
Disaat Alina tersungkur dan mencari tahu apakah kesalahan nya pada Freya,
Disaat yang sama di sebuah ruangan ditempat yang berbeda,
Barata sedang duduk dengan wajahnya yang tampak tidak senang, dihadapan seorang pria yang dia selidiki saat lalu, pria yang membawa ponsel Freya dengannya.
Lucas membawa pria itu dan menyerahkan pria itu pada Barata agar mendengar sendiri ucapan yang pria tersebut.
Penampilan pria itu sudah lebam-lebam, dia bahkan sudah sedikit takut hanya melihat Barata sebentar. Dia terus saja menundukkan dengan tubuhnya yang bergetar hebat.
"Kenapa kau memiliki ponsel Freya? apakah kau yang merencanakannya dengan keluarga ku? apakah keluargaku menyuruh mu?"
Pertanyaan itu langsung ditanyakan oleh Barata dengan nada yang datar, dia tidak ingin lagi berbasa-basi, dia juga tidak akan memberikan ampun jika saja lelaki ini berbohong padanya seperti saat lalu.
"A ... ampuni saya Tuan, sa ... saya hanya dimanfaatkan, ampuni saya!" dengan memohon dan menunduk ketakutan dia tidak menjawab satupun pertanyaan Barata, yang ada hanyalah pembelaan diri yang tidak penting.
"Kau salah jika mengira aku akan sedikit lembut, kau punya nenek di London kan? aku akan melenyapkan nya jika kau tidak membuka mulut mu!"
Ucap Barata dengan mata tajam dan wajah mengerikannya.
Lelaki itu tentunya takut setengah mati, mulutnya yang tadi terutup rapat mulai menceritakan apa yang ia ketahui.
***
Kejadian dari sudut pandang Dean, nama lelaki yang menjadi saksi satu-satunya kematian Freya.
Lelaki bernama Dean ini adalah lelaki muda dengan usia 27 tahun, seperti anak kota nakal pada umumnya dia menggunakan obat-obatan terlarang, melakukan hubungan badan bebas dan hal-hal terlarang lainnya.
Dia mengenal Freya dari dunia modeling, Freya cantik dan menarik bagi Dean, mereka bahkan beberapa kali berhubungan badan bersama, tetapi tanpa ikatan.
Dean bisa dibilang adalah friends with benefit bagi Freya, tetapi Dean bukan hanya melakukan itu dengan Freya tentunya, dengan teman modeling Freya yang lain juga ia lakukan.
(Notes : friends with benefit artinya berteman dengan tujuan gitu-gituan, koreksi jika salah ya. makasih)
Entah kesialan atau hari buruk menimpa Dean, suatu hari dia sedang melakukan hubungan badan dengan teman wanitanya, sembari menggunakan obat-obatan terlarang, tanpa di duga teman wanita nya itu tiba-tiba tidak sadarkan diri karena Over dosis.
Dean panik, dia tidak tahu harus melakukan apa, dia juga tidak ingin melaporkan kepada polisi dan membawa teman wanita nya itu ke rumah sakit. Bisa-bisa dia dipenjara dan neneknya akan tahu, walau dia sangat nakal tetapi dia tidak ingin neneknya tahu semua perbuatan gilanya.
Dia datang ke mobil yang memang merupakan mobil Freya sendiri, Dean tidak bertanya dan pikirannya tidak berproses mengapa teman wanita nya yang baru OD menggunakan mobil Freya.
Yang Dean tahu dan ingat hanyalah saat itu Freya memberikan solusi hidup dan mati bagi Dean, dimana Dean disuruh memanipulasi kematian teman wanita yang telah OD dan memang sudah meninggal menjadi kematian Freya sendiri.
Caranya hanya dengan menyalakan mobil tanpa pengemudi dan membiarkan nya kecelakaan jatuh ke jurang dan terbakar hangus.
Tetapi identitas dan ponsel Freya harus tetap ada di dalam mobil bersama wanita itu, Freya juga berjanji akan mengurus sisanya, bahkan memulangkan Dean ke London saat itu juga.
Saat skenario mengerikan itu di ketahui oleh Dean, otaknya yang tidak bisa berpikir jernih merasa semuanya hanya kebetulan dan Freya hanya sedang berbaik hati padanya.
Untuk berjaga-jaga Dean tidak meletakkan ponsel Freya di mobil, melainkan menyembunyikan ponsel Freya itu sebagai jaminan atau alat untuk melindungi diri jika suatu saat Freya datang mengancam dirinya.
Ponsel itu hanya pernah sekali ia nyalakan si London tetapi siapa sangka Barata mampu melacak nya.
Dean juga ditekankan, jika ada orang yang kebetulan tahu hubungan dia dengan Freya maka Dean harus menyebutkan nama Alina.
Hanya itu syaratnya bagi Dean agar bisa selamat, tanpa dipenjara dan tanpa dibenci oleh neneknya.
***
Mendengar semua skenario gila itu, Barata terdiam, wajahnya muram dan merah, tangannya mengepal begitu kuat.
"Srek!"
Dia menarik kerah baju Dean dan berbicara sembari menggertakkan giginya kuat karena sebegitu besarlah emosinya.
"JADI KAU MAU BILANG FREYA MASIH HIDUP DILUARAN SANA?!" teriak Barata dengan nafas terengah-engah.
Sangat marah dan benci, dia tidak tahu harus bagaimana mengatasi kemarahannya kali ini.
Dengan menangis dan bergetar ketakutan Dean menjawab dengan segala ketakutan, "Sungguh Tuan, aku mengatakan yang sebenarnya, aku mohon ampun karena saat lalu berbohong, tetapi Freya lah yang menyuruhku untuk menyebut nama Alina," serunya merintih kesakitan.
"JANGAN COBA-COBA MENYEBUT NAMA ALINA ATAU KU POTONG LIDAHMU BAJINGAN!" geram Barata melemparkan Dean dari tangannya, lalu ia menendang kursi yang tadi ia duduki di ruangan itu.