
***
Alina kebingungan melihat perubahan mendadak suaminya ini, dia yang tadinya masih berbaring sekarang perlahan duduk dan bertanya, “Ada apa? apakah kau memiliki pekerjaan yang penting?” dengan lembut dan penuh perhatian Alina mencoba menanyakan mengenai apa yang sedang merisaukan suaminya ini.
Barata menggelengkan kepalanya, lalu ia menatap Alina yang terlihat mengkhawatirkan dirinya, dia mengusap pipi istrinya, “Apakah kau akan meninggalkan aku jika kau memiliki kesempatan?” tanya nya dengan mata yang begitu sayu dan pilu, tetapi terlihat serius, Alina tahu jika ini bukanlah sebuah pertanyaan lelucon.
Alina yang sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan masa lalu dan hidup untuk kebahagiannya bersama Barata mengumpulkan keberaniannya, dia menarik nafasnya perlahan,
“Kau bilang padaku untuk melupakan masalalu, tidak mengungkitnya, kau bilang akan mengikatku jika aku berniat untuk pergi, kau bilang akan mengurungku jika aku melangkah lebih jauh dari sisimu, lalu sekarang kenapa kau bertanya hal itu lagi, aku …” Alina terdiam sejenak namun ia segera melanjutkan ucapannya lagi.
“Aku, ingin kau melakukannya seperti itu, aku sudah melarikan diri selama ini, aku selalu kehilangan arah, lemah dan mudah dibodohi, maka seperti yang kau lakukan, tariklah aku dan aku akan tetap di sisimu, sebagai perisai dan tempat untukku bersandar,”
Selama Alina berbicara, mata Barata terbelalak dan hatinya seperti terenyuh namun bergemuruh disaat yang bersamaan, Barata tidak bisa memungkiri jika dia masih merasa bersalah tentang bagaimana Alina menderita bukan karena kesalahannya, tetapi hari ini, wanita yang memiliki hati tulus ini sungguh memaafkan dan menerima dirinya tanpa syarat.
Apapun itu, Barata merasa telah menjadi orang paling beruntung di dunia.
Ditengah pembicaraan yang dalam itu, terdengar pintu kamar yang sedang diketuk, beberapa detik kemudian terdengarlah jika Pak Roy datang dan memberikan pesan, “Tuan, maafkan saya mengganggu anda, tetapi disini ada ayah Nyonya Alina sedang menunggu anda dibawah,” seru Pak Roy dengan sangat hati-hati.
Pak Roy bisa tahu jika dari ekspresi dan gelagat Arkana, jika Arkana sedang dalam keadaan marah.
Alina segera mengernyitkan dahinya setelah mendengar nama itu, “Ayahku?” serunya pelan menoleh kearah Barata yang segera melepas Alina dan berdiri hendak keluar kamar pribadinya.
“Tunggu …” Alina menarik tangan suaminya.
“Tunggu disini, jangan keluar sebelum aku kembali,” tanpa memberikan jawaban, Barata malah menyuruh Alina agar jangan keluar kamar sebelum ia kembali.
Lalu Barata berjalan menjauh menuju pintu, Alina melihat pundak Barata, tangannya bergetar dan dia kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.
“Apakah ayah tahu tentang penyiksaan itu? tapi kenapa bisa? Apakah ini ulah lelaki bernama Falcon itu?” pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala Alina. Tetapi dia yang sedang panik tahu apa yang harus ia lakukan.
“Kali ini aku tidak akan membiarkan Barata menghadapinya sendiri, dia memang memiliki kesalahan tetapi itu semua diakibatkan ketidakadilan dari orang-orang disekitarnya,” seru Alina lagi segera berlari mengejar suaminya dan meraih tangannya.
Alina menggenggamnya erat sekali, walau tubuhnya gemetaran tetapi dia tidak melepaskan eratan tangan itu sedikitpun.
Barata yang sadar tangannya diraih istrinya tentu saja terkejut, dia melihat kearah Alina,
“Kenapa kau ikut? Jangan, kau disini saja, bagaimana jika ada sesuatu, bagaimana jika ini rencana dari ibuku untuk memsisahkan kita, kau disini saja dan tunggu aku!” seru Barata tidak mau mengambil sedikitpun kesempatan untuk kehilangan istrinya.
Alina menggelengkan kepalanya, “Tidak! aku ikut, dia ayahku, kau selalu menahan semua masalah sendiri, kali ini biarkan aku berdiri di sampingmu membantumu, walau sedikit tetapi tolong berikan aku kesempatan untuk membuktikan diriku,” seru Alina dengan tegas walau suaranya sedikit bergetar tetapi Alina seperti sangat yakin dan tidak gentar.
***
Guys jangan lupa di like dan komen ya ☺ biar akunya juga semangat update terimakasih, jika ada kesalahan ketik langsung komen aja ya biar aku perbaiki.
Terimakasih