Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Kau selalu saja mengambil keuntungan dariku!


***


Waktu akhirnya berlalu, Malam sudah menyapa.


Barata baru saja pulang dari kantor dan sudah selesai mandi, seperti biasa dia hanya akan mengenakan piyama tidurnya dan berbaring di kasur bersama Alina, sedari tadi Barata memandangi wajah Alina membuat Alina sedikit gugup dan risih.


“Ada apa? jangan melihatku seperti itu!” ketus Alina memalingkan wajahnya dan memanyunkan bibirnya.


“Hehe, kau mau mengacuhkan aku? sayang, kau tahu kan semakin kau menjauh maka aku akan semakin agresif!” ketus Barata langsung menarik tubuh Alina kedalam dekapannya.


“Cih, arogan!” ketus Alina lagi, dia berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan senyumannya, entah kenapa hanya mengetahui jika yang menyiksanya secara fisik bukan Barata seolah mengangkat sedikit beban dari hatinya.


“Oh iya, aku lupa aku ingin memberimu sesuatu,” Barata kemudian mengingat dia ingin memberikan Alina sesuatu, dia segera bangkit dan mengambil sesuatu dari laci meja kamarnya.


Dia mengambil sebuah ponsel pintar yang ia belikan khusus untuk Alina.


“Ini,” Barata memberikan ponsel itu pada Alina.


“Setiap hari aku merindukanmu, aku juga tidak ingin membawamu sering-sering ke kantor, aku tidak ingin lelaki lain dengan leluasa melihatmu, jadi aku hanya bisa menonton mu melalui cctv,"


"Kau selalu saja bergosip dengan para pelayan bahkan tidak mencoba menghubungiku, aku jadi sedikit kecewa! Jadi aku membelikanmu ponsel saja, setiap kali aku rindu padamu, aku bisa langsung menghubungi mu, ide ku memang sangat brilian! Kau senang kan?”


Dengan tegas dan percaya diri, Barata mengatakan alasannya, dia menunggu respon dari Alina.


“Cih, kau membelikan ku ponsel kan untuk kepentingan mu, kenapa aku harus senang?” seru Alina, saat hendak meraih ponsel itu.


“Yasudah kalau kau tidak mau, aku ambil kembali ponsel ini!” Barata langsung menjauhkan ponsel itu lagi dari Alina, dia ingin Alina tersenyum dan memujinya karena memberikan Alina ponsel.


Sungguh kekanak-kenakan memang.


“Tidak, tidak! aku suka kok, hehe, berikan ponselnya padaku,” dengan mata yang mengikuti keberadaan ponsel Alina langsung mengaktifkan wajah imutnya, dia harus memiliki ponsel, setidaknya agar dia bisa mengetahui informasi dan siapa tahu bisa menjadi jalan untuk bisa kabur dari Barata.


“Umm, kalau begitu bilang ‘Terimakasih sayang’ kau harus memanggilku dengan kata SAYANG, agar aku memberikan ponsel ini padamu,” dengan wajah jahil dan senyuman nakal Barata mengerjai Alina.


“Sial! sial! kenapa dia pintar sekali mengambil keuntungan dariku? Harus memanggilnya sayang lagi! aiss, tapi sabar Alina, demi ponsel, lakukan ini demi ponsel!’ geram Alina menyalakan semangat api dalam dirinya.


Wajahnya yang merah karena merasa malu juga ekspresi yang tidak tenang tidak bisa di tutupi oleh Alina, Alina menghela nafasnya terlebih dahulu, “Demi ponsel! Semangat Alina!” teriak Alina seperti superman yang hendak terbang dalam imajinasinya.


“Terimakasih sayang!” teriak Alina dengan sangat cepat sembari memejamkan matanya.


“Apa sayang? aku tidak dengar? Terlalu cepat,” Barata masih belum puas meledek Alina, dia yang terhibur melihat tingkah Alina yang menurutnya sangat menggemaskan.


“Ck, kau jahat sekali sih, aku kan malu!” teriak Alina langsung menunduk dan menutupi wajahnya dengan tangannya.


Mengatakan kata sayang memang bukanlah hal biasa bagi Alina, mungkin bagi orang lain itu hanya hal biasa tetapi tidak bagi Alina.


“Hehe, kau lucu sekali, kemarilah,” Barata membaringkan tubuhnya dan merentangkan tangannya, menyuruh istrinya yang sudah menggenggam ponsel itu agar datang memeluknya.


“Tidak mau!” ketus Alina memalingkan wajahnya lagi.


“CK, aku hitung sampai tiga! Aku akan menghabisi mu sampai besok pagi jika kau tidak datang kemari”


“Satu … tiga!”


“Kau curang! Jelas-jelas masih ada angka dua!” seru Alina buru-buru datang ke dekat Barata.


Barata langsung mendekap Alina kedalam pelukannya, “Angka duanya sudah aku hapus dari nomor urut angka, terlalu lama, jadi satu sampai tiga saja!’ balas Barata terkekeh.


“Terserahmu lah, tuan arogan yang tidak mau mengalah dan kalah! aku sudah lelah seharian bergosip! aku mau tidur!" geram Alina dalam hatinya, setiap kali dia ada dalam pelukan Barata dia akan merasa nyaman juga mengantuk.


Setelah beberapa saat mengusap pundak Alina, Barata kembali mengajak Alina berbicara, “Besok adalah hari yang penting kan untuk mu dan ayahmu? Tadi siang ayahmu menghubungi aku, katanya menyuruhmu pulang sehari untuk melakukan upacara peringatan hari kematian ibumu, ayahmu selama ini tidak tahu apa yang terjadi, jadi sebaiknya kau pulang besok karena itu hari penting,”


Mendengar ucapan itu membuat Alina sangat terkejut, dia langsung bangkit duduk dan memeriksa apakah yang berbicara dan bersamanya ini adalah benar Barata atau bukan.


“Kau sungguh membiarkan aku pulang? benarkah? aku sedang tidak bermimpi kan?” dengan mata yang bulat dan berbinar seolah tidak menyangka, Alina memastikan ucapan Barata.


Karena keposesifan Barata dan rasa takut jika Alina akan celaka oleh musuh-musuhnya, Alina tidak boleh pergi dari mansion oleh Barata, jadi Alina sangat senang saat mendengar hal ini.


Melihat perubahan istrinya yang menjadi bahagia membuat Barata bersemangat, “Sayang, kau senang?" seru Barata ikut bersemangat.


Alina mengangguk dan tersenyum lebar.


“Itu tidak gratis loh,” seru Barata mengerjai Alina lagi.


“Hah? maksud mu aku harus membayar? kau kan sudah kaya sekali, kenapa kau butuh bayaran lagi?” tanya Alina bingung.


“Tentu saja harus dibayar, apakah kau lupa? aku kan seorang pebisnis, semua yang kulakukan harus ada untungnya, dan khusus untuk kau, kau tidak membayarku dengan uang,” balas Barata tersenyum semakin nakal dan semakin mendekat.


“Jangan bilang ….” seru Alina menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya sembari mengikuti tatapan mata Barata yang berakhir ke arah dadanya.


Barata mengangguk saat Alina menyadari apa yang sebenarnya Barata inginkan.


“TIDAAKKKK! kau memang sudah merencakan ini kan? kau selalu saja mengambil keuntungan dariku! ais!” Alina berteriak dan hendak kabur dari kasur.


Tetapi tentu saja seperti kata Barata, semakin ditolak maka Barata akan semakin bersemangat.


Barata menarik tangan Alina dan mengunci pergerakannya.