Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Dasar Bucin


***


Barata yang mendengar ucapan itu dan di peluk istrinya merasa jika semua terasa nyata, dia membalas pelukan istrinya dan tubuhnya juga terasa nyata di tangannya.


Dia berpikir jika semua yang terjadi kemarin adalah sekedar mimpi dan caranya untuk menghibur dirinya sendiri.


“Bagaimana sekarang aku bisa mengharapkan hal lebih, aku terlalu naif, jikapun ini hanya mimpi aku sudah senang,” balas Barata lagi masih tidak ingin menyakiti hatinya dengan mengharapkan semuanya ini adalah kenyataan.


“Sayang, tadi malam kau bahkan melakukan itu berkali-kali, aku sampai kelelahan dan pinggang ku pegal, padahal hari ini aku harus mengumpulkan berkas-berkas sidang untuk mengguggat si Eden itu, bagaimana mungkin kau membayangkan itu hanya mimpi, kau tidak adil, apa hanya aku yang kelelahan?” seru Alina memukul-mukul pundak Barata pelan sembari memeluknya.


Alina tidak rela kejadian tadi malam hanya dianggap mimpi oleh suaminya padahal dia sudah bekerja keras.


Barata menjadi bingung, dia melepaskan pelukan istrinya sejenak, lalu ia melihatnya lekat sekali, “Kenapa dalam mimpiku kau menjadi cerewet sayang?” tanya Barata masih sedikit bingung.


“Tidak bisa dibiarkan, suamiku ini bahkan tidak percaya jika aku nyata,” ketus Alina memikirkan cara bagaimana caranya agar Barata tidak lagi menganggap semua yang telah terjadi hanya ada dalam mimpinya.


“Sayang, dengar, aku tidak akan lagi meninggalkan mu, siapa juga yang mau jadi janda disaat suaminya baru menyatakan cintanya tadi malam, dan tadinya aku mau membalas perasaanmu nanti saja, tapi jika begini aku akan membalas pernyataan cintamu hari ini, sebenarnya aku juga mencintaimu,” seru Alina menyentuh kedua pipi suaminya dan langsung menciumnya.


Baru kali ini dia mengambil inisiatif untuk mencium suaminya, biasanya semuanya dilakukan oleh Barata, tetapi kali ini dia ingin menunjukkan jika dia serius dalam memulai hubungan mereka dari awal.


Saat ciuman itu mendearat, Barat sadar, matanya terbelalak, “Rasanya nyata, oh tidak, jantungku terlalu cepat berdetak, jadi semuanya nyata?” gumam Barata dengan mata terbelalak dan jantung berdegup cepat sekali.


Tentu saja sesaat setalh itu dia tidak membiarkan Alina melakukan ciuman itu sendiri, Barata adalah seseorang yang pantang untuk digoda, Barata yang sadar semuanya adalah nyata segera mendekap tubuh istrinya lebih lekat dan menciumnya lebih dalam dan intim.


“Sayang, ternyata semuanya nyata, kau tidak akan melepaskan tanganku lagi kan? Tidak lagi kan?” tanya Barata sudah menggendong istrinya ke atas kasur.


Alina menggelengkan kepalanya, “Tidak akan lagi,” balas Alina meraih tangan suaminya dan menggenggamnya sangat erat.


Dia tidak ingin suaminya ini merasa ditinggalkan lagi, dia juga ingin mengekspresikan perasaannya.


“Sayang, aku mencintaimu,” dengan mata yang penuh harapan ia mengatakannya lagi dan lagi.


Alina hanya tersenyum lalu membalasnya dengan ungkapan cinta juga, “Aku juga cinta kamu,”


Mereka berdua seperti pasangan yang baru mekar, hubungan mereka dibangun dari rasa sakit, dari dua karakter berbeda jauh, karakter yang saling ingin melindungi dan akhirnya mereka bertemu di ruang yang sama yaitu cinta.


