Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
52 : Si Paling Bikin Geregetan


“Mas, ... Mas Azzam di sini?” heran mas Aidan tak lama setelah keluar dari ruang pemeriksaan, tapi memergoki Azzam ada bersama Ojan. Bersamaan dengan itu, pandangannya langsung mencari-cari keberadaan Akala dan Nina yang ia pergoki ada di ruang depan. Keduanya duduk di bangku tunggu tak jauh dari pintu masuk.


“Nah iya si Azzam. Suruh kerja malah pecicilan. Makan gaji pic*ek(buta) itu!” kec*am Ojan emosi.


Azzam langsung menatap kesal Ojan di tengah bibirnya yang sudah komat-kamit siap menyemprot lawan bicaranya. “Makan gaji picek dikiranya aku pemilik panti pijat tuna netra? Lambemu kalau ngomong kadang minta dipresto biar lebih lunak! Syukur-syukur nanti laku dijual jadi ‘lambe lunak’!” kesalnya.


Mas Aidan yang sempat tertawa buru-buru berucap lirih sambil mengelus perutnya menggunakan tangan kanan, “Amit-amit, amit-amit ....” Karena sang istri sedang hamil dan ia khawatirkan bisa mirip dua orang di hadapannya, ia memilih pergi demi keselamatan calon anaknya.


“M-mas ... Mas Aidan!” seru Azzam sambil menyingkirkan dekapan mendadak kedua tangan Ojan di lengan kanannya, hingga suaranya terdengar emosi.


“Allahu akbar, Zam! Itu ngapain si Akala dekat-dekat istriku!” panik Ojan ketika memergoki kebersamaan Nina dan Akala.


“Innalilahi bayi akhir zaman, eh!” Azzam nyaris terjungkal lantaran Ojan dengan spontan mendorongnya. Pria itu lari dengan buru-buru menuju kebersamaan Akala dan Nina, dan tampaknya memang karena cemburu.


“Braaak!” suara Ojan terjatuh. “Heeek!” Ojan yang jatuh dalam keadaan tengkurap setelah tersandung kakinya sendiri, sudah langsung tidak bisa berkata-kata yang mana kedua matanya juga refleks melotot.


Lain dengan Ojan yang langsung tak berdaya dan tetap tak bisa berkata-kata, Azzam justru tertawa puas!


“Mas, tolongin Mas. Jangan bikin keributan!” tegur mas Aidan.


“Dia yang bikin ribut sendiri ih, Mas. Aku enggak tahu apa-apa. Emang dasar si Ojan kebanyakan dosa, jalan saja jatuh!” balas Azzam dengan entengnya.


Mendengar balasan Ojan, mas Aidan kembali menahan tawanya. Ia berangsur menghampiri Ojan meski Azzam sudah lebih dulu melakukannya.


“Mas, kalau bantu Ojan bangun dari jatuh, wajib cepat. Soalnya kalau habis jatuh, kebiasaan si Ojan kentut beruntun!” ujar Azzam memberi mas Aidan aba-aba.


“Ah, kamu jangan bikin Mas takut, Mas!” ucap Mas Aidan jadi was-was.


Namun, belum genap tiga detik dari ucapan mas Aidan, yang Azzam kabarkan sudah kejadian. Ojan sudah kentut beruntun dan itu membuat kakak beradik yang menangani buru-buru kabur sambil membekap hidung dan mulut.


“Berasa menghindari petasan beruntun yang dinyalain habis salat ID, di depan masjid. Pas kita masih kecil loh, Mas. Ingat, enggak?” ucap Azzam sudah cekikikan.


Akala dan Nina langsung kebingungan melihat tingkah mas Aidan dan Azzam yang baru datang.


Mendengar apa yang Azzam katakan, mas Aidan sudah langsung ngakak. “Bedanya kalau petasan, yang kita tutup itu telinga, bukan mulut sama hidung!” ujarnya dan langsung membuat Azzam makin sulit mengakhiri tawanya.


“Loh, itu mas Ojan, ... kenapa?” Akala khawatir dan hendak menolong. Karena seberapa pun ia cemburu kepada Ojan ketika pria itu memepet Nina, ia tetap peduli sekaligus sayang kepada Ojan. Namun, baru juga akan menghampiri, Azzam yang tubuhnya tidak lebih besar darinya, mendadak menahan sebelah lengannya.


“Biarin, Dek. Itu si Ojan habis kentut ajian mematikan. Nanti yang ada kamu sekarat! Nah kan bener, aromanya sudah maraton ke sini. Uwwe! Ah, Ojan, mana mau ke Yogjakarta, masa terapi kentutnya gini! Uwee!” heboh Azzam jadi mual-mual.


