Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
55 : Rencana Meresmikan Hubungan


Semua keluarga Akala memperlakukan Nina maupun Malini dengan sangat baik. Perlakuan yang kerap membuat Nina minder, tapi Nina tetap selalu berusaha percaya diri. Nina selalu melakukan semuanya dengan hati, benar-benar melakukan yang terbaik. Masalahnya, Nina belum terbiasa menerima semua perlakuan baik Akala sekeluarga. Bahkan meski di setiap kesempatan, Akala selalu ada. Nina yakin, Akala sengaja mengawal setiap kebersamaan Nina dengan keluarganya agar Nina terbiasa.


Tiga hari bersama keluarga Akala dalam formasi lengkap, Nina merasa ada yang salah dengan dirinya. Karena dari semua wanita di rumah Akala, hanya dirinya dan Malini yang tidak berhijab atau setidaknya berjilbab. Alasan yang membuat Nina kepikiran. Namun andai Nina tiba-tiba berubah dan berjilbab, pasti semuanya sudah langsung menjadikannya sebagai fokus perhatian. Yang ada kesannya jadi aneh atau malah lucu—Nina terlalu khawatir pada kenyataan tersebut, mengenai tanggapan Akala sekeluarga terhadap perubahan yang akan ia lakukan.


Pagi ini, Nina ditemani Akala mendaftarkan Malini ke sekolah dasar. Sebelumnya, Malini yang baru berusia enam tahun, memang sudah sempat sekolah. Namun tentu saja, sekolah sekaligus lingkungan baru akan membuat Malini kembali beradaptasi dari awal lagi.


“Kamu kenapa? Ada apa? Kamu kelihatan enggak tenang banget loh.” Akhirnya Akala mengomentari keadaan Nina yang duduk di sebelahnya. Mereka tengah di ruang tunggu depan ruang guru SD mereka mendaftarkan Malini.


“Sudah, cerita saja,” lanjut Akala yang yakin, sebenarnya Nina tak sepenuhnya pendiam. Wanita berusia dua puluh satu tahun itu hanya terlalu minder kepadanya. “Memangnya aku kelihatan galak banget ya? Aku tetap masih belum bisa bikin kamu nyaman?” Akala sampai agak membungkuk hanya untuk mensejajarkan wajah mereka.


Nina yang langsung merasa tak enak hati kepada Akala, menatap Akala penuh kekhawatiran. Ia buru-buru menggeleng. “E-enggak gitu, Mas ....”


“Terus ...?” tanya Akala masih sangat bersabar menunggu balasan sekaligus penjelasan Nina.


“Malini ... Malini, itu papah mamah kamu?”


Mendengar pertanyaan barusan dan tentu dilayangkan kepada Malini, Akala apalagi Nina, sudah langsung kikuk. Nina yang awalnya akan bersuara membalas Akala, refleks melirik takut Akala. Walau yang ada, pria itu dengan begitu santai menatapnya sambil terus.


“Nin, coba tolong kamu jujur ke aku, memangnya aku sudah cocok punya anak segede Malini?” Akala berbisik-bisik sambil menatap Nina penuh kepastian. Namun yang ditatap buru-buru menunduk kemudian menggeleng. Tanggapan yang justru membuat Akala terkikik selain ia yang refleks mengelus punggung kepala Nina. Ia terlalu gemas kepada Nina.


“Enggak ih, Mas.” Nina tersenyum pasrah.


“Anak kecil kan enggak mungkin bohong, Nin!” balas Akala masih cekikikan dan membiarkan tangan kanannya masih merangkul punggung Nina.


Nina hanya menunduk pasrah, menyimak obrolan yang terdengar sangat polos, dari Malini dan dua teman barunya di depan sana.


“Itu Mbak aku dan satunya Mas Akala,” jawab Malini tanpa dosa.


“Oh mereka pacaran, ya?” balas anak perempuan yang dari awal sudah langsung heboh dan bersikap kemayu.


“Pacaran ...?” ulang Malini kebingungan.


Sementara bocah perempuan di sebelah kiri Malini dan tidak kemayu, segera berkata, “Ah kamu, masih kecil sudah bahas-bahas pacaran, Silla!”


“Tapi mereka kikuk-kikuk itu ...!” balas Silla, si bocah perempuan kemayu dan gayanya mirip artis. Tampak jelas jika ia memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi.


Menyimak obrolan tersebut, Akala makin terkikik. Namun di sebelahnya, wajah Nina yang sempat ia pergoki memerah, buru-buru ditutup menggunakan kedua tangan.


“Aku beneran masih nunggu kamu buat terbiasa,” ucap Akala.