***


Di sisi yang lain,


Dia tahu jika dia sepertinya telah salah langkah karena membiarkan Alina hidup saat lalu, tetapi tidak apa, dia bisa membangun rencananya dari awal lagi dan bersembunyi sementara waktu.


Eden tidak tahu jika Alina telah kembali maka musuhnya sekarang adalah Barata, musuh yang selalu ia hindari karena ia tahu Barata adalah seseorang yang tidak akan pernah kalah dan tidak mau kalah.


***


Di mansion Barata,


“Tring … Tring … Tring!”


Saat Barata dan Alina masih saling melepas rindu, suara deringan ponsel Barata berbunyi, dan itu adalah dari assiten pribadinya.


“Halo Ben?”


“Tuan, Nyonya Alina sudah menghubungi aku pagi ini, dia sudah memiliki semua bukti transaksi ilegal dan penyelundupan dana yang sedang kita selidiki, aku sedang menunggu perintahmu, karena seperti yang Tuan duga, beliau sudah melarikan diri,” balas Ben dengan serius.


Ya, setelah kemarin ibunya datang dan memberitahukan segala sesuatu, barata dengan cepat langsung meluncurkan timnya untui menyelidiki semua transaksi ilegal dan bisnis yang dilakukan oleh Eden yang selama ini tidak ia pedulikan, dan ternyata selama dua tahun ini istrinya telah sedikit demi sedikit mengumpulkan orang orang baik untuk mendukungnya dan telah menemukan semua bukti satu per satu.


Barata menoleh kearah Alina saat mendengar ucapan dari assiten nya itu, dia bisa melihat seberapa pesat istrinya ini berkembang, dia berubah menjadi wanita kuat yang kokoh hanya dalam beberapa waktu, entah motivasi apa yang ia miliki, tetapi Alina yang ia kenal bukanlah Alina yang lemah dan bodoh itu lagi.


Barata segera tersenyum dan matanya yang ramah bisa dilihat oleh Alina yang masih melihat Barata yang sedang menelepon itu.


“Jika buktinya sudah ada, maka rencana kita akan berjalan sesuai dengan yang aku perintahkan, pergilah ke lokasi nanti aku menyusul,"


"Tetapi saat dia tertangkap kali ini biarkan istriku saja yang menjatuhkannya secara hukum, aku ingat dia pernah bilang jika tanganku tidak boleh kotor lagi, mungkin karena itulah dia belajar mati-matian untukku, agar aku tidak lagi melakukan hal kejam dengan tanganku untuk menyelesaikan masalah,”


Barata menjelaskan pada assitennya, tetapi juga agar di dengar Alina yang masih setia menunggunya selesai berbicara melalui telepon.


“Kenapa Tuan berbicara romantis di situasi tegang seperti ini? pasti Nyonya Alina sedang bersamanya, dasar bucin!” ketus Ben sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menggerutu tipis.


Segera Barata mematikan panggilan itu, pelarian Eden tidak akan lama, untuk melacak Eden tidaklah sulit, jika Barata mau dia bisa mendapatkan informasinya saat ini juga.


“Sayang, itu kan yang kau mau? Kau ingin berdiri di sisiku agar aku tidak menjadi Barata yang dulu yang menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan kekejaman, apakah kau bangga padaku? Aku sudah bisa menekan amarahku, aku berusaha keras loh,” Barata duduk lagi, dan membisik dekat sekali pada istrinya yang tersenyum bangga padanya.


Alina mengusap rambut suaminya, “Aku bangga padamu sayang, kau benar, aku ingin suamiku menjadi seseorang yang hangat seperti ini, jadi saat kita memiliki anak nantinya, kita bisa mendidik mereka dengan baik, pengalaman pahit kita sudah bisa jadi pelajaran, dan aku ingin kita berdua berjalan bersama selamanya,” Alina sungguh tidak menutupi perasaannya lagi.