Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
73 : Perubahan Luar Biasa


“Kamu belum tidur, Jan?”


“Aku lagi demam, Jam. Namun karena aku belum punya istri, demam pun rawat sendiri. Masak urusan mbak Septi, makan ibarat suka-suka hati, tapi nyuci baju masih jadi urusannya mbak Septi. Eh tapi kok aku jadi nyanyi dangdut gini?”


Walau di seberang, Ojan yang suaranya berat sekaligus gemetaran jadi sibuk tertawa, Azzam yang sudah ada di depan klinik keluarga Ojan, hanya mendengkus kesal. Walau ketika ia bertemu Ojan secara langsung di ruang tamu selaku ruang pertama di rumah keluarga Ojan yang juga satu rumah dengan Sepri, Azzam langsung istighfar.


“Astaghfirulaah innalillahi Jan, ngapain kamu nempelin pembalut di jidat kamu?!” ucap Azzam sudah langsung tidak bisa berkata-kata.


“Pembalut apaan, Zam? Ini plester kompres yang bungkusnya pink biar demamku cepat turun. Itu plester kompres buat orang dewasa, kan?” ucap Ojan.


“Ah kamu makin enggak waras. Sudah sini bagi penbalutnya, itu si Nina butuh, sementara di klinik juga kosong!” semprot Azzam.


“Oh si Nina demam juga?” kepo Ojan yang kemudian berkata, “Itu pasti gara-gara digeber terus sama Akala, makanya Nina tak berdaya dan berakhir demam juga!”


“Sudah, sudah, terserah kamu. Sekarang tolong kasih satu bungkus buat aku. Bungkus yang gede yang isinya masih banyak!” ucap Azzam.


“Jangan banyak-banyak lah, Jam. Nanti operdosis!” yakin Ojan.


“Alllahhh!” sebal Azzam tak segan menepuk pembalut yang menempel di jidat Ojan.


“Jam, plester kompresnya lengket-lengket gimana gitu!” keluh Ojan.


Detik itu juga Azzam sudah langsung sibuk tertawa. Bahkan meski ia sudah ada di depan Akala, ia sungguh sulit menyudahinya.


“Ada apa sih, Mas?” tanya Akala benar-benar penasaran.


“Yang namanya Ojan, meski lagi sakaratul maut, tetap aja lucu! Ya sudah, Mas mau beresin kerjaan dulu. Si Nina suruh rebahan saja soalnya Sundari kalau lagi dapat, juga sampai kayak sakit parah. Aku ngomong pun salah,” ucap Azzam lagi.


“Kan kalau Mas ngomong enggak cukup sekata dua kata, tapi panjang lebar sampai ke rumah tetangga,” ucap Akala benar-benar jujur, tapi Azzam sudah langsung memelototinya.


Di dalam kamar, Nina masih meringkuk kesakitan. Ia memergoki Akala yang benar-benar membawa pembalut dari Azzam dan berarti itu pembalut koleksi Ojan yang bersayap, berekor, bahkan bertaring.


“Ayo aku antar ke kamar mandi,” ucap Akala yang kemudian membopong Nina.


“Tuh, tembus di selimut, Mas,” rengek Nina.


“Enggak apa-apa, besok dicuci,” balas Akala dengan entengnya.


“Kalau dulu aku benar-benar sendiri bahkan dalam berjuang, sekarang aku jadi serba diurusi,” batin Nina. “Kalau begini terus, sepertinya akan jauh lebih mudah mencintai sekaligus membalas mas Akala. Aku pasti bisa jadi pasangan baik juga layaknya para wanita di rumah ini,” yakin Nina yang sampai detik ini masih serba berbicara dalam hati.


Setelah beres membersihkan diri, ketika akhirnya mereka kembali ke tempat tidur, Nina juga mulai memberanikan diri untuk tidur di pangkuan Akala. Karena kebetulan, selain menjaganya dan kerap mengganti kompres botol hangat di perut Nina, Akala juga sengaja mengerjakan pekerjaan di laptop.


“Sakit banget?” lirih Akala ketika akhirnya mereka bertemu.


Akala berangsur mengangguk-angguk. “Iya. Lebih baik serba herbal. Coba besok aku tanya ke mamah apa mbah. Herbal buat datang bulan, apa?”


Nina yang refleks tersenyum juga berangsur mengangguk-angguk.


Melihat Nina yang jadi sering senyum, Akala jadi penasaran. “Kamu bahagia banget?”


Mendengar itu, Nina sudah langsung tersipu. “Masih belajar itu ....”


