
***
Sudah sekitar lima menit, tetapi Barata bahkan tidak melepaskan Alina sedikit pun, seolah tidak bosan, Barata terus mencium Alina dengan begitu antusias.
"Sayang, bibirmu manis sekali, kalau tahu begini aku akan mencium mu setiap kau didekat ku," bisik Barata menyeringai sedikit, terlihat seperti pria nakal yang sedang menggoda wanita.
"Tok ... Tok ... Tok!"
Suara ketukan pintu mengejutkan Alina yang sedari tadi tidak terasa seolah terlena, dia tidak sadar dia memejamkan mata dan seperti terbuai.
"Apa yang baru saja terjadi? apakah aku kehilangan akal sehatku? berani-berani nya aku menikmati ciuman dari si arogan ini!" geram Alina bergumam, dia kecewa dengan dirinya sendiri.
Seolah tubuhnya tidak bisa ia kendalikan, seolah lelaki yang menjadi suaminya ini telah membuat nya lupa diri.
Mendengar ada ketukan pintu, Alina dengan sigap langsung berdiri dari pangkuan Barata dan terdiam menunduk.
Sedangkan Barata yang tidak suka kegiatan kesukaan nya di ganggu, langsung menujukan muka masam dan jika yang mengetuk pintu ruangan kerjanya adalah sesuatu yang tidak penting maka habislah orang itu.
"Tuan,"
Ben adalah yang mengetuk pintu tersebut. dengan membawa seorang wanita di sisinya, Ben dengan sopan dan hormat segera beranjak ke depan meja kerja atasannya.
Wanita itu langsung memperhatikan jika Barata tetap tampan seperti biasa, malah lebih tampan dan berkarisma semakin bertambah dewasa.
Wanita itu yang menaruh hati pada Barata langsung kegirangan, mengetahui jika lelaki yang ia taksir ada di hadapannya.
"Beliau adalah Tasya Henskin, beliau di tugaskan oleh perusahaan Henskin sebagai perwakilan untuk kerjasama kita kedepannya, beliau akan lebih sering berdiskusi dan membahas beberapa hal dengan Tuan dikemudian hari,"
Ben menjelaskan dengan detail, maksud dan tujuan Tasya Henskin datang ke perusahaan Barata adalah untuk menjadi rekan bisnis tetapi sekalian untuk memikat hati lelaki ini.
"Hm? Henskin? sangat mengejutkan mereka mengirim putri tunggal pemilik perusahaan hanya untuk sekedar menjalankan kerjasama bisnis," balas Barata minimpali dengan ekspresi sinis dan kurang suka.
Yah, bagaimapun kedatangan Tasya telah mengusik kegiatan nakalnya, tentu saja Barata merasa tidak senang akan kehadiran nya.
Tasya Henskin yang sudah memiliki beribu cara untuk menaklukkan hati Barata sesuai dengan suruhan ibu kandung Barata sendiri langsung tersenyum memikat, dia menggunakan kecantikan dan keanggunan nya untuk perlahan meluluhkan hati Barata.
Lipstik merah dan baju sedikit ketat, Tasya berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat cantik dan memikat, dia tidak boleh mengecewakan ibu Barata.
Alina yang sudah seperti nyamuk, tidak di harukan bahkan dilihat oleh Tasya sedikit pun memperhatikan gerak gerik Tasya.
Menurut Alina, Tasya sangat cantik, terlihat dewasa dan memikat, apalagi ukuran dadanya, Alina bahkan masih sempat-sempatnya membandingkan miliknya dan milik perempuan bernama Tasya itu.
"Sungguh, ada beberapa orang yang sangat beruntung memiliki ukuran seperti itu, ckck!" Alina geleng-geleng sembari melihat kebawah karena ukuran dadanya tidaklah sebesar milik wanita itu
Sembari memiringkan kepala saat membandingkan ukuran dadanya dan bentuk tubuhnya dengan Tasya, secara tidak sengaja Alina bertemu pandang dengan Barata yang sudah senyam senyum tidak jelas memperhatikan gerak gerik mencurigakan dari Alina sedari tadi.
Seolah Barata mengerti apa yang sedang ada di kepala Alina sekarang.
***
Di sisi lain di suatu tempat,
"Kalian harus menangkap gadis ini hidup-hidup! beberapa dari kalian harus menggagahinya, agar dia semakin kotor,"
perintah seseorang pada suruhan yang ia bayar untuk menangkap Alina.
"Haha," ketua dari para bandit yang menerima tugas itu tertawa terbahak-bahak sembari menerima poto dari tangan orang itu.
"Senang sekali kami mendapatkan target yang sangat cantik seperti ini, apalagi dibayar mahal, keberuntungan pasti sedang memihak kami," nyaring nya menyeringai dan bersorak.
Orang yang memerintahkan itu kemudian pergi, dalam hatinya dia begitu bahagia namun marah disaat yang bersamaan.
"Aku tidak menyangka pesona Alina terlalu besar sampai Barata kembali jatuh hati padanya, tetapi hanya menunggu sebentar lagi, saat dimana Barata akan membuang Alina saat Alina sudah kotor," geramnya tertawa kecil, dia menaiki mobil hitam dengan supir lengkap.
Entah dendam apa yang ia punya, sampai ia sangat ingin menjebak dan membuat Alina hancur dan gila, tetapi tidak sampai mati.
***
Jangan lupa like dan komentar membangunnya, Terimakasih