
***
Di ruang meeting, semua karyawan Barata masih terdiam seperti tidak menyangka, setelah beberapa saat baru lah suara menjadi ricuh.
"Gadis cantik tadi pasti adalah penyelamat untuk kita!"
"Iya! ini fenomena baru, setelah sekian lama aku melihat Pak Barata terlihat sangat perhatian pada seorang gadis!"
Para karyawan itu berbisik dan memutuskan jika Alina sepertinya akan bisa mengubah sikap pemarah Barata.
"Ho ho ho, cinta memang bisa merobohkan apapun! anak muda!" para karyawan yang sudah tua yang menjadi kepala di cabang lain hanya bisa geleng-geleng dan mengingat masa muda.
"Sepertinya keberuntungan satu tahunku sudah ku gunakan hari ini, aku tidak jadi batal nikah, thank God!" yang membawa present tadi sudah bersyukur sekali karena bayangan mengerikan nya tidak jadi kenyataan.
***
Sedangkan Barata, di ruang pribadinya, dia sudah duduk dan memangku Alina.
Barata segera menempelkan wajahnya di dada Alina hendak mendengar detak jantung Alina.
"Detak jantung mu normal, apakah kau ketakutan melihat orang banyak? apa yang kau rasakan? apakah kau merasa tertekan? tubuhmu gemetaran dan aku pikir kau mengalami hal seperti tadi malam," dengan wajah yang serius Barata mengusap-usap tangan Alina, pundaknya dan seperti menenangkan Alina.
Dia memberikan metode seperti yang ia lakukan tadi malam untuk menenangkan Alina.
"Tenanglah, jangan takut, aku akan melindungi mu," seru Barata memeluk Alina erat sekali sembari mengusap lembut pundak Alina.
Alina yang baru saja selesai memproses semua yang baru saja terjadi merasa heran dengan sikap khawatir dari Barata, Alina tidak ingat apa yang terjadi tadi malam, sepertinya hal itulah yang membuat Barata merasa khawatir.
"Umm, Ba ... Barata," seru Alina pelan, dia harus menjelaskan kesalahpahaman ini.
"Ya? kau sudah baikan?" Barata merespon dengan wajah yang bersemangat, sama sekali tidak ada kebohongan dari wajah itu.
"Bu ... bukan itu, aku, aku tidak takut ..." balas Alina dengan jawaban sedikit terjeda, dia memeriksa ekspresi wajah Barata terlebih dahulu.
Hal ini entah mengapa menjadi memalukan, karena alasan konyol yang akan ia utarakan setelah ini.
"Hmm?" Barata menunggu ucapan selanjutnya dari Alina sembari tetap memeluk Alina.
"Aku, aku hanya merasa haus, dan aku terlalu malu hanya untuk mengambil minuman," seru Alina melanjutkan ucapannya dengan cepat seperti nge rap.
Saat mengatakan itu pipi Alina menjadi merah padam karena malu.
"Sialan, aku sangat khawatir kau tahu! kenapa wajahmu terlihat sangat tertekan hanya karena mau minum? kalau haus ya tinggal minum, siapa memang yang melarang?" mengetahui alasan receh Alina membuat Barata tidak habis pikir.
Alina terlalu aneh menurut Barata, bisa-bisanya menahan haus karena merasa malu.
"Siapa suruh kau membawaku ke ruangan menegangkan seperti itu, biarkan aku pulang saja ya," Alina langsung mengernyit dan menjawab dengan jawaban yang pelan.
"Lihat ini, dia menggoda ku lagi, dia akan terlihat sangat imut jika aku mau marah," gumam Barata yang tadi mengangkat dagunya dan memicingkan matanya mulai tergoda lagi oleh sikap apa adanya dan imut Alina.
"Kau pasti menggodaku kan? kau harus diberikan hukuman!" seru Barata membuat Alina terkejut dan hendak melarikan diri.
Tetapi dia bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun karena tenaga Barata yang sungguh besar jika dibandingkan dengan Alina.
"Sialan! si mesum ini mengambil kesempatan dalam kesempitan lagi, jika sudah tertangkap olehnya seperti tertangkap singa liar, tidak bisa menarik diri!" gumam Alina sudah pasrah dengan kehidupan nya yang sudah seperti rollercoaster.
Barata dengan sigap mengambil air minum yang ada di atas mejanya, dia memasukkan air minum ke dalam mulutnya dan langsung mencium Alina untuk memberikan air minum.
"Kan sudah kuduga, kenapa dia pintar sekali mengambil keuntungan dari orang lain!" geram Alina yang memang masih merasa haus meneguk minuman dari mulut Barata.
(Author : iyuh, gimana gitu ya? aku yang nulis aku yang geli, maapin ðŸ˜)
Alina secara tidak sadar telah terbiasa dengan ciuman dan sentuhan Barata, entah karena pada dasarnya dia memang pernah suka pada Barata, tetapi kali ini yang dirasakan oleh Alina hanya rasa hangat bercampur aman.
Trauma dan rasa takutnya secara ajaib bisa ia lupakan hanya karena lelaki ini memeluknya. Tetapi Alina belum sadar.
***
Jangan lupa di like dan berikan saran membangun nya ya, dan follow IG author : @nitanaiibaho
Kalian bisa DM dan tanya2 disana. 🥰
Terimakasih