
***
Saat Barata mencengkeram Dean dengan segala emosi yang ia punya, Ben tiba-tiba mengetuk pintu ruangan dan segera masuk.
"Tuan, anda harus mengangkat panggilan ini, ini dari pengawal rahasia yang sedang menjaga Alina," seru Ben memberikan ponsel tersebut pada Bosnya.
Mendengar hal itu, Barata langsung bangkit dan mengangkat panggilan itu, khawatir ada sesuatu terjadi pada Alina.
Barata mengijinkan Alina pergi ke rumah lamanya, tentu saja bukan dengan tangan kosong, Barata menempatkan pengawal terbaik untuk menjaga Alina secara rahasia tanpa diketahuinya oleh Alina.
"Halo? ada apa?" seru Barata pada pemimpin pengawal yang sedang menghubungi nya.
"Ben, urus dan tetap tahan lelaki asing ini di ruangan ini!" sembari mengangkat panggilan, Barata memerintahkan Ben untuk kembali mengamankan Dean.
"Tuan, anda harus segera datang ke lokasi ini, saat kami mengikuti Nona Alina dari belakang menggunakan mobil, tiba-tiba ada yang menahan mobil yang digunakan oleh istri anda yang hendak pulang, kami sudah mengamankan para bandit tetapi istri anda tidak mau didekati dan terlihat ketakutan sekali,"
Belum selesai laporan bawahannya itu, Barata langsung panik, dia ingat jika Alina memiliki panic attack dan itu karena ulahnya.
Rasa sedih, marah dan bersalah bercampur dan hampir membuatnya gila.
Dia menyalahkan GPS dan mengikuti lokasi yang dikirim kan oleh bawahan nya itu.
Dengan tangan bergetar hebat, air mata yang juga tiba-tiba menetes, dia sangat marah pada dirinya sendiri sekarang.
"AAAAA!" Dia berteriak sembari mengendarai mobil sendiri di kegelapan dengan kecepatan penuh.
Dia memukul setir mobil, berteriak lagi menyalahkan dirinya sendiri.
Dadanya sakit, sesak, dan dia sulit bernafas tetap yang penting sekarang dia harus cepat ketempat Alina dan membawanya pulang.
***
Sebelum menemukan jawaban lebih dari rahasia Freya, memang Alina merasakan kepalanya pusing karena mengetahui bagaimana liciknya Freya, jadi Alina memutuskan untuk pulang.
Saat itulah bandit yang selama ini sudah memata-matai Alina beraksi dan menyerang mobil beserta supir yang membawa Alina.
Untung saja bawahan Barata langsung sigap dan mengamankan mereka semua sebelum ada terjadi hal buruk.
***
Dia melihat para bawahannya menjaga keamanan Alina tetapi dari jarak jauh, karena jika mereka mendekat maka Alina akan berteriak dan menangis histeris di dalam mobil.
Barata langsung menghentikan mobil dan turun dengan cepat.
Dia berlari sekuat tenaga dan membuka mobil hitam dimana kacanya sudah pecah dan didalam Alina sedang menutup telinganya, menangis dan tubuhnya bergetar hebat.
Melihat keadaan Alina sungguh menyakiti hati Barata, rasanya sakit sekali sampai terasa sangat perih, dia hendak meraih tangan Alina tetapi Alina yang sedang ketakutan hebat langsung menghempaskan tangan Barata dan berteriak.
"JANGAN MENDEKAT! TOLONG MENJAUH! AKU TAKUT! AKU MOHON!" Alina berteriak seperti sedang putus asa, dia tidak melihat wajah orang yang datang, dia tidak tahu itu Barata.
"Ini aku, sayang, ini aku," dengan suara bergetar dan air mata yang sudah tidak tertahan, Barata mencoba menenangkan Alina yang menangis menjerit dan ketakutan setengah mati.
Mendengar suara yang familiar menyadarkan Alina, dia mengangkat wajahnya yang sudah pucat dan penuh air mata.
Dia melihat wajah Barata, suaminya, tubuhnya yang bergetar dan bibirnya yang juga menunjukkan getaran hebat karena takut terlihat jelas oleh Barata.
Wanita yang seharusnya ia cinta, jaga dan sayang telah berubah menjadi wanita yang terluka dan trauma, wanita lembut dan baik hati itu telah terluka seperti ini.
Alina yang melihat suaminya datang menangis semakin keras, dia meraih tangan Barata dengan eratan yang lemah seperti tidak ada tenaga.
"Ta ... tadi, ada... "
"Kaca mobil dipecah, ta... tanganku ditarik,"
"Me ... mereka berteriak,"
Suara terbata-bata dibarengi tangisan, Alina mencoba menceritakan pada Barata, tetapi dalam keadaan sangat takut dan menyedihkan.
Barata langsung memeluk istrinya erat sekali, dia mengusap pundak Alina lembut dan memberikannya rasa aman dan hangat.
"Aku tidak pantas tapi biarkan aku memelukmu," seru Barata dengan suaranya yang bergetar dan terdengar perih.
"Aaaaa, aku menunggu mu datang, kau lama sekali, mereka menyeramkan, aku takut," Alina semakin menangis, seperti anak kecil menangis mengadu.
Dia menangis dengan puas, menutup matanya dan mencoba melupakan berapa seram nya kejadian tadi.