
Halo guys ❤️
Apa kabar kalian semua?
Semoga tetap dalam keadaan sehat dan dipenuhi kebahagiaan ya 😘
Kali ini aku membawakan kabar gembira loh, author memiliki novel genre mafia yang baru 🔥
Judulnya : Boss Mafia's Hot Girl
Ceritanya pasti keren banget hehe ❤️
Jangan lupa ya mampir dan berikan tanda favorit nya ya di yang baru 😘
🌹🌹🌹
Berikut cuplikan episode nya 😘
***
Di mansion Red,
“Ahhhhh!” teriak Red dalam tidurnya.
Dia tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya, tubuhnya dipenuhi oleh keringat yang membuat baju yang ia gunakan basah.
Pendingin ruangan sudah tidak mampu membendung keringat yang bercucuran di tubuhnya itu.
Ya, memang sedari tadi dia sudah sampai di mansion nya, untuk urusan yang tertinggal sudah ia serahkan kepada Sai, anggota kepercayaan nya.
Red sejenak mengusap dengan kasar rambut yang sudah agak basah karena keringat.
Jantungnya berdegup begitu cepat karena memang adrenalinnya meningkat setelah mengalami mimpi buruk yang ia alami selama kurang lebih 12 tahun ini.
Saat usianya 18 tahun, seluruh keluarganya di bunuh di depan matanya, dan saat ini usianya sudah beranjak di usia 30 tahun, namun rasa sakit dan trauma itu tetap saja melekat dalam dirinya.
Seolah menyalahkan dirinya sendiri karena hidup sendirian, karena tidak bisa melindungi keluarganya.
Red setiap malam bermimpi buruk akan kejadian itu.
Sama seperti biasa, jika Red bermimpi buruk dan dadanya sesak, dia akan meminum pil penenang yang sudah diresepkan oleh dokter pribadi untuk dirinya, agar Red kembali tenang dan bisa berpikir dengan jernih.
Saat hendak mengambil obat penenang yang berada di dekat meja kamar, ia kembali melihat Winter, putri dari Wilson Benson, orang yang mengakibatkan mala petaka dan rasa sakit dalam hidupnya.
Dilihatnya Winter yang masih mengenakan gaun pengantin putih yang sudah compang-camping, robek akibat ulahnya itu.
Sekarang keadaan Winter begitu mengenaskan, wajahnya begitu pucat, karena tubuhnya memang lemah membuat tubuhnya terlihat tak berdaya.
Juga sekarang kedua tangannya tengah di rantai kebelakang.
Saat ini keadaan Winter begitu mengkhawatirkan, Winter terduduk di sudut ruangan, terlihat begitu kedinginan.
Namun kepalanya terlihat mengangguk-angguk karena merasa begitu mengantuk namun tidak bisa tidur dengan nyaman karena tak bisa bersandar dengan nyaman karena dibelakangnya hanyalah dinding yang keras.
Sejenak hati Red seperti di tusuk jarum saat melihat keadaan Winter, saat ini dia seperti melihat cerminan dirinya saat dahulu, tidak bisa melakukan apapun dan pasrah akan takdir, pasrah akan ajal yang akan segera menjemput.
“Jangan salahkan aku, harusnya sekarang kau sudah mati, tapi sepertinya memang ajal mu belumlah dekat, aku masih membutuhkan mu!” sahut Red membiarkan Winter terduduk di ruangan itu, dengan tangan terikat dan gaun yang sudah tidak layak disebut sebagai gaun.
***
“Ayah, lihatlah, itu Ibu, dia sedang memanggil kita? Hahaha, sudah kuduga kejadian yang tadi siang hanyalah mimpi,” seru Winter begitu bahagia pada ayahnya Wilson Benson.
Saat ini Winter sedang berada di taman bunga yang begitu luas, indah dengan udara yang menyegarkan.
Winter bisa melihat jika Ibunya yang sangat ia rindukan itu sedang memanggil-manggil dirinya sembari melambaikan tangan.
Ibunya terlihat begitu cantik, menggunakan gaun yang berwarna biru terang kesukaan Ibunya.
“Ayah, ayo kita menjemput Ibu, tidak kah Ayah begitu merindukan Ibu?” sahut Winter hendak menggandeng tangan ayahnya yang memang berada di sampingnya itu.
Namun anehnya, ayahnya, Wilson Benson hanya terdiam dan termenung, tidak mengucapkan sepatah katapun.
“Ayah?” sahut Winter lagi karena merasa kebingungan dengan sikap ayahnya yang tidak biasa itu.
Lalu, setelah Winter memanggil ayahnya, semuanya berubah, taman bunga yang indah itu berubah menjadi gedung aula yang ia lihat tadi siang.
Semuanya berubah menjadi merah, ayahnya pun terlihat terjatuh tidak sadarkan diri di sampingnya.
Dan Ibunya yang tadi terlihat dari kejauhan sekarang sudah lenyap.
“Ayah? Ibu? Ahhhhh!” teriak Winter tiba-tiba saja bangun saat ada guyuran air yang begitu dingin, seperti air es membasahi tubuhnya.