“Z-zam ... tolongin, sandal pink aku putus, mirip hati yang pake!” rengek Ojan masih susah payah berusaha duduk. Seperti yang ia keluhkan, sandal yang ia keluhkan memang putus. Sebelah kanan dan itu membuat sandal berwarna pink ornamen Little ponynya tak mungkin biasa dipakai lagi.


“Akala, bantuin dong. Jangan jauhi aku hanya karena kentutku bau. Yang enggak bisa kentut saja sampai diobat-obatin,” rengek Ojan.


Akala yang paling netral segera menolong sebelum Nina mendahuluinya. Beberapa menit sebelumnya saja, Nina nyaris menolong Ojan. Tentu Akala yang mulai posesif tak mengizinkan. Apalagi, dicueki saja mental Ojan mirip permen karet, apalagi jika didekati dan sampai diberi perhatian? Pikir Akala was-was.


“Mas, kamu belum jawab, kok kamu bisa ada di sini?” tanya mas Aidan.


“Kan tadi kita WA-an dan Mas bilang mau mampir ke sini,” balas Azzam tak berdosa.


“Kamu beneran mau ke Yogyakarta? Pakai apa?” sergah mas Aidan belum apa-apa sudah mulai tertawa. Terlebih ia paham, sang adik ibarat rajanya mab*ok kendaraan berkaki lebih dari dua jika itu untuk perjalanan jauh.


Jika memakai motor, Azzam memang bisa mengarungi perjalanan jarak jauh dengan aman. Namun jika menggunakan mobil apalagi kendaraan umum sekelas bus patas, Azzam bisa mab*ok parah dan berakhir diinfus. Masalahnya andai Azzam naik motor, mas Aidan tidak tega membiarkan itu terjadi. Cilacap ke Yogyakarta terbilang jauh.


“Ya mau gimana lagi, Mas? Kangen. Mamah bilang, dua minggu sekali ketemu oke.”


“Ya maksudnya kan sekarang kalau sore sampai malam sering hujan, Mas Azzam,” balas mas Aidan tetap khawatir.


“Ya makanya aku mau pinjam mantel Mas. Mas bawa mantel, kan?” balas Azzam, tapi mas Aidan langsung menggeleng.


“Kalau mau ke Yogyakarta bawa mobil Akala saja. Jangan bawa motor, ngeri bayanginnya apalagi kamu bukan anak motor!” balas mas Aidan yang kali ini berucap tegas.


“Iyalah Mas, aku memang bukan anak motor. Aku kan anaknya ibu Arum dan papah Kalandra!” balas Azzam menggerutu layaknya bocah yang sedang merajuk.


“Nanti kamu pakai mobil Akala, soalnya Mas juga pakai motor. Nanti Akala biar pulang pakai motor kamu. Akala bawa Nina. Nah Ojan, Mas yang bawa. Sudah jangan alasan, belajar perjalanan jauh pakai mobil karena ke depannya pun, kamu akan lebih sering ke Yogyakarta. Ndari masih lama di sana, kan? Pelan-pelan, Mas!” Mas Aidan masih berucap tegas dan memang tidak menerima bantahan.


“Mas, nanti aku dirempet saja. Aku duduk di tengah, takutlah kalau dibonceng dari sini ke rumah, kan ibarat perjalanan jauh juga. Gini-gini aku kan masih bujang, Mas. Takut di ji*lat seta*n cewek atau malah set*an waria di tengah perjalanan!” heboh Ojan mendadak ketakutan.


“Innalilahi, kamu yah, Jan. Bisa-bisanya mikir gitu sementara nyamuk saja kalau mau nempel ke kamu pilih-pilih dan sampai enggak jadi!” semprot Azzam.


“Nyamuk enggak bakalan gigit aku karena mereka tahu, darahku darah suci, Jam!” yakin Ojan.


Azzam hanya menggeleng sambil melirik sinis Ojan.


“Ya sudah, Dek, kasih kunci mobilmu ke Mas Azzam. Mas Azzam juga kasih kunci motornya ke Akala,” ucap mas Aidan.


Akala dan Azzam langsung nurut-nurut saja bertukar kunci kendaraan.


“Tapi nanti beneran yah, Mas, aku duduknya di depan. Kayak kalau dibonceng Sepri itu loh. Takut dij*ilat se*tan!” bawel Ojan.


Akala dan Nina langsung tertawa. Lain dengan Azzam yang makin geregetan kepada Ojan.