Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Kejutan dan hadiah pertama


Melihat betapa menggemaskannya Alina dan betapa tulus ucapannya membuat Barata gemas namun disaat yang bersamaan juga sedikit terharu.


Barata tertegun sebentar namun sesaat kemudian dia tertawa terbahak-bahak, apapun yang telah terjadi dalam waktu singkat entah itu karena Falcon atau karena dirinya tetapi dia sangat puas dengan semangat istrinya ini ingin berubah menjadi wanita kuat agar berdiri di sisinya.


Walau sebenarnya Alina sudah cukup bagi Barata, tetapi tidak memungkiri jika dia ingin Alina menjadi seseorang yang tidak mudah ditindas oleh siapapun.


Melihat Barata tertawa melihat tingkahnya membuat Alina tersenyum kaku dan kembali duduk, “Defenisi mempermalukan diri sendiri, sungguh aku memang sangat handal dalam hal ini, haha, Alina, kau terlihat seperti anak kecil sekarang!” geram Alina dalam hatinya, wajahnya merah sekali dan dia sedang berusaha menutupi betapa malunya dia karena lagi-lagi terbawa suasana.


“Rasa malu semoga kau bisa bertahan dalam diriku ya, aku memang memalukan!” teriak Alina lagi dalam hatinya, dia terdiam bagaikan patung dengan wajah yang memerah.


Tetapi tangan Barata segera meraih tangan istrinya, “Sayang, kau harus makan banyak, karena kau telah menggodaku seharian penuh, aku akan memberikan hadiah yang memuaskan untukmu malam ini, haha!” senyuman nakal dan tatapan tajam membuat Alina menyadari tingkahnya lagi yang selalu meningkatkan gairah lelaki ini.


“Hadiah apanya, kau hanya akan membuat aku lelah,” ketus Alina hendak makan karena dia memang sudah lapar sejak tadi.


“Lelah sih tapi aku tahu tubuhmu suka, sayang, aku sangat tahu bagaimana tubuhmu merespon, jadi jangan menyangkalnya lagi,” jawaban nakal Barata seperti merusak suasana yang tadi hangat menjadi sedikit dewasa dan panas.


“Glek!” Alina menelan Saliva nya dan sedang menahan kemarahan super dalam dirinya.


“Aaaaa! Kenapa dia berbicara dengan sangat nakal sih! Kenapa dia bisa mengatakan hal itu dengan biasa, memangnya tubuhku ini miliknya apa! sial! sial! sial!” perdebatan Alina dalam hatinya sepertinya semakin intens belakangan ini, karena dia sedang menahan dirinya dalam mengatakan apapun yang akhirnya nanti akan mempermalukan diri sendiri seperti tadi dan sebelum sebelum nya.


“Ah masa bodoh lah, aku sudah lapar karena tingkah konyol ku sedari tadi, aku harus makan dulu!” ketus Alina tidak lagi menanggapi Barata dan segera makan dengan lahap.


Barata hanya berpangku tangan melihat cara istrinya makan dengan sangat lahap, Alina sudah tidak terlalu peduli lagi, misi paling penting saat ini hanyalah mengisi perutnya yang keroncongan.


Mulut Alina penuh dengan makanan, dia mengunyah makanannya dengan sangat antusias dan bersemangat, satu satunya hobi paling dia sukai memang makan.


Setelah puas makan dan perutnya kenyang, dia menghela nafas dalam dalam, dia merasa puas dan senang apalagi makanan yang baru ia makan enak sekali membuat moodnya jadi bagus dan melupakan hal hal memalukan yang ia lakukan seharian ini.


“Sungguh, membuatmu bahagia sangat mudah, hanya dengan makanan,” seru Barata merogoh sesuatu dari sakunya, dia kemudian menarik tangan istrinya dan segera menaruh sebuah kalung berlian di sana.


Alina tentu saja terkejut melihat berlian yang sepertinya terlalu mahal untuk ia ketahui ada di tangannya, “Apa ini?” seru Alina sedikit gemetar memegang barang yang sepertinya terlalu mahal untuk dimiliki itu.