Winter kemudian menyadari, jika baru saja dia telah bermimpi, dan kejadian kemarin adalah nyata.
Bahwa semua kebahagiaan yang ia miliki sudah hilang, termasuk calon suaminya telah berselingkuh dan kabur begitu saja meninggalkan dirinya.
“Sepertinya mood mu masih saja bagus ya, masih bisa tidur dengan tenang di saat seperti ini!” ancam Red ke arah Winter yang baru saja terbangun.
Namun, tidak ada jawaban yang terucap dari mulut Winter, mulut membiru yang pucat itu hanya terdiam membisu.
Sekali lagi Winter ditampar oleh kenyataan yang tidak bisa ia terima.
Kenyataan yang hampir membuatnya gila.
Kenyataan yang membuatnya ingin mati saja.
Wajah pucat, lemah dan tidak berdaya itu sedang tergeletak lemah sekarang ini dihadapan Bos mafia yang memiliki kenangan dan masa lalu pahit itu.
Red tadinya tengah berdiri, menatap Winter dengan tatapannya yang dingin dan benci.
Lalu kemudian dia menunduk agar dia bisa membisik dekat sekali di telinga Winter yang kelihatan sudah tak memiliki semangat hidup lagi.
“Hei gadis manis, kau masih dibutuhkan, jika tidak ingin ayahmu mati dan dibuang ke lautan sana, kau harus mengikuti perintahku! Apakah kau mengerti?” bisik Red mencengkeram dagu Winter yang terlihat begitu lemah.
“Ayah?” balas Winter kemudian meneteskan air matanya, sesaat Winter lupa jika ia masih memiliki ayah yang masih hidup.
“Air mata ini! Aku sangat membencinya! Selalu mengingatkan ku dengan kepedihan!"
"Jangan sekali-sekali aku melihatmu meneteskan air mata ini lagi jika kau tidak ingin mendapatkan penyiksaan! Apakah kau mengerti?!" ancam Red sembari dengan begitu kasar mengusap air mata Winter.
Mendengar ucapan yang begitu mencekam, dan melihat mata yang terlihat seperti mata seorang iblis itu membuat Winter kembali ketakutan, dia langsung tertunduk dan mengangguk.
Winter terlihat begitu rapuh dan tidak berdaya.
“Bagus, jika kau cepat paham seperti ini kita berdua bisa bekerja sama dengan baik!” sahut Red sembari tersenyum sinis ke arah Winter yang sudah tertunduk.
Lalu segera Red melepaskan cengkeraman yang kuat dari Winter, dia melepaskannya begitu kuat sampai tubuh Winter tersungkur ke lantai.
Tapi hal itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Red, rasa kemanusiaan sudah sirna dari hatinya, setelah 12 tahun lalu, perasaan itu sudah mati dari dalam dirinya.
Segera Red menyuruh pelayan perempuan yang berada di mansion nya untuk membuka borgol tangan Winter dan membersihkan dirinya serta memberikan pakaian untuknya.
Karena memang saat ini Winter sudahlah setengah telanjaang, baju nya begitu compang camping.
***
Setelah beberapa saat Winter sudah berpakaian bersih dan rapih, pelayan itu menuntun Winter menuju meja makan tempat Red menyantap sarapan paginya.
Tanpa adanya perlawanan, Winter hanya mengikuti pelayan itu.
Di meja makan, Winter bisa melihat jika di meja yang begitu luas hanya ada Red seorang sedang menyantap makanannya.
Melihat makanan yang berada di meja makan Winter hanya bisa menelan salivanya.
Bagaimana tidak, semalaman dia belum mengkonsumsi makanan apapun, dan saat ini dia begitu lapar sampai tidak bisa menutupi ekspresi kelaparan nya itu.
“Glek!”
Sedari tadi Winter hanya bisa menelan salivanya karena memang Red sama sekali tidak menyuruh Winter makan.
Jangankan makan, dirinya bahkan hanya diperbolehkan berdiri disitu.
Setelah Red selesai menyantap makan paginya, barulah Red mengkodekan ke arah Winter yang sedang melihati makanannya.
Red mengkodekan Winter hanya dengan menggunakan jari telunjuknya.
Winter yang memang tidak bisa melakukan apapun hanya bisa menurut dan mendekat ke arah Red.
Saat sudah sampai di sisi Red, Red kemudian membisikkan sesuatu pada Winter.
“Setiap pagi kau harus makan setelah aku selesai makan, jangan berani-berani nya makan jika aku belum makan, aku masih membutuhkan mu dengan ukuran tubuh yang seperti ini, karena tubuhmu masih sangat berguna untuk sesuatu!” bisik Red tersenyum tipis dan langsung berlalu meninggalkan Winter.
“Oh ya, setelah kau selesai memakan makanan mu, kau harus langsung ke ruangan ku!” seru Red langsung melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan nya itu.
🌹🌹🌹🌹
Sampai jumpa di karya baru ❤️