“Kalau begitu, kita kapan nikahnya?” balas Akala dan langsung membuat Nina tidak bisa menjawab.


“Nin ...?” tagih Akala.


“A-aku kan perempuan, Mas ... ya otomatis aku ngikutin pihak laki-lakinya. Aku ikut Mas saja apalagi sekarang, aku beneran sudah enggak punya siapa-siapa,” lirih Nina sambil mengintip dari ujung jemari tangannya yang masih menutupi wajah hingga sebagian matanya.


“Berarti lebih cepat lebih baik, ya? Biar aku juga punya hak buat tanggung jawab ke kamu. Apalagi sekarang kan kita sudah tinggal serumah,” ucap Akala lembut dan sangat serius.


Meski pembahasan Akala terbilang sens*itif dan sudah langsung membuat Nina sangat gugup, Nina masih bisa mengontrol diri karena penyampaian Akala yang begitu menenangkan.


“Tanggapan orang tua sama keluarga Mas, gimana? Uncle Azzam beneran dilangkahi? Kasihan, Mas ...,” lirih Nina.


“Sundari baru beres kuliah sama sederet praktik, sekitar tiga atau empat tahun lagi. Ya otomatis mereka juga baru akan menikah sekitar itu,” balas Akala.


“Memangnya kita enggak bisa habis mereka saja? Yang tua dulu, baru yang muda?” tanya Nina penasaran.


“Ya kasihan kamunya,” sergah Akala. “Kamu sudah enggak punya siapa-siapa, nanti kalau ada apa-apa, bagaimana? Kita belum nikah, tapi kita sudah ke sana sini bersama. Nanti yang ada kamu juga yang harus menanggung fit*nah. Sementara urusan sekolah termasuk usaha, bisa tetap kamu jalani meski kamu sudah nikah.” Akala masih berbicara dengan lembut.


“Aku enggak akan bahas usia kamu maupun usia hubungan kita. Aku rasa kamu sudah siap dan aku juga sudah siap. Aku juga ingin lepas dari bayang-bayang Cinta karena pada kenyataannya, kami sudah putus cukup lama dan alasan kami putus juga dia yang bikin gara-gara. Andaipun aku harus bersikap baik kepadanya, tentu wajib ada batasnya. Apalagi aku sudah sama kamu, kan. Dan memang enggak penting banget baik bahkan romantis ke wanita lain kalau aku sudah punya pasangan. Baik ke mantan lebih-lebih, yang ada bisa bikin penyakit,” ucap Akala masih berusaha meyakinkan.


Tidak ada yang kurang dari seorang Akala. Meski ke depannya, bayang-bayang Cinta akan terus menghantui Akala apalagi wajah Nina yang sekarang saja sangat mirip dengan wajah Cinta. Namun, Nina percaya kepada Akala. Bukan hanya latar belakang Akala, tetapi karena kenyataan Akala yang selalu memberi Nina yang terbaik. Akala mencintai Nina dengan sempurna.


“Iya, Mas ... pokoknya aku ikut Mas saja,” lirih Nina yang kemudian tersenyum pasrah kepada Akala. Di sebelahnya, Akala langsung tersenyum semringah menatapnya.


Kedatangan Malini yang diantar kedua temennya sudah langsung mengusik kebersamaan kedu sejoli itu. Silla si paling kemayu, langsung mengajak Akala berjabat tangan.


“Ganteng banget ih Mas Akala ... maco. Cogan banget yah, Bel!” ucap Silla kemayu dan sengaja tebar pesona kepada Akala yang langsung mesem sambil menggeleng.


“Ah kamu bikin malu. Ya sudah, Mas dan Mbaknya Lini, kami pamit. Itu mobil jemputannya sudah nunggu!” pamit bocah perempuan bernama Bella dan buru-buru membawa Silla pergi dari sana.


“Assalamualaikum!” sapa suara pria yang langsung mengusik Akala terlebih Nina.


“Ya ampun, Bel, ... ini kok ada kakek-kakek pakai seragam SD?” refleks Silla yang memang tipikal tak memiliki rem mulut layaknya Azzam.


Ojan, sosok yang Silla sebut “kakek-kakek pakai seragam SD” itu benar-benar Ojan. Ojan memakai seragam merah putih lengkap dengan topi dan dasi. Sementara khusus untuk sepatunya, Ojan memakai sepatu boot perempuan warna pink dan ada ukiran yang membuat sepatu itu tampa feminin layaknya gaya khas anak perempuan di Rainbow Ruby. Tak lupa, tas gendong boneka warna pinknya juga selaras dengan bekal minum yang menghiasi dada Ojan.