
“Ada yang makin semangat ...,” lembut ibu Arum.
Mendengar itu, pak Kalandra mengernyit, menatap aneh sang istri atas apa yang baru terucap. Ada yang makin semangat? Pikirnya yang segera menoleh, memastikan apa yang tengah mencuri perhatian sang istri. Padahal, kedua tangan ibu Arum tengah mengangsurkan sajadah untuknya salat subuh di masjid. Namun tatapan ibu Arum justru tertuju pada Akala yang ia pergoki tengah melangkah tergesa ke dapur.
Akala sudah rapi, memakai peci maupun sarung. Sementara di belakangnya tampak Ojan yang mengikuti dengan setengah berlari hingga langkah Ojan lebih mirip langkah kuda.
“Akala kenapa?” lirih pak Kalandra yang kemudian menyampirkan sajadah warna hijau tua di tangan ibu Arum, ke pundak kanannya.
Ibu Arum segera menatap sang suami. Tatapan yang sangat bersemangat. “Mamah rasa, bungsu kita sedang jatuh cinta. Mirip banget sama papahnya pas dulu!”
Meski sempat bengong, ucapan sang istri juga langsung membuat pak Kalandra tersipu. “Asli, jadi pengin muda lagi!” ujarnya masih berucap lirih, tapi perlahan, ia juga menjadi tertawa.
“Mau ngapain ingin muda lagi? Mohon maaf, masa muda Bapak tidak dihabiskan dengan saya!” ucap ibu Arum sengaja pura-pura galak kepada sang suami.
“Ya maksudnya, ayo sama-sama jadi muda, kita muda dan menua bareng. Kalau bisa begitu, kalau kita bisa balik ke masa lalu, dari kamu masih ingusan pun, sudah aku culik. Bayangin kalau kita nikah muda, cucu kita sudah sekolah. Bisa jadi lebih gede dari Lini!” yakin pak Kalandra meski ia masih bisik-bisik dan kadang tertawa.
“Alaaah, si Papah lagi nggombal tuh, Mah. Bohong pasti itu. Paling cuma cari aman makanya bilang begitu!” ucap Azzam yang masih terkantuk-kantuk duduk di sofa depan tempat tidur orang tuanya.
Pak Kalandra kaget. “Loh, sejak kapan Mas ada di situ?” Ia sungguh tak tahu jika di kamar mereka sampai ada orang lain, bahkan meski itu Azzam.
“Dari tadi, pas Papah masih mandi. Habis stre*s berat aku kalau dilengketi sama Ojan. Malahan sekarang dia ngaku kalau dia kembaranku. Ya Allah, masa kembar beda generasi. Yang satu hitam tua berkumis metcing, yang satunya lagi masih wajah bayi begini!” ucap Azzam berkeluh kesah dan memasang wajah pasrah.
Pak Kalandra yang gemas pada Azzam buru-buru menghampiri. Ia memeluknya erat kemudian mengusap-usap kas*ar kepala Azzam yang awalnya tertutup peci hitam.
“Ya sudah, sana berangkat ke masjid,” ucap ibu Arum yang sebenarnya juga gemas kepada Azzam. Malahan dari semuanya bahkan itu Akala yang bungsu, Azzam seolah paling bayi di antara semuanya. “Punya Azzam seperti punya bayi diformalin,” pikir ibu Arum. “Memangnya Ndari enggak kabar-kabar, kok Mas lesu gini?”
“Ndari lagi berjuang melawan tamu bulanan, Mah. Tadi pukul tiga baru bisa tidur. Kami teleponan sampai jam segitu. Untung hari ini dia kuliahnya libur!” cerita Azzam yang kemudian langsung gibah. “Si Akala jadi aneh. Dia suka ke Nina apa gimana, ya? Firasatku begitu!” bisiknya.
Ibu Arum langsung tersipu. Lain dengan pak Kalandra yang langsung terdiam serius.
“Ini jangan sampai keceplosan ke Nina loh, Mas. Keadaan Nina beneran sensitif. Jangan bun*uh diri apalagi str*es saja, dia sudah syukur banget,” ucap pak Kalandra masih berbisik-bisik.
Azzam kebingungan. “S-salahku apa, Pah?”
Pak Kalandra berangsur menghela napas dalam sekaligus pelan. “Kamu enggak salah, tapi kamu perlu lebih jaga sikap ke Nina. Kalau ke Nina ngomongnya rem wajib dipasang. Mas kan tahu, Nina dan masa lalunya gimana. Boleh ceplas-ceplos, tapi jangan bahas masa lalunya.”
