Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
75 : Nyaman


Kabar Nina dan Malini yang diangkat menjadi anak oleh Tuan Maheza, sudah sampai ke telinga pak Kalandra sekeluarga. Tak mau kalah, Ojan yang merasa telah diangkat sebagai anak oleh Helios dan Chole, juga mengabarkannya. Karena kebetulan, Ojan sengaja mampir dan berdalih akan menginap, tidur bar*eng Azzam. Ditambah lagi, Sepri yang di kandang sudah tidak sakit lagi.


“Si Helios pasti tersiksa lahir batin gara-gara punya anak macam kadal tua kayak kamu, Jan!” komentar Azzam sambil meraih gelas berisi air putih miliknya.


Mereka sedang makan malam. Sementara Azzura dan mbak Arimbi yang tidak bisa menahan tawa gara-gara komentar Azzam kepada Ojan, buru-buru beranjak dari sana.


Azzura dan mbak Arimbi kompak kelepasan tawa mereka. Keduanya sudah langsung jadi pusat perhatian, tapi keduanya memiliki alasan sama perihal mereka yang sampai pergi dari sana.


“Enggak tahan kalau Mas Azzam sudah komentarin kelakuan Mas Ojan!” ucap Azzura lemas karena tawanya.


“Ajam emang malu-maluin, yah, Mbak Azzura!” ucap Ojan dengan jujurnya sambil menikmati ayam bakar di piringnya.


Azzam yang duduk di sebelah Ojan, sudah langsung mendelik. “Loh, malu-maluin gimana, maksudnya?!” kesalnya.


“Mas Azzam, tahan. Biarkan Akala menjelaskan secara rinci, niat baik keluarga Tuan Maheza. Karena biasanya kalau sudah begini, ada akta khusus. Jadi, Mas ingin tahu akan sampai ada itu, atau enggak sampai ada?” tegur Mas Aidan. Membuat fokus obrolan mereka kembali ke nasib Nina dan Malini yang akan dianggap anak oleh Tuan Maheza sekeluarga.


“Kayaknya enggak perlu deh Mas. Cukup cara mereka bersikap saja yang mungkin akan seperti layaknya anak dan orang tua,” ucap Akala yang kemudian menatap Nina yang duduk di sebelahnya, penuh cinta.


Walau langsung kikuk, Nina juga membalas Akala dengan senyum yang benar-benar manis.


Tanpa direncanakan, balasan Akala sudah langsung membuat semuanya menoleh menjadikan bungsu mereka sebagai pusat perhatian. Yang mana karena itu juga, semuanya termasuk mbak Arimbi dan Azzura, jadi kompak tersenyum hanya karena interaksi manis antara Akala dan Nina, membuat mereka kikuk.


“Eh Nin, aku lupa nanya saking bahagianya karena sekarang, aku punya mami papi!” sergah Ojan bersemangat.


“Wuuakakakkak! Mami papi dari Arab! Mami papi, wong kamu saja anak yang tak diakui! Huahahahahaha!” Azzam benar-benar tidak bisa diam. Terus ngakak dan tawanya itu benar-benar menular.


“Lahhh, tolong dong, jangan ngakak terus!” keluh Azzura yang kesulitan menyudahi tawanya.


Di mana-mana, orang selalu ingin bahagia, tertawa. Namun jika mereka bersama Azzam dan Ojan ditambah Sepri, pasti ceritanya jadi berbeda. Karena mereka pasti akan takut karena terlalu banyak tertawa.


“Kamu pasti takut kalau si kembar jadi mirip Ojan, yah, Mbak!” ucap Azzam masih belum bisa mengakhiri tawanya. Pertanyaannya sudah langsung dibenarkan oleh Azzura yang juga belum bisa mengakhiri tawanya. Termasuk juga ketika Azzam bertanya kepada mbak Arimbi. Bersama mas Aidan, mbak Arimbi yang tidak bisa menghentikan tawanya juga membenarkan. Mereka takut, anak mereka mirip Ojan terlebih kelakuannya.


Detik itu juga, Azzam yang langsung lemas, berangsur berdiri dan berakhir terduduk di lantai. “Ha ... ha ... ha ... haaaaah haaaah haaaah!” Alasan Azzam benar-benar tidak bisa berhenti tertawa lantaran ia teringat adegan Ojan yang menggunakan pembalut untuk meredakan demam. Ojan mengira pembalut sebagai plester demam.


