Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
65 : Sebelum Ijab Kabul


“Ini para ciwi-ciwi, ke mana? Kok enggak ada yang datang?” ucap Ojan.


Yang datang itu keluarga paman Lim dan ibu Widy.


“Yang lain termasuk ciwi-ciwi lagi pada sibuk banget, Mas Ojan. Paling nanti pas resepsi. Yang bisa cuma Liam, nih ...,” jawab ibu Widy santai sambil memberikan satu botol air mineral yang ia buka, kepada sang suami.


“Ah, si Liam ... aku enggak suka ke Liam soalnya dia berisik kayak Azzam. Bisa meledug ini rumah kalau mereka berdua duel!” balas Ojan berbisik-bisik khas orang gibah.


“Duel, apa duet?” ucap paman Lim, setelah sebelumnya buru-buru menenggak minuman pemberian sang istri. Sebab ucapan Ojan sudah langsung membuatnya tertawa geli.


“Ya intinya, yang gitu-gitu lah!” ucap Ojan bingung sendiri, tapi paman Lim dan bibi Widy malah menertawakannya.


“Om Ojan, Om Ojan ... ini ciwi, Om! Tadi Om Ojan nyari, kan?!” ucap Liam sambil menggendong ransel kecil berwarna hitamnya. Ia yang juga menuntun sang nenek, sengaja memamerkannya kepada Ojan.


“Idih, ... itu sih, ciwi kedaluarsa!” tanggap Ojan sambil melirik geli nenek Rusmini.


Liam sudah langsung cekikikan.


“Ya kan si Liam berisik banget. Aku enggak suka ah,” ucap Ojan ngambek dan memilih membantu membawa ransel dari bagasi mobil milik paman Lim dan sedang diurus sang sopir.


“Tapi kan alasan aku berisik karena aku terinspirasi Om Ojan!” Liam sengaja jail, dan sampai detik ini masih cekikikan. Terus begitu meski sang nenek sudah memberinya peringatan keras. Lengan tangan kanannya sampai biru karena dicubit nenek Rusmini.


“Assalamualaikum ...?” Heboh ibu Widy melayangkan salam diikuti juga oleh paman Lim, sekaligus Liam yang sampai detik ini masih menyusul.


Kehebohan sudah langsung menguasai suasana.


“Ibu Septi, kamu kenapa, elus-elus kepala? Habis nyeruduk siapa?” tanya ibu Widy yang langsung duduk di sebelah ibu Septi. Layaknya bestie pada kebanyakan, ibu Widy sudah langsung memeluk ibu Septi.


“Ini kepalaku habis ‘dikeplak’ sama eyang Fat, ibu Widy. Duh ... kleyengan bin puyeng, ini!” keluh ibu Septi sambil tetap mengelus-elus kepalanya.


Ibu Widy yang sempat terkejut, sudah langsung ngakak. “Ya kamu, sudah ibu-ibu masih bertingkah. Lawannya Ojan, sih. Makanya jiwanya tetap muda!”


“Eh, ada Ibu Septi. Assalamualaikum, Ibu Septi? Gimana kabarnya, sehat? Makin langsing makin cantik saja,” ucap Liam yang sampai sungkem kemudian menyalami tangan kanan ibu Septi dengan sangat takzim.


“Eh, Ibu Widy ... anak situ kesam*bet saiton sopan santun?” bisik ibu Septi bingung sendiri.


“Ada maunya, pasti itu. Ada maunya!” ucap Azzura sengaja menyindir Liam sambil menyusun setiap bungkusan lempernya ke tampah. Detik itu juga, Liam berangsur menatapnya sambil tersenyum tak berdosa.


“Wah ... berbeda dari aku, si Sundari beneran laris sana sini melamar!” bisik ibu Septi kepada ibu Widy, sambil terkikik.


Setelah sempat bengong melihat sekaligus mendengar tingkah anaknya, ibu Widy kembali terbahak. “Pah, anakmu mirip siapa. Kok enggak tahu malu banget!” ucapnya masih terpingkal-pingkal. Di sofa, paman Lim yang mulai istirahat hanya menahan senyumnya. “Si Sundari kan dapat bibit unggul dari mas Andri, Bu Sep!” ucap ibu Widy lagi.


