Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
AKHIR YANG SANGAT MANIS


Terbangun lebih dulu sebelum suami dan anaknya bangun, bahkan sebelum akhirnya alarm di ponselnya bunyi, menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Nina. Karena jika keadaannya sudah begitu, ia bisa mengawasi wajah sang suami maupun kedua wajah putrinya dengan leluasa.


Wajah Akala masih terlihat sangat lelah. Kelelahan yang ditegaskan dengan keadaan pria itu yang sampai mendengkur. Sementara di kanan kiri Akala dan kompak memeluk, Alina dan Akina juga tampak tak kalah lelah.


“Alhamdullilah, wajah-wajah mereka selalu bisa mengobati kerinduan sekaligus rasa kehilangan yang aku rasa pada wajah lamaku,” batin Nina seiring hatinya yang terenyuh. Ia yang sampai detik ini masih di kasur atas sendirian, sengaja agak jongkok hanya untuk meng*ecup wajah sang suami.


Akala tetap tidak merespons, hingga Nina memutuskan memakai cara lain dalam membangunkan suaminya itu. Jemari tangan kanan Nina, mengelus lembut pipi kiri Akala hingga pria itu berangsur mencari penyebabnya, dan ia langsung menyambutnya dengan senyum.


“Hmmm ...?” gumam Akala benar-benar lirih, masih merem melek melirik Nina. Ia mengulurkan sebelah tangannya untuk meraih tangan kanan Nina, menggenggamnya, kemudian mengecupnya beberapa kali.


Sampai detik ini, tanggapan menggemaskan sekaligus manis dari Akala, masih sukses membuat Nina sibuk tersenyum. “Papah mau enggak? Nanti tinggal mandi terus salat subuh sama yang lain. Mumpung anak-anak masih tidur,” ucap Nina tak kalah manis dari Akala.


Mendengar itu, detik itu juga Akala langsung tersenyum dan menganggap mereka sambil mengangguk-angguk.


“Mau dijadiin saja? Aku pengin punya banyak anak biar bisa kayak mamah papah Mas. Biar ada yang sebaya sama anaknya mas Azzam dan mbak Ndari juga, kayaknya seru!” lirih Nina masih berbisik-bisik, merencanakan adik untuk Alina dan Akina dan sudah langsung mendapatkan persetujuan dari sang suami.


“Aku ke kamar mandi dulu!” bisik Akala dengan suara masih sangat berat, sambil melepaskan diri dari kedua sang putri, dengan sangat hati-hati. Sementara di kasur atas, Nina mendadak menyemangati melalui senyum sambil berbisik-bisik.


Nina melepas kepergian sang suami dengan tatapan sekaligus senyum penuh cinta. Tatapan yang juga tetap sama, meski dua tahun telah berlalu, dan akhirnya kini Akala tengah menggendong putra pertama mereka, adik dari Alina dan Akina yang memiliki tubuh segar, bernama Arkanza.


Keluarga Akala khususnya para orang tua berdalih, Arkanza sangat mirip Akala, saat Akala masih kecil. Karena saat Akala masih kecil, Akala juga memiliki tubuh segar bahkan gen*dut, kulit putih, sementara kedua matanya sipit mirip orang chinese. Yang membuat Arkanza akan makin menggemaskan, tentu ketika bocah itu tengah tersenyum hingga hidung apalagi kedua matanya makin tidak terlihat, efek tertutup pipi yang sana sini daging.


Di kabupaten mereka tinggal, bersama Malini, pak Kalandra dan ibu Arum yang turut membantu mengawasi Alina dan Akina Nina dan Akala tengah meninjau jalannya pembangunan rumah makan mereka.


“Satu tahun lagi harusnya beres dan sudah bisa beroperasi!” ucap pak Kalandra yakin. Ia yang tengah mengemban Alina, fokus mengawasi hamparan bangunan rumah makan milik bungsunya, dengan saksama. Meski sesekali, ia akan memastikan Alina minum air putih dengan benar dituntun oleh Malini melalui botol minum khusus.


“Kalian buka cabang usaha di sini, mbak Mbi dan mas Aidan di Pangandaran, mbak Azzura fokus di Jakarta, ya sana sini usahanya mirip kalian. Sementara mas Azzam juga sudah makin sibuk bantu mbak Sundari urus klinik kecantikan,” ucap ibu Arum tak hentinya bersyukur. “Alhamdullilah, kita maju semua!”


“Alhamdullilah,” lembut Nina yang kemudian melirik sang suami dan ada di sebelahnya. Seperti biasa, Akala yang sangat penyabar, sudah langsung menyambutnya dengan senyuman. Alasan yang membuat Nina tak segan memeluk Akala yang masih memeluk Arkanza, dari samping. Nina yang tidak mengurus siapa pun, memeluk Akala sangat erat.


“Jadi, nanti Malini mau lanjut SMP di mana? Di sini apa di Jakarta, sama mamah Aleya dan papah Maheza?” ujar pak Kalandra ingin tahu rencana Malini yang memang sudah lulus SD dan sampai detik ini, nanti, bahkan selamanya, sudah ia anggap sebagai anak sendiri. Terlebih selain pintar sekaligus manis, Malini juga tumbuh menjadi anak sekaligus pribadi penyayang. Bukan hanya kepada anak-anak Nina dan Akala, tapi semua.


Sekitar tiga jam kemudian, di sore menjelang senja, Akala sengaja memboyong keluarga kecilnya ke pesantren Kim dan Helios. Seperti biasa, Akala yang menyetir mobil, sementara di sebelahnya ada Nina. Kemudian tepat di belakang mereka ada pak Kalandra dan ibu Arum. Arkanza yang tidur tengah dipangku ibu Arum. Sementara di tempat duduk paling belakang, ada Malini yang diapit oleh si kembar. Alina dan Akina tengah kepo menonton video anak di ponsel Malini.


“Yang, besok Malini sekolahnya bisa sekalian sambil mondok. Bisa pulang pergi, atau sekalian tinggal di sini. Coba nanti dibahas, anaknya mau enggak,” lembut Akala yang berangsur menurunkan Arkanza untuk turun.


Mereka ada di taman samping pondok pesantren. Karena anak-anak termasuk Arkanza yang mulai bisa berjalan, sibuk main bersama, Akala sengaja menggandeng sebelah tangan Nina kemudian mendekapnya penuh sayang.


Akala dan Nina tidak tahu, jika di dalam sana dekat anak-anak mereka, ada wanita bercadar dan tak lain Cinta, tengah diam-diam mengawasi. Cinta memang sudah selesai menjalani hukuman karena Cinta mendapatkan banyak potongan kurungan akibat perubahan baiknya.


“Ternyata mereka enggak kalah bahagia dari Chole dan Helios. Malahan menurut kabar yang beredar, Nina dan adik perempuannya sampai diangkat jadi anak oleh mamah Aleya dan papah Maheza,” batin Cinta. Kedua matanya dan menjadi satu-satunya yang tidak tertutup cadar hitam, menjadi basah sekaligus bergetar.


Tatapan Cinta berangsur teralih kepada ketiga anak kecil yang ia pergoki justru tengah memetik bunga-bunga di sana. Yang perempuan dan ia ketahui kembar, wajahnya sangat mirip wajah Nina asli. Sementara yang laki-laki sangat mirip Akala. Ketiganya sangat akur dan tak lupa menggandeng sang adik sambil berseru memanggil papah mamah mereka. Terakhir, bunga-bunga yang ketiganya rangkai, ternyata diberikan kepada Nina.


“Masya Allah ... anak-anak Mamah sama Papah pinter semua. Makasih banyak, ya!” ucap Nina benar-benar terharu. Ia memeluk sekaligus mengabsen wajah ketiga anaknya dengan kecupan. Hal yang sama juga langsung ia lakukan kepada Akala, hingga ia ditertawakan oleh ketiga anaknya.


“Sungguh akhir yang sangat manis untuk mereka,” batin Cinta memilih masuk ke pesantren tempatnya mengais rezeki. Pondok pesantren yang Helios bangun secara khusus untuk Chole, istri tercinta—baca novel : Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Alhamdulilah ... aku akhiri kisah Nina dan Akala sampai di sini. Nanti kita lanjut ketemu mereka di novel anak-anak bahkan Malini. Karena novel Malini juga sudah mulai ongoing, update setiap hari insya Allah buat lomba juga.


Satu persatu novel pasti akan aku garap, tergantung pesanan juga aku harus garap yang mana dulu, ya. Mohon bersabar, doakan saja biar aku sekeluarga sehat, dan kalian sekeluarga juga sama-sama sehat, buar kita bisa sama-sama seru-seruan baca, ikutin cerita.


Sekali lagi, terima kasih banyak buat semua dukungannya. Masih enggak nyangka bisa juara 1 di lomba tema pembalasan istri.


Terakhir, aku juga mau minta maaf jika masih banyak salah baik yang sengaja maupun tidak.


Lanjut ke novel yang lain yaa ❤️❤️❤️❤️❤️


❤️TAMAT❤️