Azzam bahkan hanya mampu pasrah ketika ia yang akhirnya menceritakan plester kompres pink bersayap milik Ojan, berakhir ngompol di sana. Nina yang sebelumnya sudah mendengar cerita dari Azzam juga terpaksa pamit untuk ke kamar mandi. Disusul juga oleh Azzura, mbak Arimbi, ibu Arum, pak Kalandra, dan terakhir nenek Kalsum. Yang tersisa di sana benar-benar orang tangguh. Mereka hanya tertawa sambil menangis, tak sampai ngompol.


“Tapi yang aku tangkap, si mas Ojan bahagia banget loh Mas, akhirnya punya orang tua,” ucap Nina ketika akhirnya mereka bersiap tidur.


“Iya, aku juga yakin semuanya mikir begitu, meski kami menyampaikannya dengan cara berbeda,” ucap Akala sambil beranjak duduk dari sisi kanan tempat tidur kemudian mendekati Nina yang sudah duduk di sebelah kiri. “Kamu jangan mikir keluargaku apalagi mas Azzam, kejam, jahat ke mas Ojan. Kami memang begini, gimana sih, ya. Siapa juga yang enggak kesel, geregetan, apalagi kalau diperhatikan, mas Ojan kayak sengaja mengetes kesabaran mas Azzam.” Akala sengaja memberi sang istri pengertian. Namun karena Nina justru sibuk menahan senyum dan di matanya itu membuat Nina sangat manis, ia sengaja merengkuh tubuh Nina kemudian mengunci bahu kanan istrinya itu menggunakan dagu.


“Salut sih ke keluarga Mas. Buktinya, sekelas mas Ojan saja kelihatan nyaman banget. Mas Ojan betah banget di sini padahal sudah berulang kali diusir,” ucap Nina masih menahan tawanya.


“Tapi, kamu juga merasa nyaman, kan?” tanya Akala serius meski nada suaranya masih sangat lembut.


Mendengar itu, Nina sudah langsung kikuk. Dada Nina berdebar-debar dan seketika, Nina merasa sangat tegang. Nina berangsur mengangguk, anggukan yang teramat kaku, tapi ia juga sengaja berkata, “Iya, ... Mas.” Demi menegaskan kepada Akala.


Senyum lembut lepas dari bibir Akala. Terlebih pengakuan Nina juga dibarengi dengan istrinya itu yang jadi tak berani menatapnya. Nina tampak sangat malu-malu, hingga ia tak bisa menahan diri dan berakhir mengec*up lembut pipi kanan Nina. Ia dapati, pipi Nina yang detik itu juga menjadi bersemu.


“Aku rasa, sekarang kamu juga sudah mulai merasa nyaman dengan hubungan kita,” ucap Akala sambil terus mendekap Nina.


“Kan memang sengaja belajar,” jawab Nina jujur sambil menatap sang suami.


Jawaban Nina yang dilengkapi dengan wajah khususnya tatapan yang benar-benar polos, membuat seorang Akala meleleh. Akala sengaja menempelkan punggung hidungnya ke hidung Nina, kemudian memejamkan kedua matanya.


Kali ini, giliran Nina yang tersenyum lembut seiring kedua mata Nina yang terpejam damai. “Rasanya sebahagia ini. Damai ... makasih banyak ya Allah. Makasih banyak karena sudah mengizinkan hamba bahagia tanpa harus terus dihantui ketakutan bahkan ... rasa jij*ik itu!” batin Nina.


Dunia seolah berputar lebih lambat bagi Nina dan Akala hanya karena apa yang tengah mereka lakukan. Sambil tetap memejamkan mata, sementara dahi dan hidung mereka masih kompak menempel, tangan kiri Akala yang tidak merangkul pinggang Nina, berangsur mencari tangan kiri Nina, kemudian menggenggamnya. Yang membuat Akala merasa sangat lega, tentu karena Nina juga langsung membalas genggaman tangannya.


“Alhamdullilah ya Allah. Akhirnya Nina merasa nyaman juga. Ini benar-benar kemajuan pesat,” syukur Akala dalam hatinya. Kedua matanya terasa berembun, tapi ia tetap mempertahankan senyumnya atas rasa nyaman yang tengah menyelimuti kebersamaan mereka.