
***
Setelah malam itu, Barata mencoba sekeras mungkin membujuk istrinya, akhirnya barata memastikan Alina tertidur, dia menatapnya lebih lama dari pada malam sebelumnya,
“Terimakasih sudah bertahan dan tetap disiku, hanya kau yang aku butuhkan, tidak akan ada orang lain lagi selain kamu,” bisik Barata tersenyum bangga melihat istrinya.
Seolah Alina telah membangun tekad nya sendiri.
Setelah puas melihat wajah terlelap istrinya, dia segera beranjak dari ranjang, berjalan menuju balkon kamar dan menutup pintunya, dia segera menelepon seseorang yang sudah ingin ia hubungi sejak awal.
“Halo, Barata, ada apa? kenapa tiba-tiba menghubungi aku?”
Falcon yang terkejut melihat adiknya menghubungi dirinya sedikit terhibur dan juga senang, dia segera melepas kaca mata kerjanya dan menghentikan tangannya yang sedang mengotak atik keyborad, saat inipun walau sudah larut, Falcon masih sangat sibuk menyelesaikan pekerjaan di perusahaan ayahnya.
“Berhenti sok ramah dan peduli padaku! Berani nya kau datang ke kediamanku dan menemui istriku! Kau melakukan kesepakatan menjijikkan dengan dia kan! Ku peringatkan kau ya Falcon, tindakanmu yang naif sudah tidak aku butuhkan! Jangan sok peduli padaku mengerti!”
“Dan sampaikan ini pada ibu! jika sekali lagi dia berani mengusik istriku, aku tidak akan tinggal diam! Dan juga bajingan yang kau panggil ayah itu, jika berhenti mengirimkan mata matanya di mansion dan perusahaan ku, jika ini terus berlanjut, aku sungguh tidak akan memaafkan dan melepaskan kalian! kalian tidak berhak atas hidupku!” geram Barata dengan mata yang sangat tajam melihat kearah langit yang gelap.
Kali ini dia sungguh serius, awalnya dia tidak peduli dengan mata mata yang menilik kehidupannya, tetapi sepertinya dia harus mulai peduli dari sekarang, dia tidak akan memberi celah bagi setiap orang yang ingin memisahkan dirinya dan Alina.
Falcon yang tadinya senang dan bahagia langsung terdiam, wajahnya masih diterangi cahaya komputer yang menyengat, lalu ia menghela nafasnya dalam dalam.
“Kau mungkin melupakan kejadian ini dan hanya menyalahkan ibu dan keluargamu, tetapi kau harus mulai mengingat dan menerima dirimu sendiri, kau tidak diasingkan karena ibu benci padamu, bahkan sebaliknya aku iri sekali saat melihat bagaimana ibu sangat sayang dan bahkan melindungi mu dari jauh!”
“Bangunlah dan lihatlah, ibu mengasingkan mu karena apa? karena ingin kau jadi kuat, apakah kau sungguh melupakannya? Melupakan kemarahan hebat ayah karena mu? Berhenti menyalahkan ibu dan mulailah mengingat apa yang kau lupakan!”
“Jika kau memang ingin hidup bebas dan bahagia bersama istrimu itu, maka hadapilah masalah keluargamu dulu, pulanglah dan bereskan permusuhan mu dengan ayah, pulanglah dan lihatlah akar masalahnya, jika kau tidak pulang, ayah akan terus mengawasi mu bahkan mungkin akan turun tangan melukai istrimu, dan ibu, dia tidak memiliki pilihan lain selain melindungi putranya dari ayah yang kejam! Walau itu dengan cara menyingkirkan siapapun yang menjadi penghalang termasuk istrimu!”
“Pulanglah dan ….” Falcon yang sedikit berteriak dan marah karena merasa sesak hidup di keluarga yang rumit dan tidak damai seperti ini menumpahkan kekesalannya.
Falcon adalah anak tertua sekarang, semuanya di tumpukan ke pundaknya, dia sudah lelah, menerima kemarahan ayah dan juga ibunya, dia juga tidak memiliki keberanian yang kuat untuk menyelidiki apa yang sebenarnya pemicu permusuhan ayah dan ibunya juga kematian kakak tertuanya.
Jika boleh, sekarang Falcon hanya ingin melarikan diri, tetapi dia tidak mampu, dia belum mampu melepaskan harapan ayah dan ibunya, dia bukan Barata yang dingin hatinya, dia sedikit berbeda, karena itulah dia sangat terluka dan kesepian sekarang ini.
“Jika kau memang menemukan sesuatu, kau boleh membantai semuanya, kau boleh menghabisi semuanya, bukankah tujuanmu sekarang adalah bersama istrimu? Aku tidak tahu apakah kau sungguh mencintai istrimu itu tetapi selama kau tidak menyelesaikan masalahmu dengan ayah maka istrimu selamanya akan dalam bahaya!”
***
Jangan lupa komentar membangun nya yaa.