
***
Masih di mansioan Barata,
Berbeda dengan Alina yang kelaparan hebat, Barata seolah biasa saja, seolah tenaganya tidak terbatas, Alina merasa tidak adil dalam hal ini, padahal menurut bacaan yang ia baca, jika melakukan hal itu pihak lelaki lebih lelah di bandingkan pihak wanita, tetapi yang Alina lihat sebenarnya sangat berbeda.
Bahkan Barata terlihat tidak bergeming, santai memakan sarapannya dan minum, bahkan kadang Barata menyeringai nakal pada istrinya yang menatapnya dengan tajam.
“Sayang, kau tahu, jika kau menatap ku seperti itu, aku akan menyuruh seluruh pelayan pergi dan menghabisimu di atas meja makan ini,” suara lantang Barata membuat Alina terkejut sekali.
Sungguh, kali ini dia ingin melarikan diri dan kabur saja.
Para pelayan wanita yang mendengar itu senyam senyum dan melirik kearah Alina, hal itu membuat Alina ingin pingsan.
“A .. apa? di … dia bahkan mengatakan hal itu secara lantang di hadapan pelayan? Apakah dia tidak malu, si mesum sialan ini! aaaaa! Aku tidak tahu dia seperti ini, hiks,” Alina berteriak dalam hatinya, dan dia menunduk malu sekali, wajahnya memerah dan dia ingin menonjok wajah Barata sekarang jika bisa.
Barata melihat ekspresi lucu Alina walau menunduk malu sekali tetapi tangan dan mulutnya tidak berhenti makan, pipinya bahkan menggembung karena banyaknya makanan masuk ke mulutnya.
“Srek!”
Barata menyeret kursi Alina yang dekat dengannya agar berada dekat sekali di sisinya.
“Cup!”
“Gadis baikku …” sembari mengusap rambut Alina dan melihat istrinya ini lekat, “Kau harus mengikuti apa kata dokter, aku akan menghubungimu saat aku ada di kantor nanti, aku pergi dulu ya, sayang, lanjutkanlah makannya lagi,” suaranya lembut sekali, dia mengecup dahi istrinya sekali lagi dan memeluknya erat.
Barulah setelah itu Barata pergi bekerja, dia sudah ditunggu Ben karena mereka memiliki pekerjaan yang penting hari ini.
Alina yang ditinggal di ruang makan membeku, tangannya yang masih menggenggam sendok berhenti seperti patung, wajahnya merah sekali seperti tomat, dia sudah tidak mampu melihat para pelayan yang ada di mansion itu.
Walau semua pelayan pria sudah tidak terlihat tetapi tetap saja Alina tidak akan mampu lagi mengangkat wajahnya dihadapan mereka.
Setelah Barata berlalu, Alina menjatuhkan sendoknya dan dia bisa bernafas, “Apa yang baru dia lakukan? Aaaaaa! Sampai kapan aku akan merasa malu seperti ini, sialan kau si mesum monster tidak punya hati!” teriak Alina pelan sekali sembari mencengkeram tangannya.
Para pelayan hanya bisa cengar cengir melihat itu, selama bertahun tahun mereka bekerja dengan Tuan mereka, baru kali ini mereka melihat tuan mereka sangat memanjakan seseorang juga menunjukkan rasa sukanya secara terang-terangan.
Menurut mereka tuan mereka sangat cocok dengan Alina yang memang baik dan tulus.
***
Disaat yang bersamaan Barata sudah naik kedalam mobil, senyuman di wajahnya belum luput, dia mengusap bibirnya dan menatap penuh ceria kearah jalanan yang dilalui mobil.
Barata bahkan bersenandung lagu yang membuat Ben syok dan seperti tidak percaya Tuan nya bersenandung dan tersenyum begitu ceria di pagi hari.
Tangan ben sampai gemetaran, dia seperti melihat fenomena langka yang sangat jarang terjadi, “pakah tuan ku sudah gila? Atau Tuhan sungguh datang merubah hatinya, aku tidak tahu tetapi aku malah semakin gugup melihatnya seperti ini,” gumam Ben merasa semakin gugup dan sangat terkejut.