Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
SUAMI!


***


Di mansion Barata,


Barata yang akan memutus ikatakan yang salah sedari awal yang juga membuatnya terlihat bodoh memutuskan untuk berbaring sebentar, semua rencana sudah tersusun hanya tinggal mengeksekusi saja.


Ben juga sudah diberitahu mengenai rencananya, sepanjang malam Barata tidak tidur, melakukan semua yang harus ia lakukan, dia tidak akan mengulur waktu lebih lama lagi.


Hanya untuk sebentar, dia ingin berbaring di sisi istrinya,


***


Sebelum Alina bangun, dia ingin memeluknya dan melihatnya sebentar.


Dia naik keatas ranjang, pelan sekali memastikan agar Alina tidak terbangun olehnya, dia menarik selimut dan masuk kedalam, tangan bidangnya dengan mudah mengangkat tubuh Alina agar dekat dengannya.


Semakin lama ia memperhatikan wajah Alina semakin kuat perasaannya dan semakin ingin dia mengikat Alina disisinya, keegoisan semakin kuat dan begitu pula rasa sakit hatinya.


“Aku akan menyembuhkan mu, semua akan aku lakukan untuk menebus kesalahan ku, hanya, aku rasa aku tidak akan pernah bisa melepaskan mu,” bisiknya pelan sekali, mengusap rambut Alina sembari menatap wajahnya yang tenang dalam tidurnya.


Dia mengecup dahi Alina lalu memeluknya kuat tapi tidak terlalu kuat untuk bisa membangunkan Alina.


Matanya menatap lurus, membayangkan bagaimana dia telah menjadi permainan bagi Freya dan keluarganya, dan semua itu mengorbankan Alina yang sama sekali tidak memiliki kesalahan apapun.


Kebencian semakin memupuk dan pembalasan yang ia inginkan tidak lagi ringan, dia ingin sesuatu yang membekas seperti rasa sakit Alina yang membawanya kedalam mimpi buruk.


***


Waktu akhirnya berlalu, pagi menyingsing, Barata telah pergi sebelum Alina bisa menemukannya saat bangun, Alina menatap langit-langit, dia sama sekali tidak bermimpi buruk dan tidurnya nyenyak, dia melihat kearah samping dan dia tidak menemukan Barata di sisinya.


“Aneh, aku menjadi terbiasa dengan aroma dan keberadaannya, sekarang saja aku mencarinya, bodohnya aku,” gumam Alina membayangkan apa yang ia temukan di rumahnya, ia mengingat jika dia tulisan-tulisan Freya itu sangat mengerikan, namun dari itu ia akhirnya tahu jika ternyata perasaan yang ia kira bertepuk sebelah tangan ternyata adalah perasaan berbalas.


“Mungkin dulu ia memang menyukaiku, hanya saja dia bisa menyukai Freya berarti perasaannya tidak kuat dan rapuh, lagian semuanya sudah tidak penting, dia melukai aku dan itu tidak akan bisa di abaikan, waktunya tidak tepat dan semuanya sudah lalu,” Alina tetap mengeraskan hatinya.


Walau hati dan tubuhnya sudah luluh, tetapi dia tetap tidak ingin jatuh kedalam hati Barata lagi, Barata layaknya seperti bom waktu, bisa meledak kapan saja dengan tempramental nya yang mengerikan, disamping itu Barata juga mengidap penyakit paranoid, hal itu tidak bisa ditangani oleh Alina dan dia masih terlalu takut untuk memberikan hatinya kepada Barata.


“Tok … Tok … Tok!”


Setelah beberapa saat tenggelam dalam lamunan nya, seseorang mengetuk pintunya.


Masih mengalami perasaan takut sedikit, dia langsung siaga dan berjalan dengan sangat hati-hati, mengintip siapakah yang mengetuk pintunya.


Saat ia perhatikan yang mengetuk adalah pelayan yang ia kenal segera ia buka, matanya langsung tertuju pada orang baru memakai pakaian dokter, bukan hanya satu tapi banyak.


Alina langsung bersembunyi dibalik pintu, takut melihat orang baru dan lebih berhati-hati.


“Nyonya Alina, Tuan Barata memerintahkan saya untuk mengantarkan para dokter yang telah dipilihkan oleh Tuan untuk pengobatan terapi Nyonya,” pelayan itu menunduk hormat dan mengatakan maksud dari para dokter itu sampai datang ke mansion Barata.


“Tring … Tring … Tring,”


Sebelum Alina bisa merespon, ponselnya berbunyi, dia langsung terperanjat dan menutup pintu kamar dan berlari mengambil ponsel yang ada di dekat kasur.


Para pelayan dan dokter yang menunggu di depan pintu dibuat kebingungan, tetapi mereka memahami keadaan itu.


Alina mengambil ponselnya dan sedikit syok melihat nama yang sedang menghubunginya di layar.


“SUAMI! Dan ada emoticon kiss nya!”


“Ais, aku tidak perhatikan, sepertinya dia menyimpan nomornya dengan nama yang berlebihan di ponselku! Yah walaupun dia yang belikan sih!” ketus Alina segera mengangkat panggilan itu.