“Belajar yang apa?” balas Akala penasaran.


“Jadi pasangan yang baik,” jujur Nina dan lagi-lagi membuat Akala menahan senyumnya. Akala tersenyum gemas dan perlahan menunduk, menge*cup kening Nina cukup lama.


Tak seperti biasa, kali ini Nina nyaman-nyaman saja. Nina tetap tersipu dan perlahan menggunakan tangan kanannya untuk meraih wajah kiri Akala. Benar-benar kemajuan luar biasa.


“Kamu tipikal yang cepat belajar, ya?” tanya Akala yang sengaja membiarkan wajahnya tetap di atas wajah Nina. Jarak wajah mereka sangat dekat hingga mereka bisa merasakan hangatnya napas satu sama lain.


“Mas baik banget, dan semuanya kasih contoh positif. Tentu aku juga berusaha menjadi enggak kalah baik juga,” balas Nina.


Akala terkikik. “Besok kalau sakitnya sudah agak mendingan, kita ke rumah makan ya. Biasanya kalau diajak kerja, kamu jadi makin semangat!”


Mendengar itu, Nina sudah langsung tersenyum tak berdosa. “Oh iya, Mas ... kemarin ada yang nawar sawah aku. Tapi harganya masih di bawah standar. Kayaknya tuh orang tahu kalau aku ingin jual cepat tuh sawah, jadi dia sengaja mojokin jadi harga teren*dah.”


Akala menggeleng. “Jangan dulu. Ambil dengan harga terbaik saja. Toh, kita enggak kepepet uang juga. Lagipula, yang namanya tanah, makin lama harga jualnya makin tinggi, bukan malah makin mur*ah.”


“Kalau enggak, nanti pas musim tanam, ditanami saja,” ucap Akala sambil mengelus-elus kepala Nina penuh sayang.


“Mas izinin aku urus sawah, tandur dan semacamnya?” sergah Nina bersemangat.


“Ya enggak harus kamu juga yang tandur, Yang. Kamu ya. Kita mengerjakan orang saja. Orang daru desa kamu, atau dari sini juga boleh. Bisa diatur pokoknya,” yakin Akala yang kemudian berkata, “Kalau punya tabungan, buat beli-beli tanah, lokasi, itu beneran lebih untung. Ibaratnya buat investasi.”


“Bener sih, Mas. Gimana kalau habis beres kejar paket C, aku ke luar negeri, Mas? Ke Korea Selatan apa Jepang, itu gajinya gede loh, Mas. Lumayan banget pasti bisa cepat punya banyak tabungan!” sergah Nina makin bersemangat.


“Kamu enggak kekurangan uang Nin. Aku enggak izinin kamu kerja sejauh itu. Kalau kamu mau kerja, ya ayo bareng-bareng aku. Urus usaha kita. Aku bilang tabungan, itu murni kalau kita punya tabungan dari kerja keras kita. Bukan malah sampai ada adegan kamu ke luar negeri, hey!” walau awalnya mengomel, pada akhirnya Akala tetap tertawa.


Tawa yang juga menular kepada Nina. “Maaf ya, Mas. Pemikiranku melenceng jauh ....”


Paginya, Nina sudah mulai terbiasa dengan keromantisan pasangan di kediaman Akala. Meski sesekali, Nina akan kikuk sekaligus salah tingkah.


Selesai mengantar Malini, Nina yang masih kerap menahan nyeri akibat tamu bulanannya, ikut Akala ke rumah makan. Kali ini kedatangan Nina ke sana bukan untuk bekerja biasa. Karena kini, Nina sudah menjadi bos di sana. Meski tentu, yang namanya Nina masih terbiasa mengerjakan segala sesuatunya. Menyambut pembeli, mencatat pesanan, juga membuatkan pesanan. Tak jarang, Nina juga akan bersih-bersih maupun mencuci piring. Saking bersemangatnya bekerja, Nina sampai lupa dengan rasa sakitnya. Alasan yang juga membuat Akala tak berniat menyudahi ulah istrinya. Akala hanya mengawasi dari kejauhan, sambil sesekali mendekat, mengajak sang istri berkomunikasi lebih inte*ns karena biar bagaimanapun mereka masih pengantin baru.


“Benar-benar perubahan luar biasa, Nin. Selamat ya!” batin Akala tanpa mengutarakannya. Ia tak mau membuat Nina menyadari perubahannya. Karena yang ia ingin, Nina melupakan trauma itu dengan sendirinya, sebab melawan trauma memang jauh lebih berat dari melupakannya.