
“Plak!”
Tamparan keras tiba-tiba mendarat di pipi Alina, perempuan yang di sisi kirinya itu menampar pipi Alina sampai ada sedikit luka dan memar di sisi kiri bibirnya.
“Srek!’
Lalu ia menjambak rambut Alina, “Wanita sialan, diamlah sebelum Tuan Eden berbicara!” geramnya dengan wajahnya yang sangat menyeramkan itu.
“Haha, sudahlah jangan melukainya terlalu berat, maafkan sifatnya ya, dia hanya sedikit agresif dan tidak suka kepadamu,”
“Aku Eden, paman Barata, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu,” serunya dengan senyuman yang menyeringai.
Setelah tahu jika Eden adalah pamannya suaminya membuat Alina semakin takut, entah apa yang akan ia katakan.
“Kau tahu keponakan ku yang paling kecil itu sangat hebat, dia pandai dan bisa merebut sesuatu yang ia inginkan, aku kurang suka, tetapi walau dia begitu kuat dia sebenarnya sangat lemah, jika dia menyukai atau mencintai sesuatu, maka dia akan sungguh sungguh dan jika orang yang ia cintai lenyap maka dia akan gila mungkin akan ikut menyusul ke alam baka,”
“Sama seperti saat kakak tertuanya meninggal, dia tidak bisa menerima kenyataan sampai hampir kehilangan jati diri, dia akhirnya lupa ingatan mengenai kejadian itu karena itulah dia masih hidup ….”
Eden bercerita panjang lebar.
“Apa maksudmu menceritakan hal itu?” ketus Alina belum mengerti apa maksud dan tujuan dari pamannya Barata ini mengatakan itu.
Eden segera menoleh, “Yang aku maksud adalah, kau harus memilih, kau mati disini dan membuat Barata menjadi gila dan bahkan menyusul mu, atau kau tinggalkan Barata agar dia membencimu, dengan begitu dia akan memiliki alasan untuk hidup dengan benci padamu,”
Ucapan mengerikan itu menusuk hati Alina seperti pedang bermata dua, paman Barata, seorang ketua DPR ini seolah mengatakan ucapan menyakitkan itu dengan santai, seolah perasaan dan hubungan antara dirinya dan Barata hanyalah senilai butiran debu.
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Apa yang harus aku jawab, kenapa jadi seperti ini? apakah Barata hanya mainan bagi mereka semua? Kenapa hatiku sakit sekali!”
“Woah, matamu tajam sekali gadis muda, apakah kau marah? Lucu sekali, mengingat kau pernah dilukai olehnya!” balas eden meledek, dia membuat semuanya seolah hanya sebuah panggung untuk menghibur dirinya.
Sungguh mengerikan dan biadab, entah apa kesalahan Barata harus memiliki keluarga se mengerikan lelaki ini.
“Aku bertanya tanya, kenapa suamiku harus memiliki keluarga sepertimu, kau sangat rendah, pengecut! Kau takut melawan suamiku karena kau tahu kau tidak akan bisa lepas dari amarahnya! Jadi kau menggunakan aku sebagai tameng mu! Tapi ingat ini, sekalipun aku meninggalkan Barata, aku akan mengejar mu, aku akan menanam dendam ku untukmu, aku akan mengutuk mu, aku akan hidup tetapi kau akan menyesalinya!”
Baru kali ini, sebuah kemarahan yang benar-benar mengubah seseorang, seorang yang tadinya pendiam dan lemah, dia menjadi kuat hanya karena melihat ketidak adilan diterima oleh seseorang yang penting baginya.
“Hahahaha! Matamu tajam sekali, aku suka, tetapi kau lupa aku Eden Lewis, aku adalah putra paling unggul dari keluarga Eden, berusahalah sekuat tenagamu tapi aku yakin kau akan gagal,” balas Eden menyeringai, dia meremehkan kemarahan seseorang, dia memandang rendah perasaan dan hati seseorang, suatu saat nanti hal itulah yang akan menguburnya hidup hidup.
“Lihat saja! Seberapa keras kau menyakiti suamiku, aku akan membalasnya, kau boleh memisahkan aku dengan suamiku tapi sampai aku mati, aku akan mengejar mu! Lihat saja!”
Alina menatapnya semakin tajam, air matanya menetes dan bibirnya gemetaran, kemarahannya sangat besar kali ini.
Yang membuat Alina tidak akan siap adalah melihat suaminya akan terluka kesekian kalinya, padahal dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melukai hati lelaki itu.
Tetapi mau bagaimana pun keadaan dan takdir mengerikan ini harus mereka jalani, dia juga bersumpah dia akan menjadi kuat, dia akan membalas rasa sakit suaminya, suatu saat nanti, dia akan bisa berdiri dan membela suaminya dengan bangga.
Perpisahan memang tidak akan bisa terelakkan, tetapi itu akan merubah seseorang, seorang wanita yang lugu dan polos menjadi kuat dan akan membela dan berdiri di sisi suaminya.
Eden kemudian terdiam, dia baru pertama kali melihat seorang wanita memiliki tekad yang begitu kuat, dia terdiam sesaat dan melihat tekat Alina, tetapi Eden segera mengacuhkan tatapannya lagi.
“Untuk sesaat kenapa aku merasa gemetaran!” gumamnya terdiam.
“Bawa dia pergi dari sini!” seru Eden pada para anggotanya dan membawa Eden ke tempat gelap di tepi danai pinggiran kota.