
Nina tengah memandangi layar laptop sang suami yang berisi laporan pesanan dan harus segera kirim. Pesanan hari ini terbilang masih stabil, banyak, membuat kebahagiaan menghasilkan senyum di wajah cantiknya. Yang mana, senyum di wajahnya makin lepas ketika sang pemilik laptop datang menghampiri sambil membawa segelas susu untuknya.
“Sambil diminum,” sergah Akala yang sengaja duduk di sebelah Nina.
Mereka duduk lesehan di karpet depan tempat tidur mereka dan memang disertai meja.
Nina tersenyum manis sambil mengucapkan terima kasih. Seiring kehamilannya yang makin besar, Akala memang makin menjadi suami siaga. Mereka bahkan jadi lebih sering menghabiskan waktu bersama di tengah kesibukan mereka. Terlebih semenjak mendekati HPL, Akala sengaja mengurus semua pekerjaan dari rumah. Termasuk pekerjaan di perusahaan Tuan Maheza karena keluarga angkat Nina itu juga memberikan izin secara khusus.
Seseorang mengetuk pintu kemudian disertai suara Malini yang memohon izin untuk masuk. Akala sudah langsung menyuruhnya masuk, hingga Malini juga bergabung dengan mereka. Malini membawa tas dan meminta diajari menyelesaikan PR-nya. Biasanya, Malini memang akan mengerjakannya bersama ibu Arum atau malah Azzam. Namun, kini di rumah memang hanya ada mereka bertiga lantaran yang lain sedang ada acara di luar.
“Tulisan Malini udah makin rapi ya,” ucap Akala sengaja memuji Malini yang kemudian ia elus kepalanya penuh sayang.
Malini tersenyum ceria menatap Akala maupun Nina yang memperlakukannya penuh cinta. Namun, senyum di wajahnya perlahan berkurang bahkan hilang. Alasan yang juga membuat kedua orang di sebelahnya menatapnya penuh kekhawatiran.
“Lini, kamu kenapa?” tanya Nina sambil menyisihkan gelas berisi susu untuk ibu hamil yang belum ia habiskan.
“Sudah lama banget. Bahkan Mbak Nina sudah mau punya anak. Tapi kok, mamak sama bapak belum datang juga? Memangnya mereka sesibuk itu, ya? Sekadar telepon saja, enggak,” ucap Malini yang jujur saja merasa sangat rindu kepada orang tuanya. Termasuk itu pak Surat yang sudah ibu Sulastri yakinkan sebagai orang tuanya.
Selain langsung tidak bisa berkomentar, kedua mata Nina juga sudah langsung berembun. Sebab sampai kapan pun, ibu Sulastri dan pak Surat ibarat mimpi bu*ruk untuk mereka.
“Kok Mbak malah nangis ....” Malini menatap khawatir sang kakak.
Akala sudah langsung merangkul punggung sang istri. “Yang ...,” lembutnya berusaha menguatkan.
Setelah menatap Akala, Nina kembali fokus kepada sang adik. “Malini, sebenarnya mamak dan bapak sudah meninggal!” Ia sengaja menutup kisah mereka dengan kedua ib*lis berwujud manusia yang telah menghanc*urkan masa depan mereka.
“Mereka meninggal karena kebakaran rumah kita!” yakin Nina. Tak peduli meski ulahnya justru membuat tangis Nina makin tak terkendali.
Nina berangsur berdiri menghampiri Malini kemudian duduk di sebelahnya. “Kamu punya Mbak. Sudah jangan memikirkan mereka lagi!” isak Nina. Terlebih andai Malini sudah dewasa, pasti apa yang pernah Malini alami yaitu pele*ceh*an yang dilakukan pak Surat atas izin bahkan mungkin dukungan dari ibu Sulastri, justru menjadi mimpi bu*r*uk bahkan trauma seumur hidup untuk Malini. Belum lagi jika Malini justru tidak menemukan pendamping yang tulus.
“Mbaaak ....” Malini makin tersedu-sedu.
Akala segera duduk di sebelah sang istri. Ia merangkulnya yang masih mendekap erat Malini. “Malini, Mas janji kalian enggak akan kekurangan apa pun. Malini ingin apa, cukup katakan, ya.”
