Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Love talk


***


Mendengar suara ketukan pintu dari suaminya membuat Alina segera merebahkan tubuhnya dan menutupi dirinya dengan selimut, dia sungguh tidak ingin berbicara apapun dengan Barata, entah kenapa setiap kali ia ingin membuka hatinya selalu saja ada halangan baginya.


Barata tidak menyerah disamping itu dia juga tidak suka ditolak, ini adalah mansionnya dia memiliki kunci dari segala ruangan yang ada di mansion ini.


Dengan mudahnya Barata masuk kedalam kamarnya lagi dan mendapati Alina sudah tertidur dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


“Sayang, kau sudah tidur?” tanya Barata pelan sekali, sembari duduk di tepian ranjang.


Tetapi Alina sama sekali tidak bergeming, bagaimanapun kesalahan Barata kali ini sangat fatal, dia tidak akan luluh begitu saja.


Barata terdiam sejenak, dia menatap kearah Alina yang masih tidur, walau ia tahu istrinya berpura-pura tidur tetapi Barata mencoba sekeras mungkin untuk menekan egonya untuk memaksa Alina merespon dirinya segera.


Dia segera naik ke ranjang, dia menarik tubuh istrinya dan memeluknya, seperti malam malam sebelumnya dia mengusap rambut istrinya ini dan mendekapnya erat sekali.


“Sayang, apakah kau tahu, baru tadi ada seseorang membela aku selain kakak tertuaku dahulu,” ucap Barata pelan sekali, nafasnya bahkan terdengar berat dan parau.


“Aku memang brengsek, aku tahu aku bersalah padamu tetapi hatiku dan perilaku ku tidak membiarkan aku mengakui kesalahanku, apakah ini berhubungan dengan paranoidku? Ah, banyak sekali pertanyaan dibenak ku sekarang ini,”


“Aku marah saat ayahmu mengatai aku brengsek, aku marah saat ayahmu menarikmu dan ingin membawamu pergi dariku, tetapi aku berhasil menahannya, bukankah aku hebat? Aku bisa menahan amarahku, apakah kau bisa memuji aku sekali saja? Memberitahu aku jika aku hebat telah berhasil sejauh ini,”


“Mengenai Freya, aku tidak akan membiarkan dia lepas begitu saja, walau kau bilang aku monster dan tidak punya hati, tetapi kau tidak tahu seberapa sakit hatiku jika kau terluka oleh oranglain, dan seberapa gila aku jika kau hendak pergi meninggalkan aku,”


Malam ini Barata berbicara lembut sekali, dia menelan amarahnya sendiri, sesuatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Dia melakukannya demi Alina, dia tahu seberapa penting Arkana bagi Alina, Barata tidak ingin mengacaukan hubungan indah ayah dan anak yang tidak pernah ia dapatkan seumur hidup.


“Sejujurnya diatas dari semua itu, entah kenapa aku merasa sedikit iri dan sangat ingin menjaga hubunganmu dengan ayahmu, disaat yang sama aku ingin kau tidak akan pernah merasakan seberapa sakit saat kita memiliki ayah tetapi dia membenci kita, bukankah aku hebat? Baru kali ini aku memiirkan hubungan relasi oranglain selain diriku dan kamu, sepertinya kau memang telah mengubahku sedikit demi sedikit,”


Keluarga kecilnya bersama Alina seperti perekat hatinya yang rapuh dan hancur itu, karena itulah kadang Barata selalu bersikap berlebihan.


Setelah semua ucapan itu, semua ungkapan hati itu, Alina tetap terdiam, dia hanya mendengar namun tidak ada respon sama sekali.


Barata memejamkan matanya, walau sangat susah dan berat, tetapi kata itu akhirnya keluar dari mulutnya, sebuah kata yang tidak akan pernah ia katakan seumur hidup, hanya kepada Alina ia ucapkan itu.


“Sayang … aku bersalah, maafkan aku ya,” Barata memang tidak pandai membujuk dan merayu, yang ia tahu hanya menjahili dan mengikat istrinya saja.


Sebesar itulah peran Alina dalam hidup Barata, Barata lebih memilih menurunkan egonya yang tidak pernah lunak dibandingkan didiami oleh istrinya.


“Sial, aku bahkan tidak bisa marah lebih dari satu jam, kenapa lelaki ini sangat arogan tetapi lembut disaat yang bersamaan? Apakah dia tidak tahu seberapa berbahaya nya dia jika bersikap seperti ini?” gumam Alina berdebat dengan dirinya sendiri.


Alina yang memang memiliki hati lembut ini pastilah luluh dengan kata tulus dan jujur suaminya tetapi kali ini dia memang harus menunjukkan kepada suaminya jika kebohongan tidak boleh ada lagi diantara mereka.


“Aku akan tetap marah, aku tidak akan memaafkan mu dengan mudah, tapi …”


“Aku tidak akan meninggalkan mu, tidurlah,”


Ucapan singkat Alina yang membuat Barata terkejut namun bahagia disaat yang bersamaan.


“Kau memang orang yang tepat untukku, istriku,” bisik Barata bangga sekali, dia tidak bisa mengungkapkan seberapa bangga dia pada istrinya ini.


Sikap lembut namun sudah semakin tegas, Alina sepertinya telah tumbuh menjadi wanita kuat hanya dalam beberap hari, entah apa yang membuatnya seperti itu.


***


Pengumuman yang baca Boss Playboy aku lanjut senin ya, duh capek banget aku, susah bagi waktu sekarang mau nulis dan waktu di real life 😭 maaf yaa