“Aku belum pernah memberimu hadiah, aku memberimu kalung paling langka di dunia, hanya ada satu di dunia, aku juga sudah meminta kepada si pembuat untuk merombak sedikit bentuk kalung ini!” seru Barata dengan bangga dan seperti biasa memuji dirinya sendiri.


“T … tapi sepertinya ini sangat mahal, aku tidak bisa terima, aku tidak terlalu suka memakai sesuatu yang mahal, aku suka yang biasa biasa sa ….” Belum selesai Alina menyelesaikan ucapannya, ia segera melihat ekspresi Barata dan kemudian terdiam.


“Serius, matanya itu seperti mata monster jika sedang tidak suka selalu menatap dengan sangat tajam dan membuat jantung hampir copot!” geram Alina bergumam dalam hatinya.


Bagaimanapun Barata yang tidak suka ditolak memang langsung terdiam saat Alina mencoba menolak hadiah pertamanya itu.


“Hehe, ini bagus sekali, indah ya, wah!” sikap Alina kemudian langsung berubah 360 derajat, memancing kemarahan pasien paranoid sama saja dengan menggali kubur jadi dia sebisa mungkin mulai hari ini akan menjaga mood Barata.


“Ternyata Ben benar, wanita suka barang berkilau, haha, Ben akan kuberikan bonus kali ini!” gumam Barata yang memang saat hendak memberikan kado, kado pilihan ini adalah atas saran Ben sang assisten serba bisa dan serba ada itu jika menyangkut uang.


Barata belum pernah menghadiahi wanita sesuatu jadi tentu saja dia harus mendapatkan masukan sebisa dia, Barata lupa jika Ben hanyalah seorang jomblo ngenes yang tidak sempat berkencan akibat segudang pekerjaan yang dilimpahkan Barata kepadanya.


“Hacciim! Sepertinya ada yang membicarakanku,” seru Ben dikantor sedang mengerjakan pekerjaannya.


Kembali ke mansion Barata,


Kalung berlian itu memiliki mata berbentuk hati dan sepertinya bisa dibuka, “Sayang coba buka bentuk hati itu, akan ada kejutan lagi loh didalam,” seru Barata entah kenapa wajahnya semakin bersemangat saat mengatakan itu.


Alina dengan menurut membuka mata kalung itu dan ….


“Krik … Krik … Krik!”


Alina tersenyum kaku, “Benarkah, apakah ini yang ia katakan pada perancang perhiasan ini? untuk menaruh fotonya didalam kalung? Wah wah, tuan muda yang satu ini sungguh sesuatu,” gumam Alina geleng geleng.


Alina sedikit melirik kearah Barata mencoba melihat reaksinya saat dia menerima dan melihat foto di kalung itu, sungguh ekspresi Barata terlihat sangat antusias, apakah karena ini kali pertama ia memberikan hadiah dan istrinya suka, tetapi Barata terlihat semakin bangga dan bahagia.


***


Disaat yang sama, saat Ben sibuk dengan segala pekerjaan di mejanya, sekretarisnya masuk kedalam ruangan.


“Tok … Tok … Tok!”


“Maaf Pak mengganggu,” serunya hormat dan sopan.


“Ya, ada apa?” jawab Ben dengan serius sembari menghentikan sejenak gerakan tangannya di atas mouse.


“Itu, Pak Arkana, memaksa berjumpa dengan Bos Barata Lewis sekarang juga, dia memaksa dan tidak akan kembali sebelum bertemu Bos Barata,” seru sekretaris itu sedikit khawatir.


Mendengar itu Ben langsung menghentikan aktifitas kerjanya dan sedikit khawatir segera melangkah menuju tempat ayah Alina berada.


***


Ternyata aku baru sadar, kalau novel ini tidak serumit novel ku biasanya, semua masalahnya berbanding lurus dan tidak ada masalah tambahan yang lain wkwkwk


Semoga Barata dan Alina bisa kuat bareng ya, trus penyakit dan rahasia Barata cepat kelar, kok semakin lama aku semakin suka sama karakter berkebalikan mereka.


Apalagi si Alina mirip banget sifatnya sama author sendiri 🙃