Membahas pak Surat, pria itu sudah dikebiri. Di ruang tahanannya pun, pak Surat yang keadaannya tak jauh berbeda dengan ibu Sulastri, masih kerap diha*jar habis-habisan oleh seni*ornya di sana. Hanya saja, mungkin karena Tuhan sedang memberi pak Surat hukuman nyata, pria itu seolah memiliki nyawa tambahan dan tak kunjung meninggal. Namun jika merujuk jadwal, setengah tahun lagi harusnya menjadi waktu eks*sekusi pak Surat untuk menjalani hukuman mati atas tindakan kej*inya selama ini.
“Ibaratnya, sekarang kami juga orang tua kamu. Mbak Nina jadi mamah kamu, dan Mas jadi papah kamu, ya.” Akala masih meyakinkan. Malahan jauh di lubuk hatinya Akala yakin, kelak dirinya dan Nina juga yang akan melepas Malini melangkah ke jenjang pernikahan.
Setelah cukup lama tersedu-sedu karena tangisnya. Nina menjadi merasa sangat tidak nyaman. Punggungnya terasa sangat panas sekaligus sakit. Sementara perutnya mendadak sangat mules seiring keringat dingin yang seketika menyerang.
“M-mas ....” Nina sampai tidak berdaya untuk sekadar berkata-kata.
“Mbak Nina ... Mbak Nina kenapa?” Tangis Malini bukan lagi karena kerinduannya kepada pak Surat dan ibu Sulastri, melainkan karena Nina yang mendadak kesakitan.
“Ayo kita ke klinik ...!” ucap Akala yang sudah langsung sigap membopong Nina.
“Coba deh, tolong antar aku ke kamar mandi dulu Mas. Ini kontraksi apa bukan, sih? Soalnya aku enggak ngerti,” pinta Nina yang mulai merasa kewalahan.
Setelah dicek, nyatanya ada darah di air kencing Nina. Tersenyum haru sambil menahan sakit, Nina membagikan kebahagiaannya. “Ini beneran kontraksi, Mas ....”
“Kita langsung ke klinik buat cek segala sesuatunya!” sergah Akala yang makin tegang terlebih biar bagaimanapun, akan ada dua bayi yang harus Nina keluarkan di persalinannya.
“Lini, kamu tolong telepon ibu Arum ya. Bilang kalau Mbak Nina mau lahiran. Sudah pembukaan!” sergah Akala sambil memboyong tubuh sang istri dari dalam kamar mandi.
Malini yang awalnya berdiri sekaligus melongok dari depan pintu, segera mengangguk-angguk paham. Sejak setengah tahun terakhir, Malini memang sudah diberi ponsel atas pengawasan bersama. Ponsel untuk belajar secara online dan hanya dihiasi beberapa aplikasi untuk komunikasi. Karena sekadar tontonan video pun, Malini hanya diizinkan menonton video khusus anak.
“Aku sudah enggak punya orang tua karena ternyata, mamak sama bapak sudah meninggal. Namun, mas Akala dan mbak Nina, juga keluarga ini juga sangat menyayangiku,” batin Malini. Ia ikut serta ke klinik dan menyaksikan kekompakan keluarga Akala dalam menemani Nina menjalani persalinan.
“Kenapa mbak Nina baru mengatakannya sekarang, ya? Dan kenapa, mbak Nina justru memintaku melupakan mamak dan bapak?” pikir Malini lagi. Pada kenyataannya, ia yang sedang banyak ingin tahu memang merasa ada yang janggal kenapa dirinya justru diminta untuk melupakan. Terlebih kebanyakan, orang yang sudah meninggal bukan untuk dilupakan, tapi didoakan.
“Ya sudahlah ... khusus yang ini, aku nurut saja. Aku enggak boleh bikin mbak Nina makin sedih apalagi sekarang, mbak Nina bakalan langsung punya anak kembar. Aku fokus belajar sama bantu-bantu mbak Nina saja,” pikir Malini yang tak menyadari, keadaan membuatnya berpikir lebih dewasa terlalu dini.