Menyimak itu, Azzam langsung mengangguk-angguk, kemudian ia menyalami tangan kanan pak Kalandra dengan takzim, sebelum ia juga melakukannya kepada tangan kanan sang mamah.
“Ini gimana? Kok Papah disalami juga? Kita saja mau ke masjid bareng,” ujar pak Kalandra.
“Eh iya, khilaf Pah, khilaf. Efek diminta pasang rem, aku jadi lebih alim, Pah!” jujur Azzam yang kemudian menertawakan dirinya sendiri. Tawa yang juga langsung menular kepada orang tuanya.
Hari ini, hanya ibu Arum yang tidak pergi ke masjid lantaran wanita itu juga sedang mendapat tamu bulanan layaknya Sundari kekasih Azzam.
“Sudah, biarin Ojan sama Akala saja. Orang paling sabar kan Akala,” ujar Azzam.
“Tapi yang kembaranku kan kamu, Zam!” protes Ojan yang melangkah di barisan paling belakang dan memang sengaja Akala gandeng.
Akala sengaja menahan Ojan agar pria berusia empat puluh tahun itu tidak terus mengganggu Nina.
“Asli, Jan. Apa yang kamu lakukan itu sudah masuk ran*ah pence*maran nama baik!” ucap Azzam yang langsung konsultasi kepada mas Aidan, meski pak Kalandra dulunya juga seorang pengacara.
“Nanti kamu sama Ojan dikandangin sekamar biar kalian jadi akur dan syukur-syukur beneran jadi kembar!” jawab mas Aidan ketika ditanya hukuman yang kiranya akan Ojan dapatkan.
Mendengar itu semuanya tertawa kecuali Azzam yang langsung sibuk protes.
“Seseru ini jadi bagian dari mereka,” batin Nina yang juga ikut tertawa.
Sampai detik ini Nina tidak tahu, Akala jadi sibuk memperhatikannya.
“Kamu mau sekolah lagi?” itulah yang Akala katakan ketika mereka bertemu di jam makan siang. Akala baru datang ke rumah makan karena pria itu baru saja ada urusan di luar.
Nina yang tengah membuat jus jambu merah untuk beberapa pesanan pembeli, langsung diam.
“Yang terbuka saja, jangan yang tiap hari masuk. Asal bisa bagi waktu,” lanjut Akala lantaran Nina terlihat bingung, meski tangan kanan Nina tetap menyaring jus jambu biji merahnya.
Nina berangsur menatap Akala. “Mau, Mas!” Ia mengangguk-angguk.
“Besok kalau kamu dapat libur, kita pergi daftar,” ujar Akala.
Nina langsung mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Makasih banyak.”
“Hari ini kamu sudah mulai ambil anyam rambut?” lanjut Akala.
Detik itu juga Nina terdiam dan perlahan mengerling sebelum akhirnya ia mengangguk-angguk canggung. Sebab pertanyaan yang baru saja Akala tanyakan membuatnya menyadari, dirinya sangat maruk mengambil setiap tawaran yang datang. Bekerja di rumah makan, bekerja paruh waktu menganyam rambut, dan sekarang juga sampai akan mengikuti sekolah terbuka atau itu sekolah kesetaraan SMA. Karena dulu saat akan melanjutkan, Nina dilarang oleh ibu Sulastri dan itu justru menjadi awal malapetaka dalam hidup Nina.
“Kenapa?” tanya Akala lantaran Nina terlihat malu.
Nina menggeleng kemudian tersenyum masam.
“Ya enggak apa-apa. Aku yakin kamu bisa kok! Semangat. Jaga pola makan, wajib seneng. Wajib bahagia bikin pikiran kamu damai. Sudah jadi risiko kamu bakalan kekurangan waktu istirahat, tapi nantinya kamu juga yang bakalan memetik hasilnya. Enggak apa-apa, di luar sana juga rahasia orang sukses banyak yang memang rela hanya istirahat sebentar. Yang penting pas ada waktu, kamu juga pakai buat istirahat.” Akala sengaja menyemangati Nina. Seperti yang ia yakini, Nina sudah langsung tersenyum cerah. Wanita itu kembali bersemangat. “Aku juga mau satu gelas jus jambunya. Antar ke ruang kerja!” ucapnya mendadak canggung bahkan gugup. “Disenyumi begini langsung gugup,” batinnya.
“Iya, Mas!” sanggup Nina langsung bersemangat.
Perlahan tapi pasti, hadirnya Nina memang menghapus sosok bahkan kenangan Cinta dalam hati bahkan hidup seorang Akala. Padahal sebelumnya kita sama-sama tahu, Akala begitu bersabar menjalin hubungan dengan Cinta yang cenderung serba rahasia.