
***
Di kamar pribadi Barata,
Aku terkadang bertanya pada diriku, apakah aku sebodoh dan selemah ini? aku merasa jijik pada diriku sendiri, bagaimana mungkin ucapan dan reaksi tubuhku berbeda.
Apakah dia merasa aku mudah di taklukkan? dia mengontrol ku dan tanpa sadar aku mengikuti keinginannya, bagaimana aku harus lepas dari ikatan tidak adil ini.
Disaat yang sama aku ingin pergi tetapi aku merasa haus akan perhatian dan sentuhannya.
Apakah aku memang serendah ini? aku benci diriku.
Alina merasa aneh, dia tidak rela tetapi mulut nya seolah tertutup, Barata seperti sudah menyihir dirinya agar mengikuti dan tidak bisa melawan.
***
Barata yang sudah berhenti bertanya tidak bisa menunggu lebih lama lagi, dia mulai memasukkan tangannya kedalam baju istrinya dan melucuti pakaiannya satu persatu, wajahnya menyeringai seperti hewan buas yang hendak memangsa makanannya, Alina tidak berani melihat wajah Barata, itu membuat dirinya merasa rendah dan hina.
Ketidak terimaan telah diperlakukan tidak adil masih membekas dihatinya, dia tidak akan lupa tetapi tubuhnya serasa tidak bisa ia kendalikan, dia seperti sudah tercebur dan basah, dia telah jatuh dan kotor, begitulah bayangannya.
“Sayang, kau cantik sekali, apakah kau bisa merasakan detak jantungku, mereka berdetak dengan sangat keras hanya untukmu,” bisik Barata meraih tangan istrinya dan meletakkannya di dadanya.
Memang benar Alina merasakan detak jantung Barata yang berdetak cepat, wajah Alina memerah karena mengetahui dan merasakan hal itu, entah mengapa getaran aneh yang lama mati dan beku mulai mencair, tidak bisa dipungkiri betapa hebatnya Barata mengendalikan perasaan Alina, Barata memang sangat lihai dalam hal itu.
“Deg … Deg … Deg!”
Rasanya jantung Alina hampir meledak karena jarak mereka terlalu dekat.
Karena tidak bisa dipungkiri, baru kali ini mereka akan berhubungan dan Barata meminta ijin, seolah perlahan Barata menempatkan Alina sebagai seseorang yang berharga, tidak ada paksaan tetapi perlakuan lembut yang membuat hati meleleh.
Barata kemudian menempelkan wajahnya di dada istrinya, mendengar detak jantung istrinya, dia memejamkan matanya dan tersenyum lembut saat tahu jika istrinya pun merasakan hal yang sama seperti dirinya.
“Ja … jangan, aku malu, tolong jangan terlalu dekat,”dengan spontan dan reflex Alina mendorong Barata, dia merasa geli dan malu, dia tidak terbiasa. Jika boleh dia ingin menggali lubang dan bersembunyi, begitu malu lah dia berada di hadapan Barata sekarang.
Tetapi percuma saja, tenaganya dan tenaga Barata jauh berbeda sekali, tidak seinci pun Alina bisa mendorong Barata malah semakin erat Barata mendekapnya selagi ia mendorong.
“Jika kau tahu betapa menariknya dirimu saat bersikap seperti ini,"
"Kau tidak perlu malu sayang, aku sudah melihat semuanya, lagian kau juga istriku dan sudah sepantasnya kita melakukan ini, aku janji kali ini akan lebih lembut, kau tidak akan merasakan sakit,” bisik Barata menarik wajah Alina dan menciumnya dengan lembut namun sedikit menekan dan panas.
“Hmm, apa yang kau bicarakan, berhenti berbicara dengan bahasa nakal, kita tidak sedekat itu untuk bisa berbicara hal-hal mesum seperti ini,” ketus Alina masih menolak ciuman itu, mencoba memiringkan wajahnya untuk melarikan diri.
“Hehe, kau seperti landak, aku semakin suka,” bukannya malah menjauh, Barata malah semakin intens mendekat, dia memperkuat cengkeramannya dan permaianan sudah di pimpin olehnya.