
Episode : Sayang, kau masih lapar, jangan menggodaku!
***
Mendengar suara perut Alina yang berbunyi, Barata segera duduk di sisi Alina lagi, nafasnya menghela dalam sekali, dan kemurkaannya seolah ia tahan dalam-dalam.
Tangannya segera menarik wajah Alina lagi, melihatnya lekat dan menatapnya tajam sekali, “Sayang, apakah kau bodoh? Karena kau lapar kau menangis bukannya makan? Apakah kau butuh pelatihan saraf otak juga? kau sangat pintar mengontrol emosiku,” seru Barata pelan namun menekan.
“Tunggu disini, aku akan memarahi habis-habisan semua pelayan karena membuatmu kelaparan,” seru Barata tetap harus melampiaskan kemarahannya.
“Ap … apa? tidak … tidak, mereka tidak salah, jangan lakukan itu, aku yang salah karena tidak makan, bukan mereka,”
Alina segera menarik tangan Barata erat erat, mencoba menyelamatkan keselamatan para pelayan yang sudah baik padanya dari kemurkaan ganas suaminya ini.
“Deg … Deg … Deg!”
Barata yang sadar Alina menggenggam tangannya entah kenapa merasakan getaran di hatinya, wajahnya menjadi merah dan dia harus menyembunyikan wajah kemerahannya itu.
“Dia, dia menggenggam tanganku, untuk pertama kalinya dia menggenggam tanganku lebih dulu, apakah ini tandanya dia menggodaku, ah, tidak Barata, tegaskan dirimu, jangan lemah hanya karena …” Barata sedikit menolah kearah Alina.
Mata bulat dan ekspresinya yang imut membuat Barata lupa dengan gumamannya.
“Sayang,” seru Barata masih dengan wajahnya yang memerah itu.
“Hmm?” seru Alina bingung, mengapa ekspresi wajah Barata menjadi malu malu begini secara tiba-tiba.
“Kau masih lapar, jika menggodaku nanti saja setelah makan ya, aku suka saat kau mengambil inisiatif begini tetapi aku tidak ingin istriku pingsan saat melakukannya, jadi kita makan dulu ya,” seru Barata melihat lekat kearah genggaman tangan Alina kearah tangannya.
Alina yang sadar dia menggenggam erat tangan suaminya langsung melepaskannya.
“Aku tidak menggodamu, kenapa semua kau salah artikan jadi menggoda sih? Kenapa semuanya selalu berakhir kearah itu, apakah kau hanya memikirkan hal itu saja?” ketus Alina sembari tangannya menjauh dari Barata.
Barata yang tadi melihat lekat tangan istrinya segera menahan tangan Alina dan menggenggamnya erat.
“Jangan lepas, jangan lepas tanganmu, siapa suruh kau bisa lepaskan tanganmu dariku, genggam seperti ini, kau mengerti!” ketus Barata dengan wajahnya yang sombong namun lucu menurut Alina.
Situasi genggaman tangan itu berhenti beberap menit, keduanya menjadi malu hanya karena genggaman tangan.
“Deg … Deg … Deg!”
Jantung mereka saling berpacu, apalagi Barata yang terlihat lucu menggenggam erat tangan istrinya dan wajahnya yang sudah merah padam.
Suara perut Alina berbunyi lagi, mengagetkan keduanya dari debaran jantung itu.
Barata terekekeh pelan lalu tangannya yang kokoh segera meraih istrinya dan menggendongnya.
“Ayo kita makan, lalu berolahraga panas, aku sudah tidak sabar,” seru Barata dengan semangat dan kenakalan di wajahnya.
Alina sudah menyerah dengan kata-kata nakal Barata, juga pikirannya yang selalu saja menjurus ke hal-hal nakal, hari sudah malam semenjak mereka mulai makan, Barata ikut makan bersama Alina, dia bahkan makan dengan sangat bersemangat, dia bahagia, untuk pertama kalinya istrinya berinisatif menggenggam tangannya.
Alina mengira makan malam itu akan berakhir begitu saja, tetapi ternyata tidak, Barata membariskan seluruh pelayan termasuk Pak Roy, selaku kepala pelayan atau orang yang bertanggung jawab di mansion nya.
“Mulai hari ini, jika aku pulang dan mendapati istriku kelaparan aku akan memberikan kalian pelajaran, kalian wajib memastikan istriku dalam keadaan kenyang, mengerti!” seru Barata berjalan mengitari para pelayan yang menjadi sasaran amarah Barata karena menemukan istrinya kelaparan tadi.
Sikap arogan dan membuat orang takut terlihat lagi, sungguh Barata tidak pernah bisa lepas dari sikap aslinya itu.
Alina yang tidak enak hati melihat para pelayan kena amarah karena dirinya mencoba menghentikan Barata, “Ba … Barata, aku sudah bilang ini salahku, jangan salahkan mereka, sudah ya, aku bersalah, aku minta maaf,” Alina mendekat dan menarik baju Barata, dia menunduk dan tidak tega melihat para pelayan yang kena bentak karena dirinya.
“Dan kau! ikut berbaris!” seru Barata dengan nada yang tinggi pula kearah Alina, Alina terperanjat dan semakin menunduk, dia dengan pelan ikut berbaris di jajaran para pelayan dan ikut menunduk.
“Bagaimana mungkin seorang wanita dewasa bisa manahan lapar? Bukannya makan malah menangis? Kemarin juga saat kau haus bukannya minum malah terlihat seperti orang depresi! Bagaimana kau akan bertahan hidup di dunia yang keras ini!” sembari berdecak pinggang Barata merepeti istrinya yang menurutnya terlalu bodoh dan penakut.
Alina yang tadinya hanya berusaha menghentikan Barata seolah kena batunya, sekarang dia lah yang kena marah lagi.
“Maaf ….” Alina membalas Barata dengan suara yang pelan dan lembut, matanya yang bulat dan wajahnya yang selalu menjadi senjata ampuh untuk menekan amarah Barata.
“Ja … jadi,” Barata menjadi sedikit gugup, wajahnya yang merah padam bisa dilihat dengan jelas oleh para pelayan, apalagi Pak Roy sampai tercengang dan terdiam dengan mata berkedip beberapa kali untuk memastikan apakah Tuannya sungguh sedang malu malu atau dia sedang berhalusinasi.
Menyadari semua orang tertegun dan terkejut, Barata dengan kebanggaan yang tersisa mengangkat wajahnya, tangannya tetap di pinggang, dan dia berteriak lagi. “Kenapa kalian disini? cepat pergi! Aku sudah memberikan peringatan, jadi kalian sudah tahu tugas kalian!” perintah Barata agar tetap terlihat tegas.
“Ba … baik Tuan, akan kami ingat dan lakukan dengan baik,” seru para pelayan itu sudah senyam senyum dan tidak sabaran bergosip di ruangan mereka.
Alina yang mendengar ucapan itu ikut bubar bersama pelayan, dia mengira dia ikut dalam perintah Barata, tetapi Barata langsung menahan Alina dengan menarik tangannya,
“Hei kau wanita nakal, kau mau kemana? Urusanmu denganku belum selesai? Sedari tadi kau menggodaku terus, kau harus bertanggung jawab,” seru Barata menggenggam tangan istrinya dan membawanya ke kamar pribadinya.
“Menggoda lagi menggoda lagi? memangnya sikapku yang mana sih menggoda si mesum ini! ahh!” teriak Alina dalam hatinya.
***
Terimakasih sudah membaca karya aku, jangan lupa berikan komentar membangun nya ya terimakasih banyak