
Bekal sudah disiapkan langsung oleh pasangan yang akan berangkat kencan. Para kakak apalagi Azzam terus saja mengawasi sambil sesekali menelan ludah. Sesekali, bibir Azzam maju atau miring menahan iri.
“Kemarin kan udah kan, ke Yogjakarta? Tiga hari loh!” tegur ibu Arum kepada Azzam.
Pak Kalandra yang turut serta melongok dari pintu dapur sengaja menyemangati Azzam untuk segera pergi kerja.
“Katanya mau jadi uncle penggembala para ponakan? Ini asli lucu. Di sebelah ada musafir cinta, eh kamu penggembala ponakan!” Pak Kalandra terbahak-bahak dan berangsur memeluk Azzam.
“Ketimbang musafir cinta, pahala jadi uncle penggembala ponakan, Pah!” ucap Azzam membela diri.
Pak Kalandra yang masih menahan tawanya segera mengangguk-angguk sambil tetap memeluk Azzam meski mereka juga tetap melangkah. “Sekalian antar Papah ke kantor, ya. Ada rapat pagi-pagi soalnya.”
“Siap Pah, ... asal ada uang bensin. Aku kan bukan Akala apalagi mas Aidan yang dikit-dikit buat tabungan akhirat!” balas Azzam dengan santainya.
Dari belakang, ibu Arum yang menahan tawa sampai menitikkan air mata, hanya karena menyaksikan kelucuan Azzam sekaligus santainya tanggapan dari pak Kalandra. “Sebahagia itu suamiku. Semua anaknya sesuai yang dia mau. Ada yang tegasnya beneran tegas dan disegani banyak orang meski dia bukan ketua prem*an. Ada yang kalem dan lembutnya beneran sabar melebihi kesabaran manusia normal. Sementara yang perempuan juga paket komplit. Ditambah lagi, Alhamdullilah dapat menantu juga bikin hubungan keluarga kami makin hangat. Semuanya beneran melengkapi satu sama lain tanpa harus diminta apalagi dipak*sa. Dan yang membuat hubungan kami terasa makin sempurna, kami sedang menyambut cucu di tengah suasana hangat ini yang mana semuanya selalu akur,” batin ibu Arum benar-benar bersyukur.
“Anak emassss!” sindir Azzam ketika pak Kalandra dengan sengaja menghampiri kemudian memeluk gemas Azzura yang akan jalan pagi dengan Excel di ruang keluarga.
“Anak Mas Kalandra ...!” ucap Azzura menepis kejailan sang kembaran sambil memeluk erat sang papah.
Excel yang ada di sana, hanya senyum-senyum sendiri sambil sesekali mengawasi interaksi menggemaskan bapak dan anak kembar di hadapannya. Malahan Excel jadi curiga, di masa depan, ia juga akan mengalami apa yang pak Kalandra alami sekarang. Menjadi bahan perebutan kedua anaknya yang haus perhatian dan tak segan jain satu sama lain.
“Itu coba yang di perut geraknya jangan lemes apalagi malas. Dikasih yel-yel dong. Mau zumba atau malah dance Blackpink! Kalian di dalam jangan mokbang terus dong. Ikut bantu papah kalian urus pabrik tahu sama tempe apa gimana!” berisik Azzam sambil mengelus-elus perut Azzura yang kadang tak segan ia tepuk gemas.
Azzura yang sibuk ngakak layaknya pak Kalandra, buru-buru melipir ke Excel, meminta perlindungan pada suaminya. “Nanti anak-anak aku jadi s*tres ih Mas Azzam. Nah kan, mereka jadi enggak mau diam gini!” ucap Azzura yang sampai detik ini masih kesulitan menyudahi tawanya.
Excel sampai turun tangan, mendekap perut sang istri yang makin besar dan penghuninya tidak mau diam menggunakan kedua tangan, kemudian mengabsennya dengan kec*upan lembut.
“Itu kamu komat-kamit baca apa, Cel? Ih, kok mirip Sepri pas dia lagi sakit gigi?” jujur Azzam.
Mendengar itu, Excel langsung tertawa. Tawa yang perlahan membuatnya lemas. “Tadi aku baca doa Mas. Ya enggak tahu saja, pernah di Jakarta mereka enggak mau diam. Aku sampai undangin kyai, katanya wajib dibacain doa-doa pendek. Surat maryam sama surat yusuf juga lebih dianjurkan.”
“Iya, bener. Baca surat Yusuf, biar pas keluar ganteng kayak Uncle Azzam! Bener-bener!” ucap Azzam bersemangat. Tak peduli meski ulahnya justru membuat yang di sana makin tidak bisa berhenti menertawakannya.
Di sebelah ibu Arum, Akala dan Nina sudah ikut menyaksikan kehebohan di depan sana. Ibu Arum langsung menatap semringah pasangan baru itu. Ia memeluk Nina, mencoba merangkul hati sekaligus mental Nina agar wanita pilihan Akala itu bisa percaya diri.
“Kamu enggak usah minder-minder lagi. Lawan rasa trauma kamu. Ubah semuanya jadi prestasi. Jadilah wanita sekaligus manusia yang menginspirasi. Buktikan kepada dunia kamu bisa, kamu layak disayangi. Kamu layak dilihat karena kamu hebat. Walau tentu, alasan seseorang layak dilihat karena dia hebat. Kamu juga layak jadi orang hebat karena ulet, pekerja keras. Masa lalu kamu boleh saja diru*sak, tapi tidak dengan yang kamu jalani sekarang apalagi masa depan. Kami semua ada buat kamu!” yakin ibu Arum.
Satu hal yang juga kembali ibu Arum sampaikan pada Akala dan itu mengenai keputusan keduanya menjalin hubungan. “Kalian harus tanggung jawab pada setiap keputusan yang kalian pilih termasuk hubungan. Kalian pilih ini untuk hubungan kalian, intinya kalian harus bekerja sama menjalani tanggung jawab ini. Berdampingan, saling menghargai, rundingkan setiap hal yang ada apalagi hal penting dalam hidup sekaligus hubungan kalian. Semuanya sudah ada, ... semua contoh sudah ada di depan mata. Dari nenek kakek kalian, orang tua, bahkan saudara kalian. Alhamdullilah, mereka bahagia karena mereka menjalani prinsip hidup menjadi orang baik yang bertanggung jawab!” Ia mengakhirinya dengan menepuk-nepuk pelan punggung Nina dan Akala nyaris bersamaan.
“Makasih banyak, Mah ...,” ucap Akala sambil tersenyum hangat. Hal yang juga langsung Nina ikuti meski senyum yang Nina berikan masih senyum sungkan cenderung takut.
“Ini lagi masih takut saja!” gemas ibu Arum sambil menahan tawanya. Ia membingkai gemas wajah Nina menggunakan kedua tangannya.
“Kamu hanya boleh takut ke Mamah, kalau Mamah sudah bawa taflon!” ucap Akala wanti-wanti kepada Nina.
“Hah ...?” refleks Nina terbengong-bengong heran, tapi ibu Arum malah tertawa lemas. Entah apa yang sebenarnya ada di balik maksud taflon. Namun Nina ingat, ibu Arum pernah menceritakan kisah wanita tangguh bersenjata taflon.
“Ini kalian beneran mau ajak Malini? Malini enggak sama Mamah saja? Kalau iya, nanti Mamah bawa mobil sendiri jagain Malini di sekolah sampai dia beres sekolah,” lanjut ibu Arum. Apalagi baik Akala maupun Nina tampak sudah siap untuk pergi jalan-jalan.
“Enggak apa-apa, Mah. Kami sengaja ajak Malini biar dia enggak kesepian. Semacam terapi karena biar bagaimanapun, nantinya kami juga bakalan jadi orang tua buat Malini. Lagian enggak tiap hari juga. Nanti kalau sudah jalan dua minggu atau satu bulan, Malini juga bakalan kami lepas dan kami kontrol lewat guru saja,” ucap Akala.
Ibu Arum sudah langsung tersenyum hangat menyambut setiap penjelasan dari anak-anaknya. Namun sebelum mereka benar-benar pergi menjalani aktivitas masing-masing, ia sengaja membuat semuanya bertemu sekaligus mengobrol hangat, meski hanya sebentar. Tampak mas Aidan yang sudah lebih dulu mengajak sang istri berjemur. Terlebih dari semuanya, jadwal mas Aidan memang paling padat dan bisa jadi, sebentar lagi mbak Arimbi sudah ditinggal dinas.