terlalu cuek dan tidak pernah memperhatikan orang lain, bahkan perasaan Barata terhadapnya pun ia tidak sadari karena ia hanya berfokus pada dirinya sendiri.


Mungkin kejadian Freya seperti sebuah peringatan, jika kita mencintai seseorang maka kita harus berusaha dan menunjukkan seberapa berharga orang itu bagi kita, seperti yang dilakukan oleh Barata ini.


Alina segera mengangkat wajahnya lagi, dia akan berubah, dia akan berjanji menjadi wanita kuat dan lebih peduli lagi dengan sekelilingnya apalagi Barata, dia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi lagi pada Barata, kisah ini tidak akan lagi hanya meratapi nasibnya melainkan dia juga ingin bangkit dan berjuang, dia akan mengembalikan rasa sayang yang diberikan oleh Barata berkali-kali lipat.


Mulai hari ini Alina telah berjanji pada dirinya sendiri, untuk menjadi wanita yang kuat, melakukan pelatihan seperti yang disarankan oleh suaminya, juga akan menerima dan memaafkan apa pun yang telah terjadi di masa lalu yang telah menyakitinya itu.


Langkah pertama yang harus ia lakukan adalah harus belajar bersosialisasi dan menekan rasa traumanya dia harus bisa berdiri tegap dan mengangkat wajahnya seperti yang Barata katakan.


“Sayang, aku akan mengatakan ini sebagai jaga-jaga, walau kakak ku Falcon telah asal bicara kepadamu tetapi sebenarnya apa yang kau dengar adalah benar, aku telah tersakiti sejak aku kecil, aku juga pernah tersakiti olehmu juga pernah dimanfaatkan oleh Freya dengan menggunakan dirimu, aku tahu kau telah membuat kesepakatan dengan kakak ku Falcon,”


“Tetapi jika sekali lagi kau menyakitiku dan pergi melepaskan tanganku, aku rasa aku tidak akan bisa menjadi diriku yang waras lagi, mungkin saat itu aku akan bisa menyakiti siapapun, dirimu bahkan diriku sendiri,”


Barata berbicara dengan serius, tentu saja dia tidaklah bodoh, kedatangan Falcon ke mansionnya mana mungkin hanya untuk menanyakan kabar tentangnya, dia tahu falcon telah mencoba menyampaikan sesuatu dan perubahan Alina yang menjadi sangat penurut dan membuka hati pasti alasannya adalah kesepakatan Falcon dan Alina.


Saat ini, Barata sedang memberikan peringatan dengan caranya sendiri.


Mendengar itu entah kenapa Alina menjadi takut namun sedih disaat yang bersamaan, dia takut melihat Barata terluka dan menjadi gila seperti saat lalu, sebenarnya Barata masih terlihat menyeramkan dan sangat arogan dengan pendapatnya yang tidak bisa ditentang, juga auranya yang menekan, tidak ada yang berubah dari sikap dari ciri Barata itu, semua itu mungkin karena trauma dan penyakit paranoid yang ia derita.


Alina juga dia sedih bagaimana tidak bergunanya dirinya sampai sampai dia langsung setuju untuk melepaskan Barata begitu saja dan pergi darinya padahal Barata bukan orang asing melainkan suaminya sendiri.


Saat mendengar itu, Alina yang tadi sudah memegang sendok untuk segera makan segera meletakkan sendoknya, dia kemudian berdiri.


“Aku, aku akan belajar menjadi kuat! Aku akan segera sembuh dari traumaku, aku juga akan berusaha keras menjadi wanita kuat yang pantas berada di sisimu, kau tidak akan perlu lagi takut aku ditindas dan dibodohi, aku janji akan menjadi kuat dan memperhatikan orang-orang di sekitarku!” Alina sedikit berteriak, seperti seorang paskibraka yang sedang membawa bendera.


Matanya sedikit membesar dan tangannya mengepal, lagi-lagi Alina terbawa suasana lagi dan sekarang dia terlihat sangat berlebihan.


***


Jangan lupa di like dan komen