Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Lihatlah kekalahan mu!


***


Ketika Eden melihat orang itu, tiba-tiba saja Eden bergetar ketakutan dan perlahan berjalan mundur, dia kemudian berteriak, “Pengawal? Pengawal? Diamana lkalian?” teriaknya seperti sedang kalang kabut hendak kabur dari Barata.


Ya, Barata lah yang datang ke tempat itu, melangkah dan menunjukkan wajahnya yang menyeramkan.


Tetapi walau dia sudah berteriak tetap saja tidak ada orang yang datang.


Barata hanya menyeringai melihat wajah penuh ketakutan itu, “Menjijikkan sekali, orang sepertimu lah yang membuat keluargaku terpecah belah, pengecut sepertimu bahkan tidak pantas menjadi lawanku!’ geram Barata duduk santai di tempat tadi dia Eden makan, dia tahu Eden tidak akan bisa lari karena jika dia lari maka dia akan jatuh dari ketinggian.


“Kenapa kau bisa ada disini?” teriak Eden dengan wajahnya yang ketakutan namun dia mencoba berani.


“Aku? Tadinya mau membunuhmu tetapi seseorang yang penting mengatakan padaku untuk tidak menyentuh hal kotor sepertimu, jadi aku datang kesini untuk memastikan wajah pengecutmu yang sebentar lagi akan hancur,” balas Barata menatap tajam kearah Eden.


Jika saja bukan karena istrinya, maka Barata sudah akan menjatuhkan Eden ke lautan dan menjadi makanan ikan, atau membunuhnya dengan tangannya sendiri, bagaimanapun kesalahan Eden tidak akan bisa ia maafkan selamanya, merenggut nyawa kakak tertuanya, juga menghancurkan keluargana dan bahkan menculik istrinya dan membuat mereka terpisah selama dua tahun.


Hanya memikirkannya saja sudah membuat Barata murka dan sekarang saja dia sedang berusaha keras menahan tangannya untuk tidak melayangkan tinju kepada Eden.


“Jangan senang dulu bocah, aku bisa membalikkan keadaan dan ….” Sebelum Eden berhasil berbicara, anak buah Barata segera menahan Eden dan menyumpal mulutnya.


“Tutup mulut mu pak tua sialan! Aku kesini bukan untuk mendengar ocehanmu, aku kesini untuk mengatakan sesuatu, jika kau tidak lebih berharga bahkan dari seujung butir pasir sana, kau itu rendah tidak pantas untuk diseut sebagai manusia, aku kesini untuk mengatakan jika kakak ku yang telah kau bunuh, dia tetap hidup di hatiku, hati ibuku, ayahku dan Falcon, sedangkan kau, kau akan mati dan tidak akan ada seorangpun yang mengingatmu,”


“Orang orang akan mencemoomu dan kau akan lebih jijik daripada sebuah lumpur, kebanggan dan kehormatan yang kau inginkan akan membuatmu menjadi hina dan kotor, aku ingin mengatakan jika kau akan lebih menderita daripada sekedar mati, kau tentu tidak akan mati tetapi kau akan meminta untuk mati,”


“Itulah hukuman mu dariku, dan istriku yang akan menuntaskannya, jadi diam saja dan menurut, hanya itu yang ingin aku katakan,” seru Barata tersenyum lepas, dia telah melepaskan rasa sakit di hatinya, dia menatap lurus kearah lautan dan hatinya menjadi lega.


“Kakak, lihatlah aku, aku sudah ingat tentang mu tetapi aku tidak hancur, sekarang aku sudah menangkap orang yang berbuat jahat kepBaratau, dan sekarang aku sudah memiliki seseorang yang mirip sepertimu, dia istriku, aku akan tetap mengingatmu di hatiku, aku akan melepaskan kemarahanku dan aku ingin hidup bahagia seperti yang kau mau kak,” Barata berbicara dalam hatinya.


Saat ini dia sedang melepaskan dendam, rasa amarah, kecewa dan rasa sakitnya, di tempat ini, dia ingin memulai semuanya dengan hari baru bersama istrinya.


Saat itu juga, Eden dibawa anak buah Barata, mereka kembali ke kota dan Eden langsung memasuki pengadilan keesokan harinya langsung.


Barata melihat istrinya berdiri dengan percaya diri di hadapan semua orang, mengatakan semua kasus yang telah ia selidik berserta saksi hidup yang merupakan pengasuh mereka dahulu yaitu Mirna.


Barata menonton istrinya yang terlihat semakin cantik dan menarik mengenakan pakaian formal, percaya diri dan tegas di hadapan semua orang.


Eden sudah tidak bisa berkutik saat Mirna mengakui semua tuduhan kepada Eden, walau Mirna juga akan dihukum dan dipenjara dia sama sekali tidak peduli, lagian hidupnya sudah hancur karena telah ditipu habis habisan selama bertahun tahun.


Proses pengadilan berjalan cukup intens, tetapi pihak Eden sudah tidak bisa berbuat apa-apa, semuanya memiliki bukti akurat bahkan saksi hidup yang juga memiliki bukti berupa chat dan email, juga barang-barang dari Eden.


Walau Eden memiliki banyak pendukung dari kalangan pemerintahan tetapi hukumannya sudah tidak bisa lagi di manipulasi, bagaimanapun jika Eden tertangkap maka semua jajarannya juga akan tertangkap.


Dan ricuhnya demo juga tekanan publik menuntut keadilan pada Falcon yang telah di jebak semakin merebak dan memanas, jadi hukuman untuk Eden harus dengan cepat di laksanakan, dan pengadilan memutuskan untuk memenjarakan Eden selama seumur hidup di penjara bawah tanah di pulau terpencil milik negara, tidak boleh ada yang mengunjungi sampai akhir hayatnya.


Itulah hukuman yang tepat menurut pengadilan, karena tidak diberlakukan hukuman mati di negara ini.


Alina yang memang tahu tidak akan bisa sampai hukuman mati mengerti dan menerima putusan itu, dia tersenyum dan matanya seolah berbicara kepada Eden, jika sekarang dia telah berhasil membalaskan dendamnya dengan cara yang pantas dan tepat.


“Tidak! tidak! tidak! apa kalian tidak tahu siapa aku?”


“Aku Eden! Kalian tidak bisa melakukan hal ini kepadaku!”


“Akan ku balas kalian!”


“Tidak!”


Eden berteriak dan tidak terima dengan keputusan hakim, tetapi pihak polisi segera mengamankan Eden dan menyeretnya menuju penjara yang akan menjadi tempatnya.


Chaterine Lorren yang hanya bisa melihat dari layar karena dia harus menjaga suaminya menangis begitu haru, dia merasa bersalah karena dulu selalu ingin memisahkan putranya itu dengan Alina dan sekarang malah Alina lah yang membantu putranya membalaskan dendamnya.


Sedangkan Yacob, dia tidak bisa melakukan apapun, hanya saja perasaannya campur aduk, dia merasa senang adiknya mendapatkan hukuman tetapi juga merasa sedih tidak bisa meminta maaf secara langsung pada putranya itu.