Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Menghukum diri sendiri


***


Ketika seseorang sedang mencinta, akan ada rasa egois yang dinamakan ingin memiliki dan perasaan harus dibalas, tetapi jika seseorang sudah berada dalam taraf lebih dari sekedar mencintai, di tahap dimana perasaannya semakin besar dan dalam, saat itu maka orang itu akan bahagia jika orang yang ia cintai itu bahagia.


Seperti halnya Barata, dia tersiksa selama dua tahun penuh, setiap hari dia ingin mengejar Alina, setiap hari dia ingin melangkahkan kakinya mengejar istrinya, tetapi kata-kata Alina terkahir kali selalu menahannya.


Barata menerima kesepian dan penderitaannya selama dua tahun sebagai bagian dari hukumannya, dia menghukum dirinya sendiri karena telah membuat istrinya menderita saat awal pernikahan.


Karena perasaannya yang tidak pernah stabil, rasa sakit yang juga tumbuh bersamanya sedari kecil membuatnya menjadi seseorang yang lebih kejam dan dingin awalnya, tetapi saat melihat Alina dan hidup bersamanya, Barata melihat harapan baru, tujuan hidup baru, sekarang tujuan itu sudah pergi, harapannya sudah pergi.


Satu satunya yang membuat Barata bisa bertahan selama dua tahun penuh adalah dia ingin memastikan kebahagiaan Alina, dia ingin memastikan jika oranglain akan memperlakukannya dengan baik, tidak seperti dirinya yang bahkan tidak bisa melindungi istrinya itu.


Setiap malam, di kamarnya yang dingin, matanya selalu terjaga, sekali-sekali dia akan melihat kesamping nya dan yang ia temukan adalah kekosongan, hatinya akan sakit sekali, air matanya akan keluar begitu saja, disaat selama berpuluh tahun ia tidak menangis dia menangis menjadi lebih sering sejak istrinya pergi.


Kekosongan di hatinya itu selalu terobati dengan foto foto Alina yang dikirimkan oleh suruhannya, Barata tetap memastikan keamanannya, walau Alina memilih bersama orang lain.


Mimpi buruk, saat saat itu adalah mimpi buruk untuknya, seseorang yang memiliki penyakit paranoid menahan hasrat dan keinginannya akan membuatnya marah sendiri dan menderita sendirian.


Semua itu masih berputar-putar di kepala Barata, kali ini dia baru bangun pagi, dia melihat di sisinya, dia tidak melihat Alina disana, dia langsung duduk dan mengusap kasar rambutnya.


“Ternyata hanya mimpi, aku bermimpi dia datang dan bersamaku lagi, aku pasti sudah gila! Kenapa hatiku sakit sekali, setiap kali membuka mataku dia tidak ada maka hatiku ini rasanya sakit sekali, apakah hukuman ini belum cukup untukku? Aku sudah menghukum diriku sendiri, apakah belum cukup?” Barata mengusap dadanya, dia duduk diatas kasur.


Sekarang ini tangannya sudah bergetar hebat, wajahnya menjadi pucat, harapannya mungkin terlalu besar sampai sampai dia memimpikan jika Alina telah kembali kepadanya.


Dia segera membuka laci, tetapi ia tidak menemukan obatnya disana, mungkin Barata belum sadar jika sekarang dia sedang ada di mansionnya, bukan di rumah yang ia tempati selama dua tahun ini.


Benar, selama dua tahun ini Barata rutin meminum obat penenang, agar dia tidak kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


“Dimana, dimana obatku,” keluhnya sudah tidak bisa menahan rasa sakit hatinya.


“Cklek!”


Saat Barata mencari-cari obatnya, sebenarnya Alina baru selesai mandi, dia keluar dari dalam kamar mandi dan menemukan suaminya sedang rusuh mencari-cari sesuatu, bahkan kelihatan sekali tangannya bergetar, wajahnya merah sekali namun bibirnya pucat, bahkan ada keringat di dahinya sekarang.


Alina tentu saja panik melihat keadaan suaminya, dia berlari dan meraih tangan suaminya yang sedari tadi mencari-cari sesuatu itu.


Barata melihat tangan mungil yang meraih tangannya, rasanya sedikit dingin namun ia tahu itu tangan istrinya, dia melihat kearah Alina dan matanya yang terlihat kosong dan menderita itu sekali lagi bisa dilihat oleh istrinya ini.


“Apakah ini masih di dalam mimpiku? Sayang, apakah hukuman ku belum usai, aku menderita sekali, aku selalu sendirian, hatiku sakit, aku menyesal pernah membuatmu menangis, tetapi hukumanku ini terlalu menyakitiku,”


“Sayang, aku tidak mau bangun jika ini hanya mimpi, bagaimana ini? kenapa kau seolah nyata ada di hadapanku?” ucap Barata sembari meraba wajah Alina yang terlihat syok sekali.


(Sumpah aku kok nangis ya nulis ini, Barata nya hukum diri dia sendiri karena dulu pernah nyakitin Alina, omg)


Lelaki kuat yang selalu ada dalam bayangannya, lelaki arogan dan tidak mau kalah, lelaki yang selalu menjadi pohon besar yang selalu melindunginya, nampak begitu lemah dan menderita sekali, mungkin kejadian kemarin dan tadi malam ia anggap hanya mimpi dan belum bisa mempercayai jika istrinya telah benar-benar kembali.


“Alina langsung duduk mengikuti posisi suaminya yang sudah terjatuh mencari cari obat penenangnya, dia mengusap pipi suaminya ini dengan kedua tangannya, “Apakah kau seperti ini selama aku tidak ada? Apakah kau juga semenderita ini sejak kau kecil?”


“Lihat aku, aku disini dan ini bukan hanya mimpi, aku pernah berjanji akan berdiri di sampingmu, aku tidak akan mengingkarinya, aku tidak bisa melihat mu begitu lemah seperti ini karena menghukum dirimu sendiri, semuanya sudah lewat, sudah saatnya kita bahagia, dan semua masa lalu dan rasa sakit itu, itu bukan salahmu, kita hanyalah korban dari kejamnya orang-orang dan dunia, jadi jangan menghukum dirimu lagi, aku sudah disini,”


Alina menangis dengan hebat, dia tidak tahu jika selama ini Barata telah menghukum dirinya sendiri, wajahnya yang lemah ini dan matanya yang dalam, tubuhnya yang bergetar hebat, dia memeluknya erat sekali, dia ingin memberitahu jika semuanya sudah baik-baik saja dan dia telah kembali.