Pengantin Tuan Arogan

Pengantin Tuan Arogan
Aku akan memastikan kau aman


***


Setelah melihat betapa serius nya keadaan Alina, semakin Alina terlihat takut dan menderita maka semakin sesak dan sakit hatinya.


Dia menyalahkan dirinya sendiri, menganggap dia lah yang memang bertanggung jawab untuk semua kesalahan yang terjadi saat awal pernikahan mereka.


Lama sekali mereka terdiam didalam mobil, mata Barata yang melihat lurus namun kosong tidak bisa ia gambarkan lagi perasaan nya.


Dia memeluk istrinya namun dia merasa telah semakin jauh, dia merasa semakin ia genggam erat sesuatu maka hal itu akan selalu saja pergi.


Hal itu sangat menyakitkan, dia menginginkan istrinya tetapi dia tahu istrinya pasti akan meninggalkan dirinya seperti apa yang ia katakan saat lalu.


Barata hanya keras kepala dan tetap mempertahankan Alina selama yang ia bisa.


Tangisan Alina yang sudah terisak dan sedikit sulit bernafas sudah mulai mereda, dia menyandarkan kepalanya di dada suaminya, rasanya hangat dan bidang, menenangkan dan membuatnya mengantuk.


Tanpa lama, dia mulai memejamkan matanya, terlelap aman disana, dia menyenderkan kepalanya seperti menyenderkan rasa takutnya sampai dilahap oleh rasa hangat pelukan suaminya.


"Tuan,"


Para bawahan Barata yang sedikit khawatir pada Tuan mereka dan istrinya datang menghampiri kedalam mobil gelap yang sudah rusak.


"Hmm?"


sahut Barata pelan, dia tidak ingin membangunkan Alina walau posisinya sekarang sangatlah tidak nyaman, karena harus menahan tubuh Alina di pecahan kaca jendela mobil.


Barata memastikan sebisa mungkin agar kaca jendela yang sudah berhamburan itu tidak mengenai istrinya.


"Sudah tengah malam, biarkan kami membawa Tuan dan Nyonya muda pulang," seru bawahnya melihat jika tangan dan kaki Barata sudah terluka karena pecahan kaca mobil itu.


"Tidak perlu, mansion sudah dekat, kalian awasi kami dari jauh saja, aku akan pulang berjalan kaki dengannya," sahut Barata dengan suara yang seperti berbisik, para bawahnya tidak bisa berbuat apa-apa hanya menunduk hormat memberikan jalan pada Barata.


Barata menggendong istrinya, dengan sangat hati-hati dan lembut.


Barata melangkah pelan sekali, angin malam dan lampu jalan yang dilewatinya serasa sangat nyaman dilewati.


Dia sedikit menunduk agar Alina bisa bersandar dengan nyaman di pundaknya, nafas berat lalu igauan sedikit terdengar namun itu terdengar sangat indah dan hangat.


Rasanya sangat nyaman berjalan di malam hari, karena terlalu nyaman tidak terasa gerbang mansion super besar sudah ada di depan matanya.


"Kita sudah sampai di rumah, sayang," bisik Barata berhenti sebentar.


Lalu dia melanjutkan langkahnya, semua pelayanan dan penjaga keamanan mansion sangat syok dan terkejut melihat tuan mereka yang selalu terlihat rapih dan gagah pulang dengan wajah marah tetapi juga sedih.


***


Barata merebahkan tubuh istrinya diatas ranjang, melihat beberapa luka di tangan dan kakinya, sebelum ia datang sepertinya kaca mobil itu telah melukainya.


Matanya menjadi sangat tajam, dia melihat luka itu dengan kobaran amarah yang sangat besar.


Dia kemudian memandang wajah istrinya, mengusap lembut wajahnya dan mengecup keningnya.


"Akan aku pastikan mereka membayar ribuan kali lipat dari luka mu sayang, dan hal itu juga akan berlaku padaku, berikan aku waktu sedikit lebih lama lagi, sampai kau benar-benar aman," bisik Barata mengusap rambut Alina lembut sekali.


Barata dengan lembut dan sigap mengambil air hangat dan perlengkapan p3k, dia mengusap tubuh istrinya dengan handuk hangat sampai bersih lalu menggantikan pakaian bersih untuknya.


Lalu luka yang tadi ada di tangan kaki, dia bersihkan dan balut dengan obat p3k.


Dia memastikan Alina sudah bersih dan nyaman, lalu ia pun membersihkan dirinya juga luka-lukanya.


***


Setelah semuanya itu, Barata tidak pergi tidur tetapi pergi ke ruang bawah tanah mansion nya.


Disana para bandit yang tadi hampir mencelakai Alina sudah di kurung oleh bawahan Barata.


***


Disaat yang sama,


Di sebuah rumah sakit,


"Ibu, akan ku pastikan kau hidup dan melihat aku membalaskan dendam mu untuk mereka, aku akan membalas nya berkali-kali lipat," gadis itu menggenggam erat tangan ibunya.


Dengan air mata dan kemarahan dia berbicara pada ibunya yang terlihat sangat pucat dan terbaring lemah di kasus pasien, ibunya terlihat koma dan hanya hidup bergantung dengan alat-alat medis di rumah sakit itu.


"Sebentar lagi dia akan kotor oleh bandit-bandit itu, bahkan Barata sekalipun akan jijik padanya, jadi dia akan lebih menderita darimu Ibu, lihat saja, aku akan membalas semua kebencianmu," gadis muda itu sangat membenci Alina.


Entah apa alasannya sangat membenci Alina yang notabene nya adalah gadis baik dan lembut.


***


Jangan lupa komen membangun dan likenya makasih.