Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Takut kehilangan


***


Di kamar pribadi Barata,


Waktu tinggal menunggu satu menit lagi, Barata melihat waktu bergulir dengan sangat lekat, “Sayang tinggal beberapa detik lagi, aku akan bisa melakukan olahraga kesukaanku,” seru Barata sama sekali tidak malu membahas hal itu.


"Astaga, apakah harus dia mengatakan hal itu! kenapa pula aku diam dan seolah menyetujui nya! ck!" geram Alina sedikit malu dalam hatinya.


Sama sekali dia masih malu, dia belum bisa terbiasa apalagi sekarang dia sudah memilih membuka hatinya, seperti dia merasa mabuk kepayang.


Barata menunggu waktu dengan sangat bersemangat dan saat waktunya akhirnya habis dia langsung menatap Alina dengan mata tajam seperti predator sedang menatap mangsanya.


"Sayang, waktu nya sudah habis, aku akan mulai," bisik Barata mendekat dengan senyuman menyeringai nya.


Hal itu membuat Alina terkejut, dia sudah bisa membayangkan seberapa buas suaminya ini, pastilah tubuhnya akan sangat kelelahan dan pegal, akan ada banyak juga tanda biru yang akan membekas di tubuhnya.


"Kalau dipikirkan dia ini masih membuat aku takut, dia menyeramkan sekali," gumam Alina sudah gugup saat Barata sudah menyekapnya.


Tetapi ....


Saat Barata hendak melakukan olahraga kesukaan nya, ponsel pribadinya segera berdering.


"Tring ... Tring ... Tring!"


Awalnya Barata tidak ingin menghiraukan tetapi bunyi nya terus saja berlangsung, hal itu memantik emosi Barata dan membuat nya garam.


"Sialan! siapa yang berani menganggu kegiatan kesukaan ku ini!? akan ku habisi kau ya!" garam Barata membuat Alina dibuat geleng-geleng lagi seberapa parah Barata mengendalikan emosinya.


Sebelum mengambil ponselnya Barata terlebih dahulu menatap Alina dengan tajam, seolah dia sedang dalam kecamuk batin pribadi.


Setelah itu Barata segera mengangkat panggilannya, dan dia lihatlah jika Ben asisten pribadinya sedang menelepon dirinya.


"HALO?"


Sembari berdecak pinggang Barata menjawab dengan luapan emosi yang meledak-ledak, jika di imajinasi kan maka akan ada api berkobar di sekeliling Barata.


"Halo Tu ... Tuan," dengan sedikit tergesa-gesa dan gugup Ben berbicara dengan atasan nya ini.


"Ada apa? katakan dengan benar dan alasan yang tepat jika tidak akan ku lempar kau ke ujung Antartika! kau tahu jika kau telah mengganggu kegiatan kesukaan ku!" balas Barata membuat Alina otomatis iba terhadap hidup yang dijalani oleh seorang Ben sang asisten yang harus selalu menurut.


"Pasti Ben sangat menderita selama ini, tiba-tiba aku jadi iba padanya," seru Alina tipis sedang berbicara dengan dirinya sendiri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tuan, ini, Tuan Arkana, ayah Alina sedang menuju mansion anda, dia baru saja datang dan mengembalikan semua dana investasi yang kau berikan kepada perusahaan nya, dia tampak sangat murka,"


Dengan cepat namun sedikit gemetaran Ben menjelaskan pada Atasannya, Barata.


Setelah mendengar hal itu mata Barata langsung terbelalak, dia yang berdiri di sisi kasur menilik kearah Alina sejenak dimana Alina hanya menatapnya saja, seperti bertanya tanya apa yang sedang ia berbicara sekarang.


Barata segera menelan Salivanya, seolah tahu apa yang akan terjadi, dia langsung menutup panggilan itu dan segera duduk di sisi Alina dan menatapnya dengan lembut.


"Pada akhirnya aku memang harus menebus kesalahan ku dan membuktikan diri jika aku pantas dan akan melindungi mu, aku tidak akan dan tidak akan bisa kehilangan mu," bisik Barata meraih tangan Alina.


Hal itu membuat Alina kebingungan, entah apa yang dibicarakan oleh Ben dan suaminya tetapi seperti nya itu hal yang sangat penting sampai membuat wajah penuh tidak sabaran Barata berubah menjadi wajah yang khawatir dan takut kehilangan.


***


Hei guys jangan lupa like yaa, maaf jika karya aku masih banyak kurangnya, semoga kalian terhibur yaa. 😢