“Oalah ... hahaha, telat kamu, Liam! Wong Sundari sudah jadi pacarnya mas Azzam!” ucap Azzura terbahak-bahak menertawakan Liam.


“Telat kamu Liam. Berisik terus, sih, makanya ada gosi*p kamu enggak denger sendirian. Ya sudah, kalau gitu sekarang kamu jadi Pengejar Perawan saja, sementara aku tetap jadi musafir cinta pemuja janda!” ucap Ojan sudah berhasil menarik satu koper berukuran sedang milik ibu Widy.


Walau sempat sedih atas kabar hubungan Sundari yang justru sudah berpacaran dengan Azzan, Liam sengaja berkata, “Buktikan, Om Ojan! Karena jika Om memang benar-benar musafir cinta, nikahin juga nenek aku yang sudah janda!” ucap Liam dan sudah langsung membuat semuanya tertawa.


“Idih, si Liam ... dikiranya aku laki-laki apaan! Nenek kamu kan sudah kedaluarsa!” balas Ojan mencibir dan makin menyemarakan kebersamaan di sana.


Kebersamaan di sana sudah langsung berubah, setelah ibu Widy yang menyalami setiap orang di sana, berhadapan dengan Nina. Nina dan kesamaan wajahnya dengan Cinta.


“Assalamualaikum, Bi Widy. Saya Nina, calon istrinya mas Akala!” ucap Nina benar-benar lembut sekaligus santun. Ia menyalami tangan kanan ibu Widy dengan sangat takzim, guna mengalihkan perhatian wanita itu agar tak terkecoh ke wajahnya.


Bibir ibu Widy memang membalas salam Nina, tapi batinnya sibuk membahas kesamaan wajah Nina dengan Cinta. “Ayo sini, salam ke Paman Lim. Paman Lim ini suaminya Bibi, yang tentu paman Akala juga.” Ibu Widy sengaja menuntun Nina untuk menghampiri paman Lim yang berdalih pusing efek perjalanan jauh yang ditempuh.


Tak beda dengan ibu Widy, sekelas paman Lim juga langsung bengong menatap wajah Nina yang begitu mirip Cinta, meski dari raut wajah, fisik, dan juga suara, Nina tampak jauh lebih muda. Dan Nina sadar, pemandangan layaknya kini akan terus ia dapatkan dari mereka yang belum terbiasa dengan wajah barunya dan sangat mirip wajah Cinta.


“Sini, duduk. Ngobrol sebentar. Tapi omong-omong, Akala mana? Kerja, dia?” ucap paman Lim, hingga sang istri sengaja menuntun Nina untuk duduk di sebelah paman Lim.


Diam-diam, paman Lim yang masih merupakan adik dari Tuan Maheza ayah Chole berujar, andai Tuan Maheza dan ibu Aleya melihat wajah Nina, pasti keduanya akan merasa sangat bersalah. Pasti lagi-lagi keduanya akan merasa sangat hancur gara-gara ulah anak adopsinya.


***


Malamnya, pengajian sekaligus doa bersama digelar. Nina dan Akala duduk di barisan berbeda karena di acara pengajian yang diselenggarakan di lantai bawah ruang keluarga pak Kalandra, laki-laki dan perempuan memang berpisah.


Semuanya hadir dalam formasi lengkap sekaligus kompak menggunakan warna putih. Terhitung ada hampir lima puluh orang yang mengikuti acara, termasuk itu beberapa tetangga sekaligus kolega terdekat pak Kalandra.


Hanya saja, suasana sudah langsung berubah semenjak kedatangan tuan Maheza dan juga ibu Aleya. Kedua orang tua Chole, yang juga merupakan orang tua angkat Cinta itu langsung terduduk lemas di hadapan Nina. Terlebih ibu Aleya, wanita itu tanpa pikir panjang langsung memeluk Nina di tengah air matanya yang sibuk berlinang.


Ibu Arum dan mbak Arimbi yang kebetulan duduk mengapit Nina, dan mereka duduk di barisan paling depa, refleks saling tatap. Keduanya mengelus pelan punggung Nina maupun ibu Aleya.


“Maaf ya ... maaf buat semuanya ....” Ibu Aleya masih tersedu-sedu sambil terus mendekap erat punggung Nina. Sampai detik ini, selain tetap diam, Nina juga tetap tidak membalas dekapannya.