Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Punya alasan


***


Di mansion Barata,


Nampaknya perawatan yang dilakukan terlihat baik, Alina melakukan nya dengan baik, sebenarnya Alina masih merasa dirinya sama sekali tidak membutuhkan pengobatan yang berlebihan seperti ini.


Alina merasa dia tidak sakit, tetapi apa boleh buat, jika Barata menginginkan nya maka hal itu harus terwujud agar tidak terjadi masalah yang tidak diinginkan.


***


Sedangkan Barata yang baru saja membereskan satu masalahnya sedang ada di dalam mobil.


Kepalanya melayang dia merasa sangat aneh, awalnya dia mengira jika saat bertemu dengan Freya mungkin akan ada hal yang membuat nya ragu atau yang lain, tetapi ternyata sama sekali tidak ada.


Rasanya kebersamaan singkat antara dirinya dan Freya seperti tidak pernah ada, walau dia tidak pernah berbohong bagaimana sebenarnya dia mengubah Freya menjadi Alina, tetapi tetap saja rasanya sangat aneh dan janggal.


"Tuan, kita sudah sampai,"


Setelah lamunan panjangnya, Ben memberitahukan pada Barata jika mereka telah sampai di kediaman keluarga Lorren, rumah lama Barata.


Seolah tahu Barata akan datang, semua pelayan berjejer hormat, para penjaga, pengawal semuanya langsung menunduk seperti menyambut seorang raja datang.


Dengan angkuh dan tidak peduli dia berjalan seperti biasa, tujuannya datang ke sini adalah bertemu ibunya, dia ingin memberikan peringatan jika hidupnya adalah miliknya dan siapapun tidak boleh dan tidak ia ijinkan mengusik bahkan itu ibunya sendiri pun.


"Putraku, Barata, akhirnya kau pulang nak," Chaterine berlari dengan wajahnya yang sangat bahagia, dia hampir menangis berlari memeluk putranya yang telah lama pergi.


Barata menanggapi dengan sinis, bagaimana pun Barata tidak merasakan apapun, perasaan kekeluargaan atau apapun orang menyebutkan nya, Barata tidak pernah merasakan dan menerima perasaan seperti itu, jadi bagi Barata tidak ada yang istimewa dari sekumpulan orang yang dinamakan keluarga.


"Sudahlah berhenti berpura-pura baik dan menganggap aku sebagai putramu, aku datang sendiri kesini karena aku mau memperingati Ibu, jangan berani-berani menyentuh istriku! dia istriku dan dia bagian dari hidupku! pelayan yang kau suruh menyiksa istriku, kau melakukan cara yang kotor dan menjijikkan!"


Ketus Barata pada ibunya yang sebenarnya sungguh merindukan putranya ini.


Tetapi rasanya aneh, pelayan itu sudah tidak memakai pakaian pelayan melainkan baju mewah seperti yang dikenakan ibunya.


Wanita itu hanya sedang melintas di dekat taman milik ibunya, tetapi Barata sama sekali tidak tertarik, dia hanya ingin ibunya dan keluarga nya agar berhenti nemata-matai dan mengusik hidupnya.


Chatrine yang sudah siap akan segala kata kebencian dari putranya tetap tidak menyerah.


"Pelayan itu Ibu perintahkan hanya mengawasi dari dekat, itu kesepakatan mereka dengan wanita lama mu untuk menyiksa atau melukai wanita yang sedang ada di sisimu, Ibu juga sudah menghukum mereka, jadi duduk sebentar dan tunggu Ibu buatkan minum ya," dengan sangat bersemangat dan senang, Ibunya hendak mengambil teh dan menyambut putranya.


Tetapi saat Chatrine hendak beranjak Barata langsung melangkah, "Aku tidak butuh, sambutan hangat tidak penting ini sudah tidak aku butuhkan, aku dibuang selama bertahun-tahun, sikap menjijikkan seperti ini tidak akan membuat aku kembali! aku pergi, dan jangan mendekati aku dan istriku lagi, jika tidak aku akan melakukan apapun!"


Peringatan keras dan menekan, Barata langsung berlalu, membuat Chatrine hampir menangis.


Dia sangat merindukan putranya, dia hanya bisa mengamati dari jauh dan melihat video ataupun foto dari mata-matanya.


Sekarang Barata pulang setelah sekian lama, setelah Barata memiliki kekuatan yang cukup, tentu saja ibunya sangat senang.


"Barata, kau akan tahu kenapa dulu itu Ibu lakukan, hanya itu satu-satunya pilihan bagi Ibu, lebih baik menjauhkan mu daripada membiarkan mu hilang," baru kali ini semua pelayan yang ada di situ melihat Chatrine yang tegas dan anggun juga disiplin menangis menyedihkan.


Barata berhenti sebentar tetapi langsung melanjutkan langkahnya, dia tidak akan menerima alasan apapun, yang jelas hanya satu, dia dibuang dan dia tidak akan memaafkan Ibu, ayah ataupun keluarganya.


Chatrine hanya bisa melihat pundak putranya semakin jauh, dia mengusap dadanya dan menangis.


"Kau pasti akan kembali lagi, Ibu tahu, kau harus merebut milikmu, membalas sesuatu yang tidak bisa Ibu balaskan, kau harus tahu hanya kau harapan ku agar bisa hidup sampai sekarang," gumam Chatrine mengusap air matanya.


Mengubah ekspresi nya dan menegaskan hatinya, sudah sejauh ini dia tidak boleh lemah.


***


Jangan lupa komentar dan likenya